Aku tidak pernah menyangka bahwa permintaan maaf bisa terdengar lebih menyakitkan daripada makian.
"Maafkan bapak, Wati."
Kalimat itu masih menggantung di dalam benakku bahkan ketika fajar mulai merayap di ufuk timur. Langit perlahan kehilangan warna gelapnya, digantikan semburat kebiruan yang dingin. Burung-burung hutan mulai berkicau, seolah malam yang baru saja kami lewati hanyalah satu malam biasa. Padahal bagiku dunia telah berubah untuk kesekian kalinya.
Aku dan Pak Sukar berhasil membawa bapakku menjauh dari gubuk tua itu sebelum matahari benar-benar terbit. Kami berhenti di sebuah ceruk batu yang tersembunyi di balik tebing kapur. Tempat itu sempit, tetapi cukup terlindung oleh rimbunnya akar beringin yang menjuntai seperti tirai alam.
Pak Sukar segera membersihkan luka-luka Bapak. Beliau menumbuk beberapa lembar daun hutan yang aromanya begitu tajam hingga menusuk hidung. Cairan hijau pekat itu kemudian dioleskan perlahan pada luka di dada dan punggung Bapak. Sesekali Bapak meringis menahan sakit. Namun tak sekalipun beliau mengeluh.
Sejak kehilangan peti Ibu, rasa nyeri pada tubuhnya seolah bukan lagi sesuatu yang pantas dipedulikan. Aku hanya duduk beberapa langkah dari mereka sambil memeluk kedua lututku. Menatap kosong ke arah cahaya matahari yang menembus sela-sela dedaunan. Begitu banyak peristiwa terjadi hanya dalam beberapa hari. Rumahku telah jadi abu. Orang-orang kampung menganggapku anak iblis. Bapak ternyata hanyalah bidak dalam permainan seseorang yang bahkan belum pernah kukenal sebelumnya. Kini jasad Ibu telah berpindah tangan. Lontar pertama pun ikut dirampas. Rasanya seperti sedang berusaha menampung air dengan kedua telapak tangan. Semakin keras aku mencoba mempertahankan sesuatu, semakin banyak yang hilang.
"Dik Wati." Suara Pak Sukar membuyarkan lamunanku.
Aku menoleh perlahan. Beliau tengah mencuci kedua tangannya di aliran air kecil yang mengalir di sela batu.
"Lukanya tidak ringan," kata beliau lirih. "Tetapi bapakmu masih akan bertahan."
Aku mengangguk pelan. Entah mengapa, aku tidak lagi tahu perasaan apa yang harus kutujukan kepada Bapak. Marah, kecewa, kasihan. Semuanya bercampur jadi satu hingga sulit kubedakan.
Pak Sukar menghampiriku. Beliau duduk di atas batu besar yang dipenuhi lumut. Wajahnya tampak jauh lebih letih daripada biasanya. Garis-garis usia yang selama ini samar kini terlihat semakin jelas di wajahnya.
"Ada sesuatu yang belum sempat saya ceritakan," ucapnya.
Aku mengangkat kepala. Pak Sukar menatap langit. Matahari memang telah muncul. Namun sinarnya masih terasa pucat. Seolah enggan menghangatkan bumi.
"Semalam, ketika Raka menyebut tentang pasukan Bebai …,” beliau berhenti sejenak, "aku akhirnya memahami keseluruhan rencana mereka."
Dadaku perlahan menegang. "Rencana apa?"
Pak Sukar menarik napas panjang. "Pernahkah Dik Wati memperhatikan bulan beberapa malam terakhir?"
Aku mencoba mengingat. Beberapa malam terakhir, bulan memang terlihat semakin besar. Semakin terang.
"Iya," jawabku.
"Apa hubungannya?"
Beliau tidak langsung menjawab. Tatapannya tetap tertuju ke langit, seolah berusaha melihat sesuatu yang belum tampak oleh mataku.
"Leluhur kami menyebutnya Masa Menjelang Bulan Merah."
Kalimat itu terasa asing di telingaku.
"Bulan Merah?"
Pak Sukar mengangguk perlahan. "Bukan gerhana. Bukan juga pertanda alam biasa. Dalam ilmu para belian kuno, Bulan Merah adalah saat ketika batas antara dunia manusia dan dunia roh berada pada titik yang paling rapuh."
Embusan angin menerobos celah pepohonan. Daun-daun bergesekan, menghasilkan bisikan panjang yang membuat tengkukku meremang.
Beliau melanjutkan, "Seluruh ritual besar para pengikut Mursila selalu dilakukan pada malam itu."
Aku merasakan jantungku berdetak sedikit lebih cepat.
"Apakah Raka juga menunggu Bulan Merah?"