“Sebetulnya saya tak mau membicarakan ini kepada Dik Wati,” kata Pak Sukar tanpa mengalihkan pandangan dari jalan. “Hanya saja, ada banyak hal yang sesungguhnya harus Dik Wati ketahui.”
Aku tak segera menanggapi. Bayangan wajah Bu Hamidah masih menempel di pelupuk mataku, mata hitam legam itu, kuku-kuku yang melengkung, liur yang menetes dari dagunya. Namun yang lebih menggangguku saat itu justru hal lain. Delman Pak Sukar sudah berderak-derak cukup lama, jauh lebih lama daripada perjalanan berangkat tadi siang, dan Kayu Jati tak juga tampak. Aku mengenal jalan ini. Hanya ada dua tanjakan berbatu antara Kayu Manis dan kampungku. Kami sudah melewati yang pertama sebelum bertemu Bu Hamidah, dan yang kedua sesudahnya. Namun kini, di depan kami, menjulang lagi sebuah tanjakan dengan batu-batu yang sama, pohon asam miring yang sama, dan lubang besar di tepi kanan jalan yang sama persis dengan tanjakan pertama.
“Dik Wati!” Pak Sukar menepuk pundakku. Aku terlonjak dengan napas tersengal, seolah baru saja berlari mengitari Lapangan Kayu Jati. “Jangan melamun. Di jalan seperti ini, melamun bisa berbahaya.”
“Maaf, Pak.” Aku mengusap wajah. “Tapi kenapa kita belum sampai juga? Tanjakan ini … rasanya sudah kita lewati tadi.”
Pak Sukar tidak segera menjawab. Ia sibuk mengendalikan kudanya yang mulai gelisah menapaki batu-batu licin. Ketika delman akhirnya berhasil melewati puncak tanjakan dan jalan kembali mendatar, ia baru berkata pelan, “Itu yang mau saya ceritakan. Tapi untuk memahaminya, Dik Wati harus mendengar cerita yang lebih panjang. Tentang Kayu Jati dan Kayu Manis. Juga tentang bebai.”
Bebai. Kata itu terasa akrab sekaligus asing. Barangkali aku pernah mendengarnya dari mulut nenek-nenek di pancuran, atau dari gunjingan para lelaki di warung Bu Hikmah, lalu kulupakan begitu saja sebagaimana aku melupakan semua dongeng semacam itu. Sejak kecil, Bapak selalu mengajarkan bahwa hantu sebetulnya lebih takut kepada manusia daripada sebaliknya. Kalau tidak takut, katanya, mengapa mereka hanya muncul ketika seseorang sedang sendirian? Aku memegang ajaran itu bertahun-tahun. Namun malam ini, setelah apa yang baru saja kulihat, ajaran itu terasa seperti pagar bambu di tengah banjir.
“Ceritakan, Pak,” kataku akhirnya. “Daripada saya terus menghitung tanjakan.”
Pak Sukar mengembuskan napas panjang, lalu mulai bercerita dengan suara yang rendah dan teratur, seperti suara orang tua yang mendongeng di berugak sehabis isya.
“Dulu sekali, di zaman Belanda masih berkuasa di pulau ini, sebelum Kayu Jati dan Kayu Manis menjadi kampung seperti sekarang, kedua tempat itu terkenal sebagai sarang para belian. Tidak semua jahat, Dik Wati. Ada belian yang menyembuhkan orang, ada yang membantu perempuan melahirkan, ada yang menolak bala. Tapi ada pula yang memakai ilmunya untuk mencelakai sesama. Mereka itulah yang kita sebut belian seher.”
Konon, kata Pak Sukar, setiap malam Jumat Kliwon para belian dari kedua tempat itu berkumpul dan beradu kesaktian. Tak ada hadiah berupa uang atau harta. Yang menang hanya mendapat kehormatan, disegani, dan satu hak yang membuat semua belian rela bertaruh nyawa, yaitu hak membaca lontar-lontar tua yang berisi rahasia ilmu leluhur Sasak. Lontar-lontar itu tak pernah diperlihatkan kepada orang kebanyakan. Siapa pun yang menang tiga kali berturut-turut akan menjadi pemimpin para belian, memegang seluruh lontar itu, dan berhak menentukan siapa yang boleh membacanya. Tak seorang pun boleh membantah keputusannya.
Pertarungan itu bukan pertarungan dengan golok atau parang, kata Pak Sukar. Para belian bertarung dengan ilmu. Mereka duduk berhadapan di atas tikar pandan di tengah lapangan, dikelilingi warga yang membawa obor dan menabuh gendang beleq, lalu saling menyerang tanpa menyentuh. Ada yang menyemburkan sirih dan membuat lawannya tersungkur muntah darah. Ada yang membaca mantra hingga obor-obor di sekeliling lapangan padam serentak. Ada pula yang hanya menatap lawannya tanpa berkedip sampai salah seorang dari mereka menunduk dan mengaku kalah. Orang-orang tua menyebut pertarungan itu ngadu ilmu, dan katanya, darah yang tumpah pada malam-malam itu tak pernah meresap ke dalam tanah. Darah itu menggenang begitu saja sampai pagi, lalu kering dan hilang tanpa bekas, seolah diisap oleh sesuatu dari bawah.
“Yang menang berhak membacakan lontar-lontar tua di berugak para tetua,” lanjut Pak Sukar. “Pepaosan, kata orang sekarang. Satu orang membaca dengan suara berirama seperti menembang, satu orang lagi menerjemahkannya ke dalam bahasa yang dimengerti semua orang, dan seluruh kampung duduk mendengarkan sampai subuh. Dari situlah ilmu-ilmu lama itu diwariskan. Ilmu pengobatan, ilmu bercocok tanam, ilmu membaca tanda-tanda alam. Tapi di antara lontar-lontar itu, ada pula yang tak pernah boleh dibacakan di depan orang banyak. Lontar-lontar yang hanya boleh dibaca oleh pemimpin, dan hanya di dalam hati.”
“Lalu apa hubungannya dengan bebai, Pak?”
Pak Sukar terkekeh pelan. “Sabar, Dik Wati. Semua yang saya ceritakan nanti akan bermuara ke sana.”