Tuselak: Purnama Merah di Kayu Jati

Marion Drossi
Chapter #38

Epilog

Setahun telah berlalu sejak malam purnama merah itu.

Kamboja muda yang kutanam di antara kubur Ibu dan Bapak ternyata berbunga lebih cepat daripada yang dijanjikan Pak Sukar. Kuntumnya baru tiga, putih dengan semburat kuning di tengahnya, dan setiap Jumat sore aku menemukan satu di antaranya gugur di atas nisan Ibu. Selalu di atas nisan Ibu, tak pernah di atas nisan Bapak. Papuq Lebe bilang itu hanya kebetulan, sebab angin di pemakaman barat bukit memang selalu berembus dari arah yang sama. Aku tak membantahnya. Namun setiap kali memungut kuntum itu, aku menyelipkannya di balik telinga dan membawanya pulang, dan malam-malam sesudahnya, tidurku selalu tenang.

Banyak yang berubah di Kayu Jati dalam setahun itu. Orang-orang tak lagi berbisik ketika aku lewat di depan warung Bu Hikmah. Beberapa bahkan menyapaku lebih dulu, meski dengan suara yang masih kaku, seperti orang yang belajar mengucapkan kata dalam bahasa asing. Inaq Saodah kerap mengirimkan sepiring jaje tujak ketika ia membuat terlalu banyak, dan adik Bowo yang kecil itu kini suka duduk di berugakku setiap sore, minta diajari membaca huruf hijaiyah dengan lidi di atas pasir, sebagaimana dulu Bapak mengajariku. Setiap kali anak itu salah mengeja dan tertawa malu, aku melihat sesuatu yang dulu tak pernah kumiliki di masa kecilku. Seorang anak yang tak takut duduk di sebelahku.

Dan Sulaeman. Tiga bulan yang lalu, keluarganya mengirim utusan ke rumahku sesuai adat, dua orang tetua yang membawa sirih pinang di atas nampan berukir dan berbicara dengan bahasa halus yang panjang dan berbelit tentang bunga yang hendak dipetik dan kumbang yang telah lama menunggu. Pak Sukar duduk di sampingku sebagai wali, sebab tak ada lagi keluargaku yang tersisa. Aku tak menjawab hari itu. Aku meminta waktu. Para utusan itu pulang dengan wajah bingung, dan malam harinya, Pak Sukar memandangiku lama di berugak tanpa berkata apa-apa. Ia tahu mengapa aku ragu. Barangkali hanya ia yang tahu.

Sebab ada satu kalimat dari lempir pertama yang tak pernah berhenti bergaung di kepalaku. Mursila tidak akan mati selama darahnya masih mengalir di tubuh orang lain. Aku sudah melihat tubuh Mursila terbakar di bawah cahaya fajar, kata orang-orang. Aku sudah mendengar dari mulut Sulaeman bagaimana abunya diterbangkan angin ke arah lembah. Namun aku juga tahu, darah lelaki tua itu masih mengalir di nadiku, merah kehitaman, menutup setiap luka kecil di jariku sebelum aku sempat mencari kain untuk membalutnya. Dan bila suatu hari aku menikah, bila suatu hari aku mengandung, darah itu akan mengalir pula ke tubuh anakku.

Malam itu malam Jumat Kliwon. Bulan bersinar biasa, putih keperakan, tidak merah, tidak pula bulat sempurna. Aku tidur lebih awal sesudah isya, dengan keris Bogeng Samil terbungkus kain tenun di bawah bantal, sebagaimana kebiasaanku setiap malam Jumat sejak purnama itu. Aku tak ingat bermimpi. Aku tak ingat bangun. Yang kuingat hanyalah rasa dingin yang menusuk telapak kaki, dan bau tanah basah, dan desau daun-daun yang terlalu dekat dengan telingaku.

Ketika aku membuka mata, aku berdiri di bahu Bukit Kayu Jati. Di depanku, beringin tua itu menjulang hitam di bawah cahaya bulan, akar-akar gantungnya bergoyang pelan seperti rambut seorang perempuan yang sedang menunduk. Mulut gua di antara akar-akarnya telah kembali menyempit, hanya selebar celah yang dulu kulihat pada malam pertama aku membuntuti Bapak. Kakiku telanjang dan berlumur tanah merah. Selendangku basah oleh embun. Aku tak tahu sudah berapa lama aku berdiri di sana, dan aku tak tahu jalan mana yang telah kulalui untuk sampai ke tempat itu. Tubuhku yang membawaku. Atau sesuatu di dalam tubuhku.

Lalu terdengar ketukan dari dalam gua.

Lihat selengkapnya