Senja turun dengan warna yang ganjil. Langit di atas Kayu Jati tidak lagi berpendar jingga seperti biasanya, melainkan diselimuti semburat merah kusam yang membuat seluruh kampung seolah tenggelam dalam cahaya darah. Aku berdiri di balik jendela rumah, memandangi jalan tanah yang membelah perkampungan. Sejak kedatangan Raksa dan kelompok Pemburu Bebai pagi tadi, suasana kampung berubah begitu cepat. Terlalu cepat malah. Tak ada lagi sapaan ramah yang biasa terdengar ketika seseorang melintas. Tak ada lagi anak-anak yang berlarian di pematang sawah.
Pintu-pintu rumah tertutup rapat. Jendela-jendela hanya terbuka sedikit, cukup untuk sepasang mata mengintip tanpa terlihat. Orang-orang mulai takut. Namun ketakutan selalu mencari seseorang untuk disalahkan. Aku baru menyadarinya ketika dua perempuan melewati halaman rumah sambil membawa keranjang sayur. Mereka tidak mengetahui aku sedang berdiri di balik tirai.
"Kau dengar kata belian itu?"
Suara yang pertama terdengar lirih.
"Tentang darah bebai?"
Perempuan di sampingnya mengangguk cepat.
"Aku juga dengar. Lalu katanya perempuan itu masih tinggal di kampung ini."
"Siapa?"
"Aku tidak tahu."
"Tapi pasti bukan orang biasa."
Mereka berhenti berjalan. Salah satunya menoleh ke arah rumahku. Entah disengaja atau tidak. Aku refleks mundur beberapa langkah. Suara perempuan itu kembali terdengar.
"Kalau dipikir-pikir, sejak Arsyad tinggal di sini, kampung kita memang tidak pernah benar-benar tenang."
Yang lain mengangguk.
"Istrinya meninggal aneh."
"Mahram mati. Bowo mati."
"Lalu sekarang muncul Tuselak."
"Jangan-jangan …," perempuan itu merendahkan suaranya, "semua berasal dari rumah itu."
Langkah mereka perlahan menjauh. Namun setiap kata yang mereka tinggalkan terasa jauh lebih berat daripada batu. Aku menutup jendela perlahan. Dadaku kembali dipenuhi sesak. Baru beberapa jam berlalu, rumor telah mulai hidup dengan caranya sendiri.
Malam belum benar-benar tiba ketika Pak Sukar datang. Beliau masuk tanpa mengetuk. Wajahnya tampak jauh lebih tegang dibanding biasanya.
"Kita tidak punya banyak waktu."
Aku segera berdiri. "Ada apa?"
"Mereka mulai bergerak."
"Mereka siapa?"
"Warga."
Beliau memandang ke luar melalui celah pintu.
"Saya baru dari balai kampung. Raksa tidak pernah menyuruh mereka membakar rumahmu. Tetapi …," beliau mengembuskan napas panjang, "ketakutan manusia sering kali lebih berbahaya daripada perintah siapa pun."
Aku merasakan tenggorokanku mengering.
"Mereka percaya semua musibah berasal dari keluargamu."
Aku memejamkan mata.
Ternyata benar. Rumor itu menyebar lebih cepat daripada angin. Pak Sukar kembali berkata, "Mereka mulai mengatakan ayahmu penyebar santet. Mereka juga menyebut saya kaki tangan dukun."
Beliau tersenyum pahit.
"Lucunya tak seorang pun bertanya apakah semua itu benar."
Aku tidak mampu menjawab. Karena aku tahu, dalam keadaan takut, manusia tidak membutuhkan kebenaran. Mereka hanya membutuhkan alasan.
Tak lama kemudian, suara gaduh mulai terdengar dari kejauhan. Mula-mula hanya samar. Seperti puluhan orang sedang berbicara bersamaan. Namun perlahan suara itu semakin jelas. Semakin dekat. Aku dan Pak Sukar saling berpandangan. Beliau segera memadamkan lampu minyak. Ruangan mendadak gelap.
"Dengarkan," bisiknya.