Aiq meneng, tunjung tilah, empak bau: Peribahasa Sasak: airnya tetap jernih, teratainya tetap utuh, ikannya tertangkap. Menyelesaikan persoalan tanpa menimbulkan kekeruhan.
Amaq: Sapaan untuk bapak atau lelaki dewasa yang sudah berkeluarga.
Basong: Anjing; kata makian.
Bawi: Babi; kata makian.
Bebadong: Azimat atau jimat penangkal, biasanya berupa kalung benang, gelang akar bahar, atau batu kecil yang dibungkus kain.
Bebai: Makhluk kecil berambut merah kusam dan bermata seperti tikus, lahir dari rahim perempuan tuselak pada bulan ketiga kehamilan.
Beboro: Makhluk halus yang berkeliaran menjelang magrib dan menyamar menjadi orang yang baru meninggal.
Begawe: Pesta atau hajatan adat, seperti pernikahan atau khitanan.
Belangar: Melayat ke rumah duka, biasanya sambil membawa beras atau bahan makanan.
Belian: Dukun atau tabib tradisional Sasak.
Belian bideng penyedak: Dukun hitam perusak.
Belian penangkal: Belian yang bertugas menangkal dan memburu tuselak.
Belian seher: Belian yang menuntut ilmu dengan jalan sesat.
Berugak: Balai kecil bertiang empat atau enam tanpa dinding, tempat bersantai, menerima tamu, dan bermusyawarah.
Cikar: Gerobak beroda dua yang ditarik sapi atau kerbau.
Cupak: Takaran beras tradisional.
Dokar: Kereta kuda beroda dua; delman.
Ende: Perisai bundar dari kulit kerbau yang dipakai dalam peresean.
Gawah: Hutan larangan yang tak boleh ditebang atau dimasuki sembarangan.
Gendang beleq: Gendang besar dalam gamelan Sasak.