Lampu petromaks yang tergantung di tiang delman mendadak padam. Tidak berkedip, tidak meredup pelan-pelan seperti lampu yang kehabisan minyak. Padam begitu saja, seakan ada tangan tak terlihat yang menjepit sumbunya. Gelap seketika menelan kami. Kuda cokelat Pak Sukar mendengus-dengus gelisah, kaki depannya menghentak-hentak tanah, dan derit roda delman berhenti di tengah jalan berbatu yang dikepung pepohonan.
“Astagfirullah, astagfirullah,” Pak Sukar terus beristigfar sambil turun dari tempat duduknya. Dengan tangan gemetar ia meraba lampu itu, mengguncang tabung minyaknya, memeriksa kaus lampu dan pompanya, lalu menyalakan korek api berkali-kali. Api kecil itu menyala sebentar di ujung jarinya, menerangi wajahnya yang pucat, lalu padam sebelum sempat menyentuh kaus lampu. Minyaknya masih penuh. Kaus lampunya utuh. Angin yang berdesir di antara pepohonan pun hanya bertiup pelan, bahkan tak cukup kuat untuk menggoyangkan rambutku. Tak ada satu pun alasan yang masuk akal mengapa lampu itu padam, apalagi tak mau dinyalakan kembali.
“Dik,” kata Pak Sukar akhirnya. Suaranya terdengar lebih rendah daripada biasanya. “Pindah ke depan. Duduk di sebelah saya. Saya tidak tenang kalau Dik Wati duduk sendirian di belakang.”
Aku tak perlu disuruh dua kali. Dengan lutut yang lemas, aku melangkahi papan kayu dan duduk merapat di samping Pak Sukar. Uang receh dan beberapa lembar uang kertas pembayaran jagung dari Bu Hamidah kugenggam erat-erat di dalam kepalan tangan, seolah benda-benda kecil itu bisa melindungiku dari apa pun yang sedang mengintai di balik gelap. Pak Sukar menepuk punggung kudanya dan membisikkan sesuatu ke telinganya. Kuda itu melangkah lagi, pelan, ragu-ragu, laiknya hewan yang sedang berjalan menuju sesuatu yang tak ingin didekatinya.
Hanya keheningan yang membalut kami setelah itu. Suara kodok dan jangkrik masih terdengar dari kejauhan, tetapi entah mengapa tak sedikit pun menghibur. Derit roda yang bergesekan dengan batu terdengar terlalu nyaring, seolah sengaja mengumumkan keberadaan kami kepada seisi hutan. Di tengah keheningan itu, ingatanku melayang tanpa bisa kucegah kepada perempuan yang baru saja kutemui beberapa jam lalu. Perempuan pucat bertangan dingin yang memandangiku lama dari beranda rumahnya, seolah sedang menghafal wajahku.
Bapak pernah bercerita tentang Bu Hamidah. Bukan baru-baru ini, melainkan beberapa bulan yang lalu, pada suatu malam ketika hujan turun deras dan kami duduk berdua di ruang tengah ditemani pelita. Waktu itu aku baru saja pulang dari warung Bu Hikmah dengan mata sembap karena gunjingan yang sama, dan Bapak, barangkali untuk menghiburku, berkata bahwa di dunia ini bukan hanya kami yang dikucilkan. Di Kayu Manis ada seorang janda bernama Hamidah, langganan jagung dan rempahnya, yang nasibnya jauh lebih buruk. Orang-orang Kayu Manis bahkan lebih keras daripada orang-orang Kayu Jati dalam memperlakukan siapa saja yang tak seragam dengan mereka.
Bu Hamidah, kata Bapak, kehilangan suaminya karena demam yang datang tiba-tiba. Mereka tak punya anak, dan setelah suaminya meninggal, perempuan itu tak pernah berhenti menangis. Siang dan malam ia meratap di samping kubur suaminya, hingga para tetangga mulai menyebutnya gila. Namun bagi Bu Hamidah, kata Bapak, kehilangan itu adalah luka yang jauh lebih gila daripada apa pun yang bisa diucapkan para tetangga tentang kewarasannya. Ia hanya menginginkan satu hal. Ia ingin berbicara dengan suaminya sekali lagi.
Maka ia mendatangi dukun-dukun di Kayu Manis, satu demi satu, hingga sampailah ia di rumah seorang dukun tua yang paling disegani di kampung itu. Amat Beduk namanya. Orang-orang Kayu Manis memercayainya sebagai dukun paling mujarab untuk segala penyakit yang datang dari alam gaib. Kepada dukun itulah Bu Hamidah menumpahkan semua keluh kesahnya, dan Amat Beduk mendengarkan dengan sabar, lalu tersenyum, dan berkata bahwa orang hidup dan orang mati sesungguhnya masih terhubung, asalkan seseorang tahu jalan mana yang harus ditempuh.
Bu Hamidah diberi mantra-mantra. Ia disuruh mandi kembang tujuh rupa di persimpangan sungai pada tengah malam, lalu tidur di samping kubur suaminya selama tujuh malam berturut-turut. Ia melakukannya tanpa ragu sedikit pun. Dan pada malam ketujuh, kata Bapak, suaminya benar-benar datang. Duduk di sampingnya, di tepi kubur, berbicara kepadanya seperti dulu.
“Memangnya orang mati bisa bicara sama orang hidup, Pak?” tanyaku malam itu sambil memeluk lutut. Bapak hanya menghela napas dan tersenyum tipis. “Dengar dulu sampai habis,” katanya.