TUSELAK

Marion D'rossi
Chapter #34

Pecahnya Perang

Tidak ada suara yang menandai kemunculannya. Tidak ada petir yang membelah langit. Tidak ada gempa yang mengguncang bumi. Namun seluruh hutan seolah mengetahui bahwa malam itu bukan lagi malam yang sama.

Aku menghentikan langkah. Entah mengapa, jantungku mendadak berdegup jauh lebih keras daripada sebelumnya. Pak Sukar yang berjalan beberapa depa di depanku ikut berhenti. Beliau perlahan mengangkat wajah. Aku mengikuti arah pandangnya. Mula-mula langit tampak biasa. Gelap yang dipenuhi gugusan bintang yang mulai bermunculan satu per satu. Namun beberapa saat kemudian, bulan perlahan muncul dari balik gugusan awan. Merah yang begitu pekat hingga menyerupai darah segar yang baru saja tertumpah.

Aku membeku. Cahaya bulan itu tidak menerangi hutan. Justru membuat seluruh pepohonan tampak lebih gelap.

Pak Sukar mengembuskan napas panjang.

"Waktunya …," bisiknya lirih, "telah tiba."

Suara beliau hampir tenggelam oleh desir angin yang tiba-tiba berembus dari segala arah. Pepohonan bergoyang serempak. Daun-daun berjatuhan tanpa henti. Burung-burung malam beterbangan meninggalkan sarangnya dengan kepanikan yang belum pernah kulihat sebelumnya. Bahkan tanah di bawah kakiku mulai bergetar halus. Bukan gempa. Lebih menyerupai denyut. Seolah ada sesuatu yang sedang bangun jauh di dalam perut bumi.

 

Kami mempercepat langkah menuju altar Nyelak. Semakin dekat ke bukit tua itu, semakin banyak kejanggalan yang kulihat. Kabut turun jauh lebih tebal. Pepohonan yang sebelumnya diam kini mengeluarkan bunyi-bunyi aneh ketika diterpa angin. Sesekali terdengar bisikan yang pelan. Tidak jelas. Namun cukup membuat tengkukku meremang.

Aku terus menggenggam gagang keris kecil pemberian Pak Sukar. Meski aku tahu, jika harus menghadapi Raka, sebilah keris itu mungkin tak lebih berguna daripada sepotong ranting kering.

Belum sempat kami mencapai lereng bukit, suara lolongan panjang menggema dari arah lembah. Kemudian disusul suara lain dari arah yang berbeda. Lalu dari balik bukit. Lalu dari tengah hutan. Suara-suara itu saling bersahutan. Membentuk gema panjang yang membuat udara malam terasa bergetar.

Aku menghentikan langkah.

"Itu …."

Pak Sukar mengangguk.

"Tuselak."

Tak lama kemudian, bayangan-bayangan mulai bermunculan dari sela pepohonan. Mereka keluar perlahan dari tempat-tempat persembunyian yang selama ini melindungi mereka dari dunia manusia.

Aku mengenali beberapa wajah. Lelaki tua yang kutemui bersama Bu Hamidah. Perempuan yang selalu memeluk anaknya. Anak kecil yang menangis tanpa suara. Namun malam ini jumlah mereka jauh lebih banyak. Ratusan. Mereka memenuhi lereng bukit seperti aliran sungai yang bergerak tanpa suara. Sebagian tubuh mereka telah berubah begitu jauh. Ada yang lengannya dipenuhi sisik hitam. Ada yang matanya memerah. Ada pula yang berjalan tertatih sambil terus memegangi kepalanya, seolah sedang bertarung melawan sesuatu di dalam dirinya. Tetapi tak satu pun menyerang.

Mereka semua berjalan ke arah yang sama, yaitu ke arah altar.

Di barisan paling depan, Bu Hamidah melangkah perlahan. Perempuan itu kini tidak lagi tampak sebagai korban yang ketakutan. Sorot matanya tetap menyimpan kepedihan. Namun langkahnya dipenuhi keteguhan. Beliau berhenti beberapa langkah di hadapan kami.

"Wati." Suara itu terdengar lebih mantap daripada sebelumnya. "Malam ini kami tidak lagi bersembunyi."

Aku memandang wajah-wajah di belakangnya. Tak ada kebencian. Yang kulihat hanyalah kelelahan panjang yang akhirnya berubah menjadi keberanian.

"Mereka tahu risikonya?" tanyaku lirih.

Bu Hamidah mengangguk. "Kalau ritual itu berhasil, kami akan kehilangan jiwa kami selamanya."

Beliau menoleh ke arah bulan merah yang kini menggantung tepat di atas puncak bukit.

"Lebih baik mati sebagai manusia daripada hidup sebagai kutukan."

Kalimat itu membuat dadaku terasa sesak. Aku belum sempat menjawab ketika dari arah kampung terdengar bunyi kentongan bertalu-talu.

Tong! Tong! Tong!

Disusul sorak-sorai manusia. Jumlahnya sangat banyak. Cahaya-cahaya obor mulai bermunculan di kejauhan. Mula-mula hanya beberapa titik. Lalu puluhan. Kemudian ratusan. Seperti lautan api yang perlahan merambat memasuki hutan.

Pak Sukar memejamkan mata sesaat.

"Celaka …," gumamnya. "Mereka datang."

Aku memandang ke arah cahaya-cahaya itu. Ya, itu adalah warga kampung. Mereka membawa parang, tombak, kayu, obor. Dan wajah-wajah yang dipenuhi amarah. Di barisan depan, beberapa lelaki berteriak sambil mengangkat obor tinggi-tinggi.

"Bakar semuanya!"

Lihat selengkapnya