TUSELAK

Marion D'rossi
Chapter #29

Keturunan Mursila

Ucapan Bu Hamidah terus terngiang di kepalaku.

Kamu adalah harapan terakhir kami.

Kalimat itu terdengar terlalu berat untuk dipikul seseorang sepertiku. Aku hanyalah gadis kampung yang beberapa minggu lalu masih menghabiskan pagi dengan menimba air dan membantu bapakku di sawah. Kini, tanpa pernah kuminta, nasib begitu banyak orang seolah digantungkan pada darah yang bahkan tak pernah kupilih memilikinya.

Perjalanan kami berlanjut ketika malam semakin larut. Kelompok Tuselak tidak ikut berjalan bersama kami. Mereka tetap tinggal di dalam hutan, bersembunyi di balik rimbunnya pepohonan yang telah lama jadi tempat perlindungan mereka dari manusia.

Sebelum berpisah, Bu Hamidah hanya berpesan agar kami tidak kembali melalui jalan utama.

"Pemburu Bebai sedang menyisir hutan sebelah timur," bisiknya. "Mereka mulai memasang perangkap."

Pak Sukar mengangguk. Beliau tak banyak bertanya. Seolah telah memahami bahwa para Tuselak memiliki cara sendiri untuk mengetahui apa yang terjadi di dalam hutan.

Kami memilih jalur yang lebih sempit, yang tanahnya jauh lebih lembap. Dipenuhi akar-akar besar yang mencuat dari permukaan bumi seperti ular-ular raksasa yang sedang tertidur.

Kabut turun perlahan menyelimuti pepohonan hingga batas pandang hanya beberapa depa. Suasana hutan jadi jauh lebih sunyi. Tidak ada lolongan. Tidak ada suara burung malam. Bahkan desir angin pun seolah enggan melewati tempat itu.

Pak Sukar tiba-tiba menghentikan langkah. Aku yang berjalan di belakang, hampir saja menabrak punggungnya.

"Ada apa, Pak?" bisikku.

Beliau mengangkat telunjuk ke depan bibir sebagai isyarat memintaku diam. Aku pun menahan napas. Mula-mula tak terdengar apa pun. Namun beberapa saat kemudian, suara langkah kaki perlahan muncul dari balik kabut.

Sepasang langkah yang terdengar mantap. Tenang. Tidak terburu-buru. Seolah pemiliknya sama sekali tidak takut bertemu siapa pun di tengah hutan pada malam hari begini.

Pak Sukar menggenggam gagang keris.

"Siapa di sana?"

Suara beliau menggema pelan di antara batang-batang pohon.

Langkah itu berhenti. Kabut di hadapan kami perlahan terbelah. Sesosok lelaki muda muncul dari balik tirai putih tersebut. Usianya mungkin tidak jauh berbeda dengan Raksa. Tubuhnya tinggi dan ramping. Ia mengenakan jubah hitam panjang yang bagian ujungnya hampir menyentuh tanah. Tidak ada hiasan mencolok pada pakaiannya. Hanya sulaman benang keemasan di kedua ujung lengan yang membentuk pola menyerupai sulur-sulur tanaman. Rambutnya panjang sebahu dan tergerai rapi. Kulitnya pucat. Tidak pucat seperti orang sakit, tapi pucat yang membuatnya tampak seolah jarang sekali tersentuh cahaya matahari. Yang paling mencolok adalah matanya. Sepasang mata berwarna cokelat tua dengan sorot yang begitu tenang. Tatapan itu mengingatkanku pada permukaan danau tanpa riak. Namun menyimpan kedalaman yang tak dapat diterka.

"Akhirnya," lelaki itu tersenyum tipis, "aku bertemu juga dengan keturunan Bogeng Samil."

Pak Sukar tidak menurunkan kerisnya.

"Siapa kau?"

Lelaki itu membungkukkan badan sedikit. Gerakannya sopan. Bahkan nyaris anggun.

"Aku memiliki banyak nama. Tetapi …," ia menatap lurus ke arah kami, "orang-orang lebih mengenalku sebagai Raka."

Nama itu terdengar biasa. Namun entah mengapa, hawa di sekelilingku mendadak berubah lebih dingin.

Pak Sukar mengamati wajahnya cukup lama.

"Aku tidak mengenalmu."

"Tentu saja." Raka tersenyum semakin lebar. "Karena kita memang belum pernah bertemu."

Ia mendekat satu langkah. Kabut perlahan bergerak mengikuti tubuhnya.

"Aku tidak datang untuk bertarung."

"Kalau begitu," Pak Sukar tetap waspada, "untuk apa kau mencari kami?"

Lelaki itu mengalihkan pandangannya kepadaku. Tatapan kami bertemu. Aku merasakan bulu kudukku berdiri tanpa sebab yang jelas. Tidak ada kebencian dalam matanya. Tidak pula amarah. Yang kulihat justru sesuatu yang jauh lebih mengganggu, yaitu kekaguman. Seolah ia sedang memandang benda yang telah lama dicarinya.

"Jadi," gumamnya pelan, "inikah darah bebai itu."

Aku spontan mundur setapak. Pak Sukar bergeser, menempatkan dirinya di antara kami.

"Jangan menatap Wati seperti itu!"

Raka terkekeh pelan. "Tenang saja. Aku tidak berniat menyakitinya."

Kalimat itu tidak membuatku merasa lebih aman. Justru sebaliknya. Karena cara ia mengucapkannya terdengar begitu tulus hingga sulit ditebak apa yang sebenarnya sedang dia pikirkan.

Lihat selengkapnya