Tuselak: Purnama Merah di Kayu Jati

Marion Drossi
Chapter #39

Glosarium

Aiq meneng, tunjung tilah, empak bau: Peribahasa Sasak: airnya tetap jernih, teratainya tetap utuh, ikannya tertangkap. Menyelesaikan persoalan tanpa menimbulkan kekeruhan.

Amaq: Sapaan untuk bapak atau lelaki dewasa yang sudah berkeluarga.

Basong: Anjing; kata makian.

Bawi: Babi; kata makian.

Bebadong: Azimat atau jimat penangkal, biasanya berupa kalung benang, gelang akar bahar, atau batu kecil yang dibungkus kain.

Bebai: Makhluk kecil berambut merah kusam dan bermata seperti tikus, lahir dari rahim perempuan tuselak pada bulan ketiga kehamilan.

Beboro: Makhluk halus yang berkeliaran menjelang magrib dan menyamar menjadi orang yang baru meninggal.

Begawe: Pesta atau hajatan adat, seperti pernikahan atau khitanan.

Belangar: Melayat ke rumah duka, biasanya sambil membawa beras atau bahan makanan.

Belian: Dukun atau tabib tradisional Sasak.

Belian bideng penyedak: Dukun hitam perusak.

Belian penangkal: Belian yang bertugas menangkal dan memburu tuselak.

Belian seher: Belian yang menuntut ilmu dengan jalan sesat.

Berugak: Balai kecil bertiang empat atau enam tanpa dinding, tempat bersantai, menerima tamu, dan bermusyawarah.

Cikar: Gerobak beroda dua yang ditarik sapi atau kerbau.

Cupak: Takaran beras tradisional.

Dokar: Kereta kuda beroda dua; delman.

Ende: Perisai bundar dari kulit kerbau yang dipakai dalam peresean.

Gawah: Hutan larangan yang tak boleh ditebang atau dimasuki sembarangan.

Gendang beleq: Gendang besar dalam gamelan Sasak.

Lihat selengkapnya