Tutorial Memboikot Rasa?

dwinsza
Chapter #1

Prolog — D-1068: hidup

⚠️ Trigger Warning: Ide bunuh diri, panic attack, self harm, dan depresi. Baca dengan bijak, skip kalau kamu ngerasa tidak nyaman 🤍

.

.

.

"Loh baru balik?"

Seseorang bersurai hitam yang mendengar sapaan itu menengadahkan kepala. Pemuda di balkon atas tengah menyapa. Tetangga barunya yang sok akrab.

Kemuakan menggerogoti hati, dengan langkah cepat kaki menaiki tangga. Sesaat diam di depan kamar, meladeni sapaan itu. "Eh iya ini, biasa."

Entah apa ujaran selanjutnya yang tetangga itu katakan. Ia sendiri telah melangkah masuk, meninggalkan basa basi terkikis perlahan di udara.

Gelap. Kamar ini gelap begitu pintu tertutup. Bukan karena tak ada lampu. Hanya sang empu terlalu malas menggapai saklar dari posisi duduk — merosot di balik pintu.

drrrrt drrrrtt

Sedari tadi ponsel di saku jaket terus bergetar. Seolah memaksa untuk bangkit berdiri menghidupkan lampu. Pelan tangan itu meraba-raba dinding. Dingin.

Lampu hidup menelan gelap kamar. Pancaran lampu lima watt menembus lensa. Ia menatap nanar sekeliling. Sorot redup mulai memindai meja belajar. Kamus yang telah menjadi belahan hati, kotak penyembuh yang orang-orang sebut P3K, dan amplop coklat pudar berbahan tebal.

Lensa gelapnya terhenti di amplop itu. Alasan sang raga menetap di kosan, di kota ini.

Asing? Mungkin satu kata itu yang kini terus berputar dalam kepala. Ada jarak tak kasat mata. Jarak antara dia dengan kota ini. Jarak antara dirinya dengan masa lalu.

Ia harus bertemu dengan seseorang yang semestinya dekat, namun terasa tak dekat. Sayang, keasingan menunda tindakan.

Bagaimana cara mengantarkan pesan kepada seseorang yang ... asing? Bagaimana ia harus berkata, mewakili seseorang yang tak lagi sanggup bercerita sendiri?

Pikiran mulai keruh kembali. Tanggung jawab ini — buah dari sikap reaktif sendiri — samar-samar kembali terlintas. Mau menyalahkan siapa, kalau itu kehendak sendiri. Matanya sempat terpejam, menelungkupkan muka. Selang berapa lama, berdiri.

"Terserahlah." Mata bergulir malas, enggan menatap meja.

Tubuh berbalut jaket hitam itu terseok-seok, merosot di kursi depan meja, menggelamkan rasa tak nyaman dalam lipatan lengan. Ia mencoba untuk tidur. Namun, pikiran tak mau tidur.

Pikiran seolah berkata, "Bereskan dulu masalahmu." Hanya embusan napas kasar sebagai balasan.

Lesu ... terpaksa tubuhnya bangkit. Ia lepas jaket yang selalu menemani dan tas hitam yang masih tersampir di bahu.

Sesaat pikiran mengambil alih, menghentikan aktivitas yang tengah ia lakukan. Berisik. Dengung di telinga menulikan pendengaran, tapi berisik itu seolah nyata. Kilasan rasa sesak kembali menghantam. Oksigen tiba-tiba lenyap.

Tangan gemetar mengepal memukul dada, memaksa oksigen kembali menyapa. Pusing mulai menghampiri membuat pikiran bekerja lebih. Mata memanas, kala kesadaran memudar.

Lihat selengkapnya