Hutan selalu memiliki cara sendiri untuk menyembunyikan masa lalu. Semakin jauh seseorang melangkah ke dalamnya, semakin tipis batas antara kenyataan dan legenda. Pohon-pohon tua yang tumbuh menjulang seakan jadi saksi bagi peristiwa-peristiwa yang telah lama dilupakan manusia. Akar-akar raksasa mencengkeram bebatuan seperti jemari renta yang enggan melepaskan sesuatu dari pelukannya.
Pagi baru saja beranjak menuju siang ketika aku dan Pak Sukar meninggalkan ceruk batu tempat Bapak beristirahat. Luka-lukanya belum benar-benar pulih. Namun beliau memaksa kami pergi.
"Jangan buang waktu karena bapak." Begitu katanya dengan suara yang masih terdengar lemah. "Kalian harus menghentikan Raka."
Aku sempat menoleh sebelum meninggalkannya. Bapak duduk bersandar pada batang pohon besar, memejamkan mata dengan wajah yang dipenuhi keletihan. Beliau tampak begitu rapuh karena keyakinan yang selama ini menopang hidupnya telah runtuh jadi kepingan-kepingan kecil. Namun ada satu hal yang belum beliau ketahui. Dan aku belum memiliki keberanian untuk mengatakannya.
Perjalanan kami kali ini mengarah ke utara. Semakin tinggi kami mendaki, pepohonan berubah semakin tua. Batang-batangnya membesar dengan kulit kayu yang dipenuhi lumut kehijauan. Beberapa bahkan telah berlubang di bagian tengahnya, tetapi tetap hidup, seolah usia tak lagi memiliki kuasa atas mereka.
Udara perlahan menjadi lebih dingin. Kabut tipis bergelayut di sela batang pohon, bergerak perlahan mengikuti embusan angin yang hampir tak terasa. Tak ada suara burung. Tak ada desir monyet yang biasa meloncat dari dahan ke dahan. Keheningan di tempat itu terasa begitu pekat hingga bunyi langkah kakiku sendiri terdengar asing.
"Pak." Aku memecahkan kesunyian. "Apakah kita sudah dekat?"
Beliau berhenti di hadapan sebuah pohon beringin yang diameternya mungkin lebih lebar daripada tiga orang dewasa yang saling bergandengan tangan. Batangnya dipenuhi sulur-sulur tua yang menjuntai hingga menyentuh tanah. Beliau mengusap permukaan kulit kayunya perlahan. Seperti seseorang yang sedang menyapa sahabat lama.
"Dahulu," ucapnya lirih, "guru saya pernah membawaku sampai ke sini."
Aku memandang sekeliling. "Beliau menunjukkan tempat ini?"
Pak Sukar menggeleng.
"Tidak. Beliau hanya berkata," tatapan beliau mengarah ke lereng yang tertutup semak belukar, "’jika suatu hari ilmu Mursila bangkit kembali, carilah bukit yang dijaga pohon yang lebih tua daripada cerita.’"
Aku mengerutkan kening.
"Itu maksudnya pohon ini?"
Beliau tersenyum tipis. "Dulu saya juga tidak memahaminya."
Pak Sukar kemudian melangkah mendekati rimbunan rotan liar yang hampir menutupi seluruh sisi bukit. Dengan keris Bogeng Samil, beliau memotong sulur-sulur itu satu per satu. Suara rotan yang putus terdengar lirih. Semakin lama, semakin tampak sesuatu di baliknya.
Tangga batu. Sebagiannya telah retak. Sebagian lain hampir tertelan akar pohon. Seolah alam sendiri berusaha menghapus keberadaannya dari ingatan manusia.
Dadaku berdebar. "Selama ini... tempat ini tersembunyi?"
Pak Sukar mengangguk. "Bukan hanya tersembunyi."
Beliau menatap anak tangga itu dengan sorot mata yang sulit kuartikan.
"Tetapi sengaja dilupakan."
Kami mulai menaikinya. Jumlah anak tangga itu tidak banyak. Namun setiap pijakan terasa semakin berat karena suasana di sekeliling perlahan berubah. Udara menjadi lebih dingin. Lebih lembap. Bahkan cahaya matahari yang semula masih mampu menembus sela dedaunan kini menghilang sama sekali. Yang tersisa hanyalah bayangan. Dan kesunyian yang terasa hidup.
Beberapa kali aku merasa seperti sedang diperhatikan. Aku spontan menoleh, tetapi tak ada siapa-siapa. Hanya pepohonan tua yang berdiri diam, memagari bukit itu seperti para penjaga yang tak pernah tidur.
Ketika langkah terakhir kami mencapai puncak, aku seketika menghentikan napas. Di hadapanku terbentang sebuah pelataran batu berbentuk lingkaran yang tidak terlalu luas. Namun dipenuhi bongkahan batu hitam yang tersusun dengan pola-pola aneh. Sebagian telah roboh. Sebagian lagi masih berdiri tegak meski permukaannya dipenuhi lumut dan retakan usia.
Di bagian paling tengah, berdiri sebuah altar batu. Tingginya kira-kira setinggi dada orang dewasa. Permukaannya dipenuhi ukiran yang nyaris sama dengan lambang-lambang yang pernah kulihat di gudang Bapak. Hanya saja, ukiran pada altar itu jauh lebih rumit. Lebih tua. Dan entah mengapa, hanya dengan memandangnya saja, dadaku terasa sesak.