Tanganku gemetar ketika menyentuh gembok tua itu. Besi yang telah dipenuhi karat tersebut terasa dingin, jauh lebih dingin daripada udara siang yang menyelimuti halaman belakang rumah. Aku memandangi pintu gudang cukup lama, berharap keberanianku menghilang sehingga aku bisa kembali ke dalam rumah dan menganggap semua yang dikatakan Pak Sukar hanyalah dugaan semata. Namun semakin lama aku berdiri di sana, semakin kuat pula rasa ingin tahu yang menggerogoti pikiranku.
Aku menarik napas panjang, lalu mencoba menggoyangkan gembok itu. Suara logam tua bergesekan terdengar pelan. Aku kembali menariknya. Kali ini lebih kuat. Gembok itu ternyata tidak benar-benar terkunci. Hanya disangkutkan pada pengait kayu yang telah mulai rapuh.
Dadaku langsung berdegup lebih cepat. Mengapa Bapak melakukan itu? Kalau memang gudang ini menyimpan barang-barang biasa, mengapa harus dibuat seolah-olah tak boleh dimasuki?
Aku melepaskan gembok itu perlahan. Pintu kayu di hadapanku tetap tertutup rapat. Tanganku kembali terangkat. Kali ini mendorong daun pintu yang mulai lapuk dimakan usia.
Suara engsel tua memecah kesunyian halaman. Bau lembap segera menyergap hidungku. Bukan bau kayu lapuk ataupun bau debu. Namun aroma yang sangat asing. Campuran bunga yang mulai layu, minyak yang tengik, dan sesuatu yang sulit kujelaskan.
Aku menahan napas sejenak. Mataku perlahan menyesuaikan diri dengan remang-remang di dalam gudang. Ruangan itu jauh lebih luas daripada yang kubayangkan. Tak ada tumpukan cangkul tua. Tak ada karung padi. Tak ada peralatan pertanian seperti yang selama ini selalu diceritakan Bapak kepadaku. Sebaliknya, sebagian besar ruangan itu kosong seperti sengaja dikosongkan untuk sesuatu.
Aku melangkah perlahan. Lantai tanahnya tampak lebih bersih dibanding bagian rumah lainnya. Hampir tak terlihat jejak debu. Bahkan beberapa sudut terlihat seperti baru saja disapu. Dadaku mulai terasa sesak. Ini bukan gudang yang ditinggalkan. Seseorang masih sering masuk ke tempat ini.
Semakin jauh aku melangkah, aroma aneh itu semakin kuat. Kini aku mulai mengenalinya. Bunga tujuh rupa. Harum yang selama beberapa hari terakhir terus memenuhi kamarku.
Aku menghentikan langkah dengan jantung yang berdetak semakin keras. Mengapa bau itu berasal dari gudang ini? Pandanganku menyapu seluruh ruangan. Barulah aku menyadari bahwa di bagian paling belakang terdapat sekat kayu yang menutupi sebuah ruang kecil.
Aku mendekat. Di depan sekat itu tergantung beberapa lembar kain putih yang mulai menguning dimakan waktu. Kain-kain itu bergerak perlahan tertiup angin yang entah berasal dari mana. Aku menyingkirkannya satu per satu. Begitu kain terakhir tersibak, aku membeku.
Di tengah ruangan kecil itu berdiri sebuah peti kayu. Panjangnya hampir dua meter. Kayunya berwarna hitam kecokelatan, mengilap karena berulang kali dilap minyak. Di sekelilingnya terdapat beberapa pelita kecil yang telah padam.
Tak ada keraguan lagi. Peti itu tidak digunakan untuk menyimpan barang. Aku merasakan kedua kakiku mendadak lemas.
"Jangan ...," bisikku kepada diriku sendiri. "Jangan dibuka."
Namun pikiranku sudah tak lagi mampu mengendalikan tubuhku. Aku terus melangkah mendekat. Semakin dekat, semakin jelas kulihat benda-benda yang mengelilingi peti tersebut. Mangkuk-mangkuk tanah liat berisi minyak berwarna kekuningan. Beberapa ikat bunga yang mulai mengering. Segenggam tanah hitam yang disimpan di atas daun pisang. Dan simbol-simbol aneh yang digoreskan di lantai tanah menggunakan serbuk putih bercampur warna kemerahan.
Aku tidak mengenali bentuknya. Sebagian menyerupai lingkaran. Sebagian lagi seperti tulisan kuno yang saling bertaut membentuk pola rumit.
Bulu kudukku berdiri. Aku teringat kembali cerita Pak Sukar tentang ritual Penukar Jiwa. Tentang syarat-syarat yang harus dipenuhi. Tanganku mulai gemetar. Perlahan kusentuh permukaan peti itu. Kayunya dingin. Sangat dingin. Padahal udara di dalam gudang tidak sedingin itu.
Aku mengembuskan napas panjang, lalu meletakkan kedua tangan pada tutup peti. Seluruh tubuhku berteriak agar berhenti. Namun rasa takut telah berubah jadi kebutuhan untuk mengetahui kebenaran. Dengan sisa tenaga yang kumiliki, perlahan kudorong tutup peti itu. Kayunya bergeser beberapa senti. Bau bunga tujuh rupa langsung menyeruak memenuhi ruangan.
Aku kembali mendorong. Sedikit lagi. Sedikit lagi. Sampai akhirnya, celah itu cukup lebar untuk memperlihatkan isi di dalamnya.
Napasku seketika terhenti. Di balik peti kayu itu, terbaring seorang perempuan mengenakan kain putih bersih. Rambut hitamnya tersisir rapi di kedua sisi wajah. Kulitnya pucat. Namun sama sekali tidak membusuk. Seolah ia baru saja memejamkan mata beberapa jam yang lalu.
Aku mengenali wajah itu. Wajah yang selama ini hanya kulihat melalui foto-foto lama.