Sejak meninggalkan altar Nyelak, aku terus merasakan sesuatu yang sulit dijelaskan. Matahari memang masih menggantung di angkasa, tetapi cahayanya hilang kehangatan. Udara menjadi lebih pengap, seolah seluruh hutan sedang menahan napas menunggu sesuatu yang segera tiba.
Pak Sukar berjalan beberapa langkah di depanku. Beliau tak lagi banyak berbicara. Kedua bagian lontar yang baru kami temukan telah disimpan kembali ke dalam tabung bambu, lalu dibungkus rapat menggunakan kain lusuh agar tidak mudah rusak.
Sesekali beliau memandang langit. Menghitung waktu. Aku tahu apa yang sedang beliau pikirkan.
Tiga hari. Kini mungkin bahkan telah berkurang menjadi dua. Kami harus menemukan Raka sebelum Bulan Merah muncul. Kalau tidak, aku memilih menghentikan pikiranku sendiri. Ada kemungkinan-kemungkinan yang terlalu mengerikan untuk dibayangkan.
-II-
Sudut Pandang: Arsyad
Di tempat lain, Arsyad membuka matanya perlahan. Rasa nyeri langsung menjalar dari tengkuk hingga ke seluruh tubuhnya. Seolah setiap tulang telah dipukul menggunakan batu. Pandangan beliau masih kabur. Langit di atasnya tampak kelabu. Pepohonan tinggi berdiri mengelilingi sebuah pelataran batu yang terasa asing. Ia mencoba bangkit. Namun kedua tangannya tertahan. Bunyi rantai besi beradu memecah kesunyian.
Cling...
Ia menoleh. Kedua pergelangan tangannya terikat pada sebuah tiang batu yang permukaannya dipenuhi ukiran tua. Tiang lain juga membelenggu kedua kakinya. Ia segera menarik napas panjang. Tidak berhasil. Belenggu itu terlalu kuat.
"Sudah sadar rupanya."
Suara itu datang dari belakang. Lembut. Tenang. Tetapi mampu membuat tengkuk siapa pun meremang.
Raka.
Belian muda itu berjalan perlahan memasuki pelataran. Jubah hitamnya bergesekan dengan lantai batu yang dipenuhi lumut. Di tangannya tergenggam gulungan lontar pertama. Sedangkan beberapa langkah di belakangnya, peti kayu tempat jasad istrinya terbaring masih berada di sana.
Arsyad spontan berusaha berdiri. "Istriku!"
Ia menarik rantai sekuat tenaga. Logam-logam tua itu bergetar keras. Namun tetap tak bergeming. Raka menghentikan langkahnya tepat di depan peti.
"Aneh," gumamnya pelan. "Manusia memang selalu melihat apa yang ingin mereka lihat."
Arsyad mengabaikan ucapan itu. "Lepaskan saya! Kembalikan istriku."
Raka hanya tersenyum. Senyum yang kali ini terasa lebih dingin dibanding sebelumnya.
"Kau masih memikirkannya?"
"Saya sudah menunggu bertahun-tahun." Suara Arsyad mulai bergetar. "Saya melakukan semua yang kau minta. Saya mengorbankan hidupku. Saya kehilangan putriku. Saya kehilangan diri saya sendiri." Ia menggertakkan rahang. "Semuanya demi dia."
Raka menghela napas perlahan. Tatapannya jatuh pada peti kayu di sampingnya.
"Lalu, apakah menurutmu semua itu cukup?"
Arsyad terdiam. Belian muda itu mengitari peti tersebut dengan langkah perlahan. Seolah sedang mengamati sebuah benda antik yang menarik perhatiannya.
"Kau tahu, Arsyad," katanya tanpa menoleh. "Selama bertahun-tahun aku memperhatikanmu. Kau merawat tubuh perempuan ini. Kau mengganti bunga-bunganya. Kau menjaga suhu ruang penyimpanannya. Bahkan kau berbicara dengannya setiap malam."
Suara Raka terdengar datar. Tanpa ejekan. Tanpa iba. Justru ketenangan itulah yang membuat setiap kalimatnya terasa semakin kejam.