TUSELAK

Marion D'rossi
Chapter #36

Yang Tersisa dari Kutukan

Ada luka yang tidak pernah benar-benar sembuh. Ia hanya berhenti mengeluarkan darah, lalu perlahan jadi bagian dari kehidupan, melekat di dalam ingatan sebagaimana bekas sayatan yang tak lagi terasa nyeri, tetapi selalu mengingatkan bahwa seseorang pernah terluka di tempat itu.

Empat bulan telah berlalu sejak malam Bulan Merah. Musim hujan datang lebih awal tahun itu.

Hutan yang dahulu dipenuhi bau anyir darah kini kembali diselimuti aroma tanah basah dan dedaunan muda. Rumput-rumput liar tumbuh menutupi bekas retakan di lereng Bukit Nyelak, seolah alam sendiri sedang berusaha menghapus jejak tragedi yang pernah terjadi di sana. Namun alam tidak pernah benar-benar melupakan. Begitu pula manusia.

 

Kampung kami perlahan hidup kembali. Rumah-rumah yang sempat hangus terbakar kini berdiri lagi dengan dinding kayu yang masih tampak baru. Beberapa keluarga bergotong royong mengganti atap, memperbaiki pagar, serta membersihkan puing-puing yang selama berbulan-bulan dibiarkan menumpuk.

Suara palu kembali terdengar setiap pagi. Anak-anak kembali berlarian di jalan tanah. Perempuan-perempuan kembali menjemur padi di halaman rumah. Seolah kehidupan memaksa semua orang untuk terus berjalan, meski sebagian hati mereka masih tertinggal pada malam ketika langit berubah merah.

Aku sering memperhatikan mereka dari kejauhan. Wajah-wajah yang dahulu dipenuhi amarah kini menyimpan sesuatu yang berbeda. Penyesalan. Tidak semua orang berani mengakuinya. Namun aku dapat melihatnya.

Pak Rahman beberapa kali datang ke rumah peninggalan Bapak. Beliau tak pernah membicarakan malam itu. Hanya membantu memperbaiki pagar yang roboh, mengganti papan dinding yang lapuk, lalu pulang tanpa banyak bicara. Kadang-kadang permintaan maaf memang tidak selalu lahir dari kata-kata.

 

Pak Sukar selamat. Meski luka-lukanya membuat tubuh beliau jauh lebih rapuh daripada sebelumnya. Rambut yang telah memutih kini hampir seluruhnya gugur. Langkahnya tidak lagi setegap dahulu. Beliau lebih sering duduk di beranda rumah sambil memandangi bukit yang kini kembali diselimuti kabut setiap menjelang petang.

Beberapa minggu setelah semuanya berakhir, para tetua kampung berkumpul. Bukan untuk mengadakan ritual. Namun untuk memulai kembali kehidupan. Mereka sepakat menunjuk Pak Sukar sebagai tetua adat yang baru. Tak ada seorang pun yang menolak. Bahkan mereka yang dahulu memandang sinis keluarga Bogeng Samil kini justru menaruh hormat kepada lelaki tua itu.

Pak Sukar sendiri sempat menolak. Beliau berkata usianya sudah terlalu senja. Namun warga tetap memintanya menerima.

"Kami pernah kehilangan arah," kata Pak Rahman waktu itu. "Dan kami tidak ingin kehilangan penunjuk jalan lagi."

Pak Sukar akhirnya hanya tersenyum kecil. Senyum yang penuh kelelahan. Namun juga penuh keikhlasan.

 

Orang yang paling sering kudatangi selama beberapa bulan terakhir adalah Bu Hamidah. Tubuhnya semakin kurus. Kutukan yang selama bertahun-tahun menahannya di antara kehidupan dan kematian memang telah lenyap. Namun tubuh manusia tidak dapat begitu saja melupakan penderitaan yang telah dipikul selama puluhan tahun. Beliau mengetahui waktunya telah dekat.

Suatu sore, ketika hujan turun begitu pelan hingga terdengar seperti bisikan di atas daun-daun bambu, aku duduk menemaninya di beranda rumah kecilnya. Beliau memandang langit cukup lama.

"Lihat," ucapnya lirih. "Hujannya indah."

Aku mengikuti arah pandangnya. Butiran hujan jatuh perlahan, memantulkan cahaya senja yang mulai memudar.

"Selama menjadi Tuselak," lanjutnya, "aku lupa seperti apa rasanya menikmati hujan."

Aku menatap wajahnya. Keriput di sudut matanya kini tampak lebih jelas. Namun untuk pertama kalinya sejak kami bertemu, aku melihat ketenangan di sana. Tidak ada lagi rasa lapar. Tidak ada lagi penderitaan. Hanya seorang perempuan tua yang akhirnya kembali menjadi manusia.

Lihat selengkapnya