Aku tidak pernah melihat Pak Sukar kehilangan ketenangannya. Sejak pertama kali beliau datang ke rumahku, lelaki tua itu selalu tampak seperti batu karang yang tetap tegak meski dihantam ombak sebesar apa pun. Bahkan ketika dikejar Tuselak, menghadapi Raksa, ataupun menyaksikan rumahku terbakar, sorot matanya tak pernah benar-benar goyah. Namun malam itu, untuk pertama kalinya kulihat kedua tangannya gemetar. Beliau terus membolak-balik buntalan kain yang kini kosong. Lontar pertama benar-benar telah lenyap.
"Tidak mungkin," bisiknya lirih. "Tidak mungkin secepat itu."
Aku masih menatap tempat Raka terakhir berdiri. Kabut perlahan mulai menipis. Pepohonan kembali terlihat jelas. Tidak ada siapa-siapa. Seolah lelaki itu memang tidak pernah hadir. Namun kehilangan lontar itu membuktikan bahwa semua yang baru saja kami alami bukanlah khayalan.
Pak Sukar menutup kedua matanya sesaat. Raut wajahnya dipenuhi penyesalan.
"Saya lengah." Beliau mengepalkan kain kosong itu begitu erat hingga buku-buku jarinya memutih. "Seharusnya saya sudah menduga."
Aku berusaha menenangkan napasku sendiri.
"Dia pasti menuju Bapak." Kalimat itu keluar tanpa sempat kupikirkan.
Pak Sukar membuka mata. Tatapan kami bertemu. Beliau tampaknya memikirkan hal yang sama.
"Kalau Raka telah mendapatkan lontar, maka yang tersisa hanyalah jasad ibumu."
Aku merasakan dadaku kembali dihimpit kecemasan. Peti itu. Sejak rumah terbakar, Bapak membawa peti berisi tubuh Ibu entah ke mana. Dan kini, Raka mengetahui semuanya.
"Kita harus menemukannya," kataku cepat.
Pak Sukar mengangguk pelan. "Tapi kita tidak boleh bergerak tanpa berpikir. Raka ingin kita panik. Orang yang panik selalu terlambat mengambil keputusan."
Beliau memandang langit di sela-sela dedaunan.
"Bila dugaan saya benar, Arsyad pasti mendatangi tempat yang pernah digunakan untuk menjalankan ritual."
Aku mengingat setiap tempat yang pernah kulihat bersama Bapak. Gudang. Makam. Lalu tiba-tiba sebuah tempat terlintas di benakku.
"Gubuk tua di lereng bukit."
Pak Sukar langsung menoleh.
"Saya pernah melihat Bapak pergi ke sana. Waktu itu saya pikir beliau hanya mencari kayu bakar. Tetapi," aku menggigit bibirku sendiri, "beliau pulang menjelang subuh."
Pak Sukar mengangguk pelan. "Itu cukup. Kita ke sana."
Perjalanan menuju lereng bukit jauh lebih sunyi dibanding jalur yang kami lewati sebelumnya. Kabut masih menggantung rendah. Tanah yang basah membuat setiap langkah kami nyaris tak bersuara. Tak ada seorang pun berbicara. Masing-masing larut dalam pikiran kami sendiri. Aku terus membayangkan Bapak. Aku berharap beliau tidak menemukan apa yang selama ini dicarinya. Aku berharap beliau gagal. Harapan itu terdengar kejam. Namun jauh lebih kejam lagi jika seluruh rencana Raka benar-benar terwujud.
Kami mulai menaiki jalan setapak yang dipenuhi ilalang liar. Pepohonan semakin jarang. Angin bertiup lebih kencang. Di kejauhan tampak sebuah gubuk reyot berdiri sendirian di tengah lapangan sempit yang dikelilingi batu-batu besar. Atapnya hampir runtuh. Dinding bambunya telah menghitam dimakan usia. Namun dari sela-sela bilah bambu itu terlihat cahaya.
Api.
Pak Sukar segera mengangkat tangan, memberi isyarat agar aku merunduk. Kami bersembunyi di balik batu besar yang ditumbuhi lumut.
Dari sana, kami dapat melihat halaman gubuk dengan cukup jelas. Pintu depannya terbuka. Di hadapan pintu itu, Bapak berdiri. Tubuhnya tampak jauh lebih letih daripada terakhir kali kulihat. Pakaiannya dipenuhi tanah dan abu. Rambutnya acak-acakan. Di sampingnya terbaring peti kayu yang selama ini dibawanya ke mana pun. Peti tempat Ibu berbaring dalam tidur panjang yang tak pernah selesai. Namun bukan itu yang membuatku menahan napas.
Di hadapan Bapak, berdiri Raka. Belian muda itu tampak sama tenangnya seperti ketika bertemu kami di hutan. Jubah hitamnya bergoyang perlahan tertiup angin malam. Di tangan kirinya tergenggam gulungan lontar yang baru saja dicurinya dari Pak Sukar. Mereka saling berhadapan dalam diam. Tak ada senyum. Tak ada sapaan. Hanya dua lelaki yang berdiri di bawah cahaya bulan, dipisahkan oleh peti jenazah seorang perempuan.
Kemudian suara Bapak memecahkan kesunyian.