Tangis Bapak berlangsung lama. Aku tetap berdiri di tempatku karena tak sanggup mendekat, tetapi juga tak punya kekuatan untuk pergi. Gudang itu kembali diselimuti kesunyian yang begitu pekat hingga suara isak tangis beliau terdengar memenuhi setiap sudut ruangan. Aroma bunga tujuh rupa masih menggantung di udara. Nyala pelita yang hampir padam menari pelan diterpa angin yang masuk melalui celah-celah dinding kayu.
Di dalam peti itu, Ibu tetap terbaring dengan damai. Seolah semua percakapan kami sama sekali tidak mengusik tidurnya.
Beberapa saat kemudian, Bapak mengusap wajahnya sendiri menggunakan lengan baju. Beliau menarik napas panjang berkali-kali, berusaha menenangkan dirinya.
"Bapak sudah berjanji," ucapnya lirih tanpa menatapku, "kalau hari ini tiba, bapak tidak akan lagi berbohong kepadamu."
Aku menggigit bibir. Sejak kecil aku selalu percaya bahwa Bapak adalah orang paling jujur yang pernah kukenal. Beliau tidak pandai merangkai kata-kata. Tidak pernah memanjakanku dengan janji-janji indah. Namun setiap ucapan yang keluar dari mulutnya selalu jadi sesuatu yang bisa kupercaya. Kini, kepercayaan itu terasa runtuh sedikit demi sedikit.
"Bapak …." Suaraku nyaris tak terdengar. "Siapa sebenarnya Bapak?"
Beliau tersenyum tipis. Itu senyum seorang lelaki yang sudah terlalu lama bersembunyi di balik wajah orang lain.
"Aku tetap bapakmu."
Jawaban itu terdengar sederhana. Namun entah mengapa justru membuat dadaku semakin sesak.
"Dan …," beliau memandang peti kayu di hadapannya, "bapak juga seorang pendosa."
Ruangan kembali sunyi. Beliau mengusap perlahan sisi peti, seolah sedang berbicara kepada seseorang yang berada di dalamnya.
"Bapakmu ini pernah belajar ilmu yang seharusnya tidak pernah disentuh manusia."
Aku memejamkan mata sesaat. Kalimat itu tidak lagi mengejutkanku. Setelah semua yang kulihat beberapa hari terakhir, pengakuan itu justru terasa seperti kepingan terakhir dari teka-teki yang mulai utuh.
"Jadi... semua ritual itu memang dilakukan Bapak?"
Beliau mengangguk pelan.
"Iya."
Tak ada bantahan. Tak ada alasan. Hanya satu jawaban yang diucapkan dengan begitu tenang.
Aku menelan ludah. "Kenapa?"
Bapak menatapku lurus-lurus. Tatapan beliau tidak lagi dipenuhi rahasia. Yang kulihat hanyalah rasa lelah dan penyesalan yang begitu dalam.
"Ibumu jatuh sakit." Suara beliau terdengar jauh seperti sedang kembali mengingat masa yang telah lama berlalu. "Waktu itu kamu masih sangat kecil. Usiamu bahkan belum genap dua tahun."
Aku mencoba mengingat. Namun seperti kebanyakan kenangan masa kecil, semuanya hanya berupa bayangan-bayangan kabur yang tak berbentuk.
"Awalnya hanya demam," lanjut beliau. "Semua orang mengira penyakit biasa. Tapi setiap hari kondisinya semakin buruk."
Beliau menundukkan kepala.
"Dokter tidak menemukan penyebabnya. Tabib juga tidak. Satu per satu kami datangi. Semua berkata hal yang sama."
Beliau berhenti. Tangannya kembali menggenggam sisi peti.
"Mereka tidak sanggup menolong."
Aku menatap wajah Ibu yang tetap tenang di dalam peti. Sulit membayangkan perempuan yang terlihat begitu damai itu pernah berjuang melawan penyakit yang tak mampu dipahami siapa pun.
"Bapak tidak menyerah." Suara Bapak mulai bergetar. "Bapak menjual sawah. Menjual kerbau. Meminjam uang ke mana-mana. Yang penting ibumu bisa sembuh."
Air mata kembali memenuhi kedua matanya.
"Tapi setiap kali bapak pulang, keadaan ibumu justru semakin memburuk."
Aku bisa merasakan keputusasaan yang perlahan memenuhi setiap kata yang beliau ucapkan. Bukan sekadar cerita. Beliau seperti sedang menghidupkan kembali luka yang tak pernah benar-benar sembuh.