Aku terbangun di tengah lapangan dengan langit keemasan di atas kepala dan rumput kering yang menusuk-nusuk punggung. Mula-mula aku tak tahu di mana aku berada. Tubuhku mati rasa. Kedua tanganku yang ringkih tergeletak di sisi badan seperti dua batang ranting yang dibuang orang. Manakala kuangkat salah satunya ke depan mata, darah kering tampak membungkus permukaan kulit telapaknya, hitam kecokelatan, mengerak di sela-sela jari dan di bawah kuku. Kurasakan pula kerak yang sama di sudut bibir, di dagu, di separuh wajahku. Lidahku pahit. Tenggorokanku perih seperti habis menelan bara.
Dari kejauhan, seekor ayam jantan berkokok. Lalu seekor lagi, bersahut-sahutan dari pekarangan ke pekarangan, mencoba membangunkan setiap pemilik raga di perkampungan.
Kokok itu yang menyadarkan sukmaku dari tegun yang entah sudah berapa lama menguasai. Kuedarkan bola mata ke sekeliling. Tanah lapang yang luas. Dua batang bambu yang ditancapkan berhadapan di ujung-ujungnya, sebagai gawang. Rumput yang menguning di musim kemarau. Lapangan Kayu Jati. Tempat anak-anak kampung bermain bola setiap sore, tempat pemuda-pemuda bertanding antarkampung setiap peringatan tujuh belasan, tempat pasangan-pasangan muda menggandeng buah hati mereka berjalan-jalan selepas asar.
Di sebelah utara, Bukit Kayu Jati menjulang hitam di bawah langit yang memucat. Di bahunya, beringin tua itu berdiri seperti biasa, dahan-dahannya terentang serupa jemari raksasa yang hendak mencakar langit. Aku mengenal pohon itu lebih baik daripada siapa pun di kampung ini. Aku tahu apa yang tidur di bawah akar-akarnya. Dan aku tahu, aku tak seharusnya berada di sini ketika matahari terbit.
Semua orang menyebutku tuselak. Manusia jadi-jadian. Manusia yang bersekutu dengan iblis. Manusia yang telanjur dicap paling kotor di antara segala yang kotor. Siang hari aku hanyalah nenek tua yang tinggal di gubuk reyot di pinggir kebun, yang jarang keluar rumah dan tak pernah tampak di masjid. Malam hari, kata mereka, aku melepaskan kulit kemanusiaanku dan berkeliaran mencari makan. Bangkai, kotoran, darah hewan ternak yang tertinggal di bekas sembelihan. Apa saja yang membusuk dan tak lagi diinginkan manusia. Mereka tidak sepenuhnya salah. Itulah yang paling menyakitkan.
Aku tak dapat menepis kenyataan bahwa aku adalah tuselak, makhluk yang hidup dalam legenda dan kepercayaan turun-temurun orang Sasak di Pulau Lombok. Makhluk yang diceritakan para ibu kepada anak-anaknya supaya mereka tak keluar rumah selepas magrib. Makhluk yang selalu dibicarakan dengan suara lantang, tak pernah dengan bisik-bisik, sebab kata para orang tua, bisik-bisik justru paling mudah ditangkap telinga makhluk sepertiku.
Namun aku tidak lahir begini. Dulu, puluhan tahun silam, aku pernah menjadi gadis yang paling sering dipandangi lelaki di Kayu Jati. Kembang kampung, kata mereka. Kulitku kuning langsat, rambutku hitam sepinggang, dan setiap kali aku menumbuk padi di halaman, pemuda-pemuda sengaja lewat di depan pagar hanya untuk mencuri pandang. Aku menyukai pandangan-pandangan itu. Aku takut kehilangannya. Aku takut menjadi tua.
Maka suatu malam aku pergi ke Kayu Manis, ke rumah seorang lelaki tua yang konon bisa membuat perempuan tetap cantik hingga akhir hayat.
Aku tak ingin mengingat apa yang ia tanamkan di tubuhku malam itu. Aku tak ingin mengingat apa yang ia minta sebagai bayarannya. Aku hanya ingat ia tersenyum, dan matanya, mata yang terlalu hidup untuk wajah setua itu, menatap perutku yang masih rata.
Bertahun-tahun aku berusaha menjaga diri agar tak menjadi makhluk laknat ini. Bertahun-tahun pula aku kalah. Mula-mula hanya lapar. Lapar yang tak bisa dipuaskan nasi, tak bisa dipuaskan ikan dan sayur. Lalu kantuk yang datang setiap pagi dan mata yang tak mau terpejam setiap malam. Lalu aku mulai terbangun di tempat-tempat yang tak kukenal, dengan darah kering di tangan dan mulut, tanpa sekali pun ingat dari mana darah itu datang. Aku berjalan dalam gelap seperti orang yang berjalan dalam mimpi, mengendap di antara semak-semak, menghindari cahaya pelita di beranda-beranda rumah dan hansip yang berjaga di pos ronda hingga dini hari.
Sekali kentongan dipukul, seluruh warga pasti berkumpul. Dan bilamana tuduhan telah dikumandangkan ke berpasang-pasang telinga, dibakar hidup-hidup adalah akibatnya. Aku sudah menyaksikannya sendiri, dua kali, dari balik semak di pinggir lapangan ini. Perempuan-perempuan lain yang bernasib sama denganku. Yang tersisa dari mereka hanyalah setumpuk kulit hangus, lalu cerita yang diwariskan turun-temurun, di mana mereka selalu menjadi pihak yang tak punya kebenaran sebiji zarah pun.
Banyak hal yang aku takutkan. Sapu lidi, batang dan daun kelor, cahaya matahari, keramaian, kobaran api. Jika salah satunya menyentuh kulit sawo matang keriputku, habislah aku. Namun lama-kelamaan, aku tak lagi berjalan dengan kaki. Beratus-ratus bangkai yang masuk ke dalam perutku membuat tubuh ini makin ringan, makin kuat, makin jauh dari manusia. Suatu malam, dengan kedua tangan terbentang seperti kepak sayap burung, aku melayang di atas pucuk-pucuk pohon kelapa. Aku telah menjadi tuselak bonga, jenis tuselak yang paling kuat dan paling ditakuti. Yang bisa terbang. Yang bisa membuat jantung siapa pun berhenti berdetak manakala tak sengaja melihatku melintas di bawah bulan. Dan aku membenci diriku karenanya.