Kami terus berlari hingga suara riuh dari kampung tak lagi terdengar. Api yang melalap rumahku perlahan berubah jadi semburat merah di balik pepohonan. Asap hitam masih membubung ke langit malam, tampak seperti tangan-tangan raksasa yang berusaha meraih bulan. Aku beberapa kali menoleh. Meski rumah itu telah jadi abu, sebagian diriku masih tertinggal di sana. Kenangan masa kecil. Tawa Ibu yang hanya tersisa dalam ingatan. Suara Bapak yang setiap pagi membangunkanku untuk membantu di sawah. Kini semuanya lenyap. Yang tersisa hanya bara.
Pak Sukar terus menarik tanganku melewati semak belukar yang semakin rapat. Napasku mulai memburu. Kaki terasa berat setelah berlari tanpa henti melewati akar-akar pohon yang mencuat dari tanah.
"Kita istirahat sebentar."
Beliau akhirnya berhenti di bawah pohon beringin yang begitu besar hingga ranting-rantingnya menutupi cahaya bulan. Aku bersandar pada batangnya. Dada masih naik turun. Suara jangkrik kembali memenuhi telinga setelah sekian lama tenggelam oleh teriakan manusia dan gemuruh api. Kali ini aku benar-benar merasa sendirian.
"Aku tidak punya rumah lagi." Kalimat itu keluar begitu saja.
Pak Sukar tidak langsung merespons. Beliau membuka buntalan kain yang sejak tadi dibawanya. Lontar pertama masih tersimpan rapi di dalamnya. Setelah memastikan benda itu tidak rusak, beliau mengikatnya kembali.
"Rumah bukan hanya bangunan," ucapnya pelan.
Aku tersenyum hambar. "Kalau begitu aku juga kehilangan keluarga."
Pak Sukar menatapku cukup lama. Sorot matanya dipenuhi rasa iba.
"Arsyad masih bapakmu."
Aku menggeleng perlahan. "Bapak seperti apa yang lebih memilih peti jenazah daripada anaknya sendiri?"
Pertanyaan itu menggantung di antara kami. Pak Sukar masih terdiam. Mungkin karena beliau sendiri tak memiliki jawaban yang mampu mengurangi luka di hatiku.
Angin malam berembus lembut. Membawa aroma dedaunan basah bercampur tanah yang baru saja diguyur embun. Di kejauhan terdengar lolongan seekor anjing hutan. Disusul suara burung malam yang melintas rendah di antara pepohonan.
Pak Sukar tiba-tiba mengangkat tangan. Memberi isyarat agar aku diam.
"Ada apa?" bisikku.
Beliau tidak menjawab. Tatapannya tertuju ke arah semak-semak di depan kami. Aku ikut memandang ke sana. Mula-mula tak kulihat apa pun, lalu daun-daun pakis itu bergerak perlahan karena sesuatu sedang berjalan di baliknya.
Suara ranting patah terdengar pelan. Disusul satu lagi. Lalu beberapa langkah lain dari arah berbeda. Bulu kudukku seketika berdiri. Pak Sukar mencabut keris Bogeng Samil. Kilatan bilahnya tampak redup di bawah cahaya bulan yang tersaring dedaunan.
"Keluarlah." Suara beliau terdengar tenang. "Tidak perlu bersembunyi."
Keheningan menyelimuti hutan. Beberapa detik berlalu tanpa jawaban. Kemudian satu sosok perlahan muncul dari balik pepohonan. Tubuhnya kurus. Pakaiannya compang-camping. Kulitnya pucat keabu-abuan. Rambutnya menjuntai menutupi sebagian wajah.
Aku spontan mundur selangkah. Tuselak. Namun sebelum rasa takutku sempat memuncak, sosok lain kembali muncul. Lalu satu lagi. Kemudian dua lagi. Mereka berdiri terpencar di antara batang-batang pohon.
Ada laki-laki tua. Ada perempuan. Bahkan seorang anak kecil yang usianya mungkin tak lebih dari sepuluh tahun. Jumlah mereka semakin banyak. Sepuluh. Belasan. Hampir dua puluh orang. Semuanya memiliki ciri yang sama. Kulit pucat. Tatapan kosong. Gerakan tubuh yang terasa kaku.
Aku menggenggam ujung baju Pak Sukar tanpa sadar. Beliau tetap berdiri di depanku untuk melindungi.
Aneh. Tak satu pun dari mereka menyerang. Sebab tak ada desisan. Tak ada geraman. Tak ada mata merah seperti Tuselak yang pernah mengejarku. Mereka hanya berdiri sambil memandang kami dalam diam. Beberapa bahkan tampak saling berpegangan tangan. Seperti sekelompok pengungsi yang tersesat jauh ke dalam hutan. Jantungku berdetak semakin cepat.
"Apa …," bisikku pelan, "mereka semua Tuselak?"
Pak Sukar tidak mengalihkan pandangan.
"Iya. Tapi," beliau merendahkan kerisnya perlahan, "ada sesuatu yang berbeda."
Aku mulai memperhatikan mereka dengan lebih saksama. Wajah-wajah itu tak lagi sepenuhnya menyerupai monster. Justru dipenuhi kelelahan. Kesedihan. Dan ketakutan yang begitu dalam. Di antara mereka, seorang perempuan tua memeluk anak kecil yang terus bersembunyi di balik tubuhnya. Seorang lelaki bertubuh kurus tampak menopang rekannya yang pincang. Pemandangan itu terasa ganjil. Benar-benar ganjil.
Sejak pertama kali mendengar tentang Tuselak, aku selalu membayangkan mereka sebagai makhluk haus darah yang tak mengenal belas kasihan. Namun kelompok di hadapanku lebih menyerupai manusia yang kehilangan tempat pulang. Lalu dari barisan paling belakang, seseorang melangkah maju. Perempuan itu mengenakan kebaya lusuh yang telah robek di beberapa bagian. Rambutnya terurai panjang. Kulitnya memang jauh lebih pucat daripada manusia biasa. Namun wajah itu …, aku mengenalinya.