Tuselak: Purnama Merah di Kayu Jati

Marion Drossi
Chapter #5

Yang Tiada Menjadi Ada

Sempoter, Pak Sukar menyebutnya. Sejumput tanah merah yang telah dijampi-jampi, lalu ditaburkan di sepanjang jalan yang akan dilewati seseorang. Siapa pun yang menginjaknya akan terus berputar di jalan yang sama, melewati pohon yang sama, menapaki tanjakan yang sama, tanpa pernah tiba di tujuan. Ia akan kebingungan, lalu ketakutan, lalu kelelahan, dan bila tak ada yang menolongnya, ia akan mati di tempat itu dalam keadaan masih percaya bahwa rumahnya sudah dekat. Di kampung-kampung di pelosok timur, kata Pak Sukar, sudah banyak orang yang hilang di jalan hutan dan ditemukan berhari-hari kemudian dalam keadaan linglung atau tak bernyawa, hanya beberapa ratus langkah dari rumah mereka sendiri.

“Tanah merah itu sendiri tidak berbuat apa-apa,” jelasnya. “Yang membuat kita berputar adalah makhluk-makhluk yang dipanggil oleh jampi di dalamnya. Mereka yang menuntun kaki kuda ini kembali ke jalan yang sama, berulang-ulang, sampai orang yang melepas sempoter memerintahkan mereka berhenti. Atau sampai kita menemukan di mana tanah itu ditaburkan, lalu memutus jampinya.”

Aku tak mampu mencerna semua itu dengan akal sehat. Namun aku pun tak lagi sanggup menyangkalnya. Tanjakan berbatu itu masih berdiri di depan kami, dengan pohon asamnya yang miring dan lubang besarnya yang menganga, untuk keempat kalinya.

Yang lebih membuatku gelisah justru perubahan pada diri Pak Sukar. Sepanjang hidupku, aku hanya mengenalnya sebagai kusir dokar yang ramah, murah senyum, gemar mengobrol, dan memasang tarif murah sehingga warga Kayu Jati selalu memilih delmannya ketika hendak ke pasar. Lelaki tua yang biasa-biasa saja. Namun malam ini, di bawah cahaya bulan yang pucat, wajah itu tampak berbeda. Garis-garis di sekitar matanya menegang. Sorot matanya tajam dan waspada. Bahunya tegak. Ia tak lagi tampak seperti kusir tua yang kebingungan, tapi seperti seseorang yang sudah lama menunggu malam seperti ini datang. Bagaimana mungkin seorang kusir tahu begitu banyak tentang belian, tentang Mursila, tentang tanah merah yang dijampi? Dan apa maksudnya ketika ia berkata mengetahui sesuatu tentang bapakku?

Belum sempat aku bertanya, Pak Sukar turun dari delman. Ia berjalan beberapa langkah ke depan, lalu berhenti di tengah jalan setapak, kira-kira sepuluh langkah dari kuda. Ia berdiri tegak membelakangiku, kedua tangannya tergantung di sisi tubuh, kepalanya sedikit tertunduk. Ia tidak bergerak. Tidak berbicara. Seakan ia sedang mendengarkan sesuatu yang tak dapat kudengar.

 

Lalu aku merasakannya. Seseorang duduk di belakangku. Di atas papan delman, di tempat yang seharusnya kosong. Aku tak mendengar bunyi apa pun. Tak ada derit papan, tak ada embusan napas. Namun aku tahu, sebagaimana kita tahu ada orang yang berdiri di belakang kita meski mata kita terpejam. Udara di tengkukku mendadak dingin, dingin yang lain sama sekali dengan dinginnya angin malam, dingin yang merayap pelan dari tulang punggung ke ubun-ubun. Bulu-bulu halus di lenganku berdiri satu per satu.

Aku tak berani menoleh. Bola mataku bergerak ke sudut, berusaha menangkap apa pun dari tepi pandangan, tetapi yang kulihat hanyalah gelap. Napasku tertahan di dada, dan aku tak tahu sudah berapa lama aku tak bernapas. Aku ingin menjerit memanggil Pak Sukar. Aku ingin melompat dari delman dan berlari. Namun tubuhku membeku, persis seperti ketika aku tersirep di hadapan Bu Hamidah.

Kemudian, di dalam kepalaku, atau barangkali di kulitku sendiri, aku merasakan sepasang tangan. Kurus, hitam pekat, kuku-kukunya panjang dan runcing. Tangan itu merayap dari punggungku, naik perlahan ke bahu, lalu ke leher, dengan kesabaran yang mengerikan. Aku tak tahu apakah tangan itu sungguhan atau hanya khayalan yang lahir dari rasa takutku sendiri. Yang aku tahu, jemari itu kini tiba di wajahku. Ujung kukunya menyentuh pipiku. Lalu perlahan, jemari itu mulai melingkari kepalaku, seakan hendak mencengkeram dan memutarnya.

Jeritku sudah berada di ujung tenggorokan ketika sebuah tangan menepuk bahuku.

“Dik Wati.”

Pak Sukar sudah berdiri di samping delman. Entah sejak kapan, sebab aku tak mendengar langkahnya. Begitu suaranya menyentuh telingaku, tangan-tangan itu lenyap. Udara dingin di tengkukku pun hilang seperti asap tertiup angin. Aku tersengal, lalu tanpa berpikir panjang, aku memeluknya erat-erat seperti anak kecil yang terbangun dari mimpi buruk.

“Saya takut, Pak. Saya takut.”

“Sudah, sudah,” bisiknya sambil menepuk-nepuk punggungku. “Tidak ada apa-apa. Kamu aman sama saya.”

Lihat selengkapnya