Tuselak: Purnama Merah di Kayu Jati

Marion Drossi
Chapter #3

Kesadaran yang Terbatas

Sepasang mata hitam itu menatap kami tanpa berkedip. Di bawah cahaya bulan yang pucat, kulihat gigi-giginya yang runcing dan berkerak, terbungkus ludah kental yang terus merembes, menganak sungai di sudut-sudut bibirnya lalu menetes ke dada. Napasnya terdengar dari tempat kami duduk. Panjang. Basah. Seperti napas anjing yang kehausan di tengah kemarau. Dan bersama embusan napas itu datang bau yang membuat perutku bergolak. Bau bangkai. Bau lumpur sungai. Bau sesuatu yang sudah lama mati dan dibiarkan membusuk di bawah daun-daun.

Aku ingin melompat dari delman. Aku ingin berlari sekencang-kencangnya, menembus hutan, pulang ke rumah, dan bersembunyi di balik sarung Bapak seperti ketika aku masih kecil. Namun tubuhku tak mau menurut. Jemariku membeku di atas pangkuan. Kakiku seakan dipaku pada papan delman. Bahkan kelopak mataku pun tak sanggup kupejamkan. Seluruh tubuhku seperti dibungkus kain basah yang dingin dan berat, yang makin lama makin erat melilit dada hingga napasku tersengal. Orang-orang tua di kampung kami punya sebutan untuk keadaan semacam ini. Tersirep. Lumpuh oleh hawa sesuatu yang jauh lebih kuat daripada diri sendiri.

Di titik itulah, baru aku benar-benar mengingat desas-desus yang selama ini beredar di Kayu Jati. Tentang manusia setengah iblis yang berkeliaran mencari bangkai dan kotoran di malam hari. Tentang perempuan-perempuan yang di siang hari tampak biasa saja, menjemur padi, menumbuk kopi, mengaji di musala, lalu ketika malam tiba menjelma sesuatu yang tak sanggup dipandang. Orang-orang menyebutnya tuselak. Ada yang disebut tuselak bangke, yang hanya mencari bangkai dan kotoran lalu pergi setelah kenyang. Ada pula tuselak ate, yang lebih suka merusak hati manusia dan menakut-nakuti mereka hingga jatuh sakit. Dan ada yang paling ditakuti, tuselak bonga, yang konon sudah demikian sakti hingga sanggup terbang dan berganti rupa sesuka hatinya.

Tuselak macam apa yang berdiri di depan kami ini, aku tak tahu. Yang kutahu hanyalah bahwa setiap cerita yang dulu kutertawakan kini berdiri sepuluh langkah dari moncong kuda, meneteskan liur, dan menatapku dengan mata yang tak memiliki bagian putih.

Dari sudut mataku, kulihat Pak Sukar. Ia tak bergerak, sama sepertiku, tetapi ia jelas sedang melawan. Urat-urat di lehernya menegang. Keringat membanjiri pelipis dan tengkuknya, berkilat di bawah cahaya bulan. Rahangnya mengatup rapat, dan napasnya terdengar pendek-pendek, seperti napas lelaki tua yang sedang mendorong cikar berisi batu menaiki tanjakan.

“Kita tidak bisa terus diam begini, Dik,” desisnya di sela gigi yang terkatup. “Kita harus melawan.”

“Bagaimana, Pak?” Suaraku hanya berupa bisikan. “Jari pun saya tidak bisa gerakkan.”

Aku sudah berdoa sejak lampu petromaks itu padam. Ayat Kursi, tiga kul, selawat, semua yang pernah diajarkan kepadaku di serambi musala. Namun hawa yang membelenggu tubuhku tak sedikit pun mengendur. Barangkali karena makhluk di depan kami ini bukan jin, bukan pula setan, melainkan manusia. Manusia yang darah dan dagingnya masih manusia, yang masih bersujud di musala ketika waktu salat tiba, sebagaimana kata Bapak. Doa-doa itu barangkali tak membakarnya, sebab ia sendiri masih mengucapkannya.

 

Lalu, di tengah ketidakberdayaan itu, sepotong ingatan lain muncul. Ingatan yang selama ini terkubur di bawah cerita Bapak tentang Bu Hamidah. Malam yang sama, hujan yang sama, pelita yang sama. Sesudah bercerita, Bapak memandangiku lama, lalu berkata dengan nada yang jauh lebih serius daripada biasanya.

“Kalau suatu hari kamu bertemu tuselak, jangan biarkan dirimu kalah oleh hawanya,” katanya. “Mereka yang menjadi tuselak tidak lagi berkuasa atas dirinya sendiri. Mereka dikuasai lapar yang tak bisa dikenyangkan. Tapi jauh di dalam, Nak, mereka masih orang yang sama. Kadang-kadang mereka masih bisa mendengar.”

Mendengar. Kalau Bu Hamidah masih bisa mendengar, barangkali ia juga masih bisa mengenaliku.

Lihat selengkapnya