TUSELAK

Marion D'rossi
Chapter #35

Darah Terakhir

Suara itu masih terus terdengar. Suara ribuan bisikan yang saling bertumpuk dari balik celah langit yang telah terbuka. Setiap bisikan membawa bahasa yang tak pernah dikenal manusia, namun entah bagaimana mampu merayap masuk ke dalam kepala, membisikkan ketakutan yang bahkan belum sempat diberi nama.

Aku berlutut di atas altar yang terus bergetar.

Retakan-retakan yang semula hanya sebesar benang kini menjalar ke seluruh pelataran batu. Dari sela-selanya memancar cahaya merah kehitaman, seolah darah bumi sedang menyembur dari luka yang telah lama tersegel.

Di atas kepalaku gerbang gaib itu terus melebar. Langit malam tidak lagi tampak seperti langit. Bulan merah menggantung tepat di tengah pusaran hitam yang perlahan berdenyut, menyerupai mata raksasa yang baru saja membuka kelopaknya. Angin berembus begitu kencang hingga pepohonan tua membungkuk seperti hendak bersujud. Jeritan manusia bercampur dengan lolongan Tuselak memenuhi seluruh lereng bukit. Namun semua suara itu perlahan terasa semakin jauh. Karena ada sesuatu yang jauh lebih mengerikan sedang memanggilku.

"Wati …." Suara itu datang dari dalam celah merah. Suara yang lembut, hangat, dan begitu kukenal.

Aku membeku.

"Ibu …."

Tanpa sadar aku melangkah mendekati altar. Padahal aku tahu. Bnar-benar tahu. Pak Sukar telah memperlihatkan isi lontar bahwa yang kembali bukan manusia. Namun suara itu entah bagaimana sangat akrab dan dekat denganku.

"Wati... kemari …."

Air mataku mengalir tanpa kusadari. Aku mengulurkan tangan. Namun tiba-tiba seseorang mencengkeram lenganku begitu keras dan membuatku tersentak.

Raka.

Belian muda itu telah berdiri tepat di belakangku entah sejak kapan. Tangannya mencengkeram pergelangan tanganku begitu kuat hingga terasa nyeri.

"Kau akhirnya mendengar panggilan itu," bisiknya.

Nada suaranya tetap tenang. Namun matanya kini memancarkan kegembiraan yang belum pernah kulihat sebelumnya. Bukan kegembiraan seorang manusia. Lebih seperti seseorang yang selama bertahun-tahun akhirnya menyaksikan mimpinya menjadi nyata.

Aku berusaha melepaskan diri. Namun tenaga Raka terasa mustahil dilawan. Dia menyeretku menuju pusat altar. Tepat di hadapan peti tempat tubuh Ibu masih terbaring. Lingkaran-lingkaran pahatan yang memenuhi lantai kini menyala seluruhnya. Cahayanya merambat naik, melilit kedua kakiku seperti sulur api yang hidup. Aku mencoba bergerak, tapi tubuhku tak lagi dapat diperintah.

"Apa yang kamu lakukan?" teriakku.

Raka tersenyum. "Bukan aku," jawabnya pelan. "Altar ini mengenali darahmu."

Dia mengangkat telapak tangannya. Di atasnya telah tergenggam belati ritual yang permukaannya memantulkan cahaya merah bulan.

"Sejak pertama kali kau menghirup napas, malam ini telah ditentukan."

Aku menggeleng sekuat tenaga. "Tidak. Semua ini akan berakhir."

"Tidak." Raka melangkah semakin dekat. "Justru baru akan dimulai."

Dia pun mengangkat belati itu perlahan.

"Aku hanya membutuhkan setetes darah terakhir."

 

"Wati!" Suara Pak Sukar menggema dari kejauhan.

Aku menoleh, melihat beliau yang tampaknya masih begitu kuat berkutat dalam pertarungan. Keris Bogeng Samil berulang kali beradu dengan belati-belati gaib yang muncul di udara mengelilingi Raka. Setiap benturan menghasilkan ledakan cahaya merah yang membuat tanah terus bergetar. Namun usia akhirnya mulai menunjukkan batasnya. Napas Pak Sukar semakin berat. Lengan kirinya dipenuhi luka-luka panjang. Darah menetes dari ujung jarinya. Meski demikian, beliau tak pernah mundur. Beliau terus memaksakan setiap langkah. Setiap serangan hanya untuk memberiku sedikit waktu.

Di bawah altar, pertempuran masih berlangsung. Warga kampung dan para Tuselak kini tak lagi mampu membedakan siapa lawan dan siapa kawan. Bu Hamidah memimpin para Tuselak melindungi anak-anak dan mereka yang telah kehilangan kendali. Sementara kobaran api mulai menjalar ke seluruh lereng. Asap hitam membubung menutupi sebagian langit. Malam itu dunia seperti sedang runtuh sedikit demi sedikit. Raka tidak memedulikan semua kekacauan itu. Tatapannya hanya tertuju kepadaku.

"Kau tahu mengapa darahmu begitu berharga?" tanyanya lirih.

Aku tetap berusaha melepaskan diri.

Dia melanjutkan, "Karena selama ratusan tahun, tak pernah ada lagi Darah Bebai yang lahir sempurna."

Belati itu kini berada hanya beberapa jari dari telapak tanganku.

"Setelah darahmu menyentuh altar, tak ada lagi yang mampu menutup gerbang ini."

Aku memejamkan mata karena untuk pertama kalinya, aku benar-benar merasa tidak memiliki jalan keluar. Lalu di tengah hiruk-pikuk pertempuran, di tengah raungan angin dan bisikan dari balik gerbang, sebuah suara yang begitu kukenal memecah seluruh kekacauan malam itu.

"Lepaskan …." Suara itu terdengar berat dan lelah. Namun mengandung ketegasan yang belum pernah kudengar sebelumnya. "… putriku."

Mataku terbuka seketika. Beberapa langkah dari altar, berdiri bapakku. Tubuhnya masih dipenuhi darah. Pakaiannya robek. Napasnya tersengal. Namun sorot matanya tidak lagi dipenuhi obsesi. Tidak lagi dipenuhi keputusasaan. Yang kulihat untuk pertama kalinya sejak semua mimpi buruk ini dimulai adalah seorang bapak. Bapakku, yang akhirnya datang. Bukan untuk menyelamatkan masa lalunya, tapi untuk mempertahankan satu-satunya masa depan yang masih dimilikinya.

Sementara itu, tampak Pak Sukar terhuyung. Ujung keris Bogeng Samil masih menggurat udara ketika tubuh renta itu terdorong beberapa langkah ke belakang. Belati ritual di tangan Raka berkelebat begitu cepat hingga nyaris tak mampu lagi kuikuti dengan pandangan. Darah menetes dari lengan kiri Pak Sukar. Kemudian dari pelipisnya.

Napas beliau memburu. Namun kedua matanya tetap menyala oleh tekad yang tak pernah padam.

Raka memutar belatinya perlahan.

"Akhirnya usia mengejarmu juga." Suara itu terdengar tenang. Nyaris seperti seorang guru yang sedang mengoreksi muridnya.

"Kau bertahan jauh lebih tua daripada yang kuduga."

Pak Sukar tersenyum tipis. Senyum yang justru membuat wajah tuanya tampak semakin teduh.

Lihat selengkapnya