Blurb
Di Kayu Jati, ada yang tidak boleh disebut keras-keras selepas magrib.
Tuselak. Manusia biasa di siang hari, pemangsa ketika malam tiba.
Sejak kecil, Wati sudah terbiasa dengan bisik-bisik itu. Anak tuselak, kata mereka. Anak hasil perjanjian dengan jin. Ibunya mati terjun dari bukit ketika ia baru berumur empat tahun, dan sejak itu tak seorang pun di kampung mau duduk di sebelahnya.
Wati selalu percaya semua itu hanya fitnah. Sampai seorang perempuan tuselak menghadang delmannya di jalan Kayu Manis dan berbisik, "Kamu bagian dari kami." Sampai sepupunya ditemukan tewas di kaki bukit. Sampai ia menguntit bapaknya pada pukul dua dini hari dan melihatnya bersimpuh di depan mulut gua, berbicara kepada sesuatu yang tak kasatmata.
Kini purnama merah semakin dekat. Pintu kamar yang dirantai selama empat belas tahun mulai mengeluarkan senandung. Dan suara di balik pintu itu memanggil Wati dengan nada yang sangat mirip ibunya.
Jika satu-satunya orang yang ingin kamu selamatkan adalah orang yang sedang menyiapkan kematianmu, kepada siapa lagi kamu bisa percaya?