TUSELAK

Marion D'rossi
Chapter #26

Pemburu Bebai

Perjalanan pulang terasa jauh lebih sunyi daripada saat kami berangkat. Lontar pertama kini tersimpan rapi di dalam buntalan kain yang disandang Pak Sukar. Meski hanya berupa beberapa lembar daun tua yang dipenuhi aksara kuno, beban yang dibawanya seolah jauh lebih berat daripada sebilah keris peninggalan Bogeng Samil.

Sepanjang jalan, aku terus memikirkan simbol yang kulihat di atas lontar itu. Lingkaran. Delapan garis. Akar yang saling menjalar. Simbol yang sama persis dengan guratan di lantai gudang rumahku. Berarti Bapak benar-benar telah menemukan sebagian isi ritual itu. Atau beliau memperoleh pengetahuan tersebut dari seseorang yang juga memiliki bagian lontar lainnya.

Pikiran itu membuat langkahku terasa semakin berat. Pak Sukar berjalan beberapa langkah di depanku. Sesekali beliau memandang ke kanan dan kiri, memperhatikan setiap gerakan dedaunan yang bergoyang diterpa angin. Beliau tampak jauh lebih waspada dibanding biasanya.

Aku mempercepat langkah.

"Pak."

Beliau menoleh tanpa menghentikan langkahnya.

"Kalau lontarnya terbagi menjadi tiga bagian, berarti orang yang membantu Bapak pasti juga sedang mencarinya, bukan?"

Pak Sukar mengangguk pelan. "Itulah yang paling saya khawatirkan. Mereka tidak akan berhenti. Selama ritual itu belum sempurna, mereka akan terus berburu."

"Berburu lontar?"

"Bukan hanya lontar." Beliau memandang lurus ke depan. "Mereka juga akan memburu siapa pun yang masih memiliki hubungan dengan darah bebai."

Aku terdiam. Kalimat itu terasa begitu dekat.

 

Saat matahari mulai condong ke barat, jalan tanah menuju Kayu Jati akhirnya terlihat di hadapan kami. Namun sesuatu terasa berbeda. Biasanya, anak-anak akan berlarian di sekitar balai bambu. Para petani mulai pulang sambil memanggul cangkul di bahu. Suara ibu-ibu bercakap di depan rumah akan terdengar saling bersahutan. Hari itu kampung justru dipenuhi keheningan yang ganjil. Beberapa pintu rumah tertutup rapat. Orang-orang berdiri bergerombol di kejauhan sambil berbisik-bisik. Tak seorang pun tampak tersenyum. Pak Sukar memperlambat langkah.

"Ada yang terjadi."

Aku mengikuti arah pandang beliau. Di tengah lapangan kecil dekat pohon jati tua, beberapa ekor kuda diikat pada batang pohon. Di sampingnya berdiri empat lelaki berpakaian serba hitam. Mereka bukan warga Kayu Jati. Hal itu dapat kulihat dari pakaian mereka. Masing-masing mengenakan rompi kulit berwarna gelap yang dihiasi sulaman benang merah membentuk lambang matahari. Di pinggang mereka tergantung golok pendek dan kantong-kantong kecil dari kulit binatang. Wajah mereka tampak keras. Tatapan mereka lebih menyerupai pemburu daripada pengembara.

Di antara keempat orang itu berdiri seorang lelaki yang usianya mungkin tak jauh di atasku. Tubuhnya tegap. Rambutnya diikat ke belakang. Kulitnya sedikit lebih gelap karena terbakar matahari. Ia mengenakan ikat kepala hitam dengan sehelai bulu burung berwarna putih terselip di sisinya. Meski masih muda, sikapnya membuat keempat lelaki lain berdiri dengan penuh hormat. Aku bisa menebak bahwa dialah pemimpin mereka.

"Belian," gumam Pak Sukar, nyaris tak terdengar.

Aku menoleh. "Bapak mengenalnya?"

Pak Sukar menggeleng. "Tidak. Tapi saya mengenali lambang itu."

Beliau menunjuk sulaman merah di dada rompi mereka.

"Itu lambang para pemburu tuselak."

Dadaku langsung berdebar.

"Pemburu?"

Pak Sukar mengangguk. "Mereka tidak hidup menetap. Mereka berpindah dari satu daerah ke daerah lain. Mencari setiap jejak ilmu hitam. Memburu belian sesat. Memburu tuselak."

Beliau berhenti sejenak.

"Lalu membinasakannya."

Lihat selengkapnya