TUSELAK

Marion D'rossi
Chapter #25

Lontar Pertama

Pagi itu datang tanpa membawa ketenangan. Semalaman aku tidak tidur. Setiap kali memejamkan mata, bayangan Ibu yang terbaring di dalam peti kayu kembali hadir begitu jelas. Wajahnya yang tak berubah sedikit pun sejak belasan tahun lalu terasa jauh lebih mengerikan daripada mayat yang telah membusuk. Kematian seharusnya menghapus kehidupan, tetapi seseorang telah memaksa tubuh itu tetap bertahan melawan hukum alam.

Dan seseorang itu adalah ayahku sendiri.

Aku terduduk di serambi rumah ketika matahari baru merayap di balik pucuk-pucuk kelapa. Kabut tipis masih menggantung di atas sawah, membuat hamparan hijau di kejauhan tampak seperti lautan yang diselimuti asap putih.

Biasanya, pagi selalu jadi waktu yang paling kusukai. Suara ayam berkokok. Aroma tanah yang masih basah oleh embun. Derit roda pedati yang melintas di jalan kampung. Namun pagi itu, semuanya terasa asing. Rumah yang kutinggali sejak kecil tak lagi memberiku rasa aman. Setiap sudutnya menyimpan rahasia. Setiap dindingnya seolah jadi saksi bisu dari dosa yang telah dipelihara bertahun-tahun.

Pintu rumah berderit pelan. Aku menoleh. Bapak keluar tanpa membawa cangkul seperti biasanya. Beliau hanya mengenakan baju lusuh berwarna cokelat dengan kain sarung yang dililitkan di pinggang. Wajahnya terlihat jauh lebih tua dibanding beberapa hari lalu. Garis-garis kelelahan semakin nyata menghiasi pelipisnya.

Kami saling bertatapan. Tidak ada satu pun dari kami yang membuka percakapan. Setelah pengakuan di gudang semalam, rasanya semua kata telah kehilangan maknanya. Beliau melangkah mendekat, lalu berhenti beberapa langkah di depanku.

"Bapak akan pergi." Suaranya datar.

"Ke mana?"

"Ada urusan."

Aku tak lagi bertanya. Aku tahu beliau tidak akan memberikan jawaban yang sebenarnya. Beliau mengangguk pelan sebelum berbalik meninggalkan halaman. Aku terus memandangi punggungnya hingga menghilang di tikungan jalan. Pada akhirnya, aku merasa ayahku benar-benar berjalan sendirian.

 

Tak lama setelah matahari mulai meninggi, suara ketukan terdengar dari depan rumah.

Tok... Tok... Tok...

Aku segera membuka pintu. Pak Sukar berdiri di sana. Tampaknya, luka di bahunya masih dibalut kain putih, tetapi wajahnya terlihat jauh lebih segar dibandingkan beberapa hari lalu. Meski tubuhnya belum benar-benar pulih, sorot matanya kembali menyimpan ketegasan yang selama ini jadi sandaranku.

Beliau tidak langsung masuk.

"Bapakmu?"

"Sudah pergi."

"Ke mana?"

"Wati tidak tahu."

Pak Sukar mengembuskan napas panjang. "Itu berarti waktu kita tidak banyak."

Aku mengernyit. "Maksudnya?"

Beliau menoleh ke arah jalan kampung, memastikan tak ada seorang pun yang menguping pembicaraan kami.

"Arsyad sudah tidak akan tinggal diam."

Nada suaranya terdengar lebih berat daripada biasanya. "Setelah semalam kamu mengetahui semuanya, dia pasti sadar bahwa rahasianya tidak mungkin lagi disembunyikan."

Aku menelan ludah. "Apakah Bapak mengira beliau akan mengejar kita?"

"Bukan mengira." Pak Sukar menggeleng perlahan. "Saya yakin."

Kalimat itu membuat udara pagi mendadak terasa lebih dingin.

Beliau melanjutkan, "Mulai hari ini kita tidak lagi berlomba melawan waktu."

"Lalu?"

"Kita berlomba melawan ayahmu."

Dadaku berdesir. Kalimat itu jauh lebih menakutkan daripada ancaman Tuselak yang pernah menyerang kami di hutan. Karena musuh yang kini harus kuhadapi adalah darah dagingku sendiri.

Pak Sukar membuka buntalan kain yang sedari tadi disandang di bahunya. Di dalamnya terdapat keris peninggalan Bogeng Samil yang telah beberapa kali menyelamatkan kami. Sarung kayunya tampak semakin kusam, tetapi ukiran-ukiran halus di permukaannya masih terlihat jelas.

Beliau menyelipkannya kembali ke pinggang.

"Lontar pertama harus kita temukan hari ini."

Lihat selengkapnya