TUTWURIMAN

Akhmad Rifaldi
Chapter #1

Masa Depan Jingga #1

Zaman Sekarang - Jakarta

"Pak, ada yang cari Bapak, mereka tampak emosi tinggi, mereka ada di lobi". Kata resepsionis lantai 29, Ditta.

"Ada berapa orang? Tujuannya apa?" Walau terasa getir pertanyaanku.

"Mereka ada sekitar 12 orang, dengan badan besar-besar bertato, mereka menagih piutang perusahaan yang dikuasakan kepadanya". Katanya.

Nafas Ditta tidak beraturan dan berusaha untuk menginformasikan sesingkat mungkin. Pulpen yang dia pegang bergetar, terlihat ujung pulpen masih di dalam batang pulpen belum di tekan, sangat tampak sekali kekhawatirannya. Andai kuberteriak untuk mengagetinya, tentu jantungnya copot.

Ditta masih belum genap tiga bulan bekerja di perusahaan ini, jadi dia tidak mengetahui apa yang kualami selama enam tahun aku bertugas di perusahaan ini. Banyak Debt Collector (‘DC”) yang sering datang kesini seperti Preman, pembunuh, aparat, pengacara, kuasa hukum bahkan dukun juga ada.

Banyak hal-hal mengerikan telah kualami, baik itu pelemparan asbak rokok, kotak tisu berdentum di atas meja bahkan mantra-mantra santet bergema di ruangan meeting. Yang paling membuatku hanyut dalam ancamannya adalah melepaskan kepalaku dari tubuh dan mempersembahkannya kepada pemilik piutang. Walaupun hatiku menciut, itu harapan mereka untuk membunuh mentalku, namun kuberusaha tetap tenang di depan para stafku.

Mendengarkan keluh kesah dari tujuan mereka datang ke kantor ini. Mendengarkan adalah hal yang terpenting dalam menghadapi Penagih Hutang. Walaupun kata-katanya menyakitkan hati, berusahalah untuk tetap tersenyum.

"Pak, jadi gimana?" Ditta mengulang pertanyaannya.

"Minta mereka naik hanya dua orang, jangan lupa kawal beberapa security untuk mengawal, anggotanya yang lain tetap tunggu di lobi bawah". Perintahku.

"Baik Pak, satu lagi, ada anak muda juga ingin bertemu dengan Bapak, katanya dari Kalimantan, hanya ingin bertemu dengan Bapak".

"Siapa Namanya?" tanyaku

"Katanya namanya Adi dari Kalimantan Selatan". Senyuman Ditta dipaksakan, masih belum lepas dari kegetiran atas tamu yang pertama.

"Okey, silakan dia naik dan tunggu setelah DC itu selesai, saya akan temui dia". Ujarku, kata DC adalah istilah Debt Collector, Penagih Hutang.

"Pak Yanto, minta tolong buatkan kopi manis buat tamu saya ya?". Kebetulan Office Boy lewat tak jauh dari meja resepsionis.

Setelah itu, kusegerakan langkahku kembali ke ruanganku dilantai 30 melewati tangga kayu. Bunyi sepatu menapak kayu sangat kentara saat menjajaki setiap lembar kayu anak tangga. Mungkin sudah ratusan kali kulewati tangga ini, sambil hitung-hitung olahraga lutut kaki.

Setelah melewati lorong menuju ruanganku, para stafku sibuk dengan pekerjaan administrasinya, menghitung hutang, mencocokkan pembayaran, sangat melelahkan buat mereka untuk memelototi angka-angka kecil dilayar monitor.

Cashflow perusahaan memang sangat berat dalam beberapa tahun terakhir ini, sehingga banyak pembayaran yang tertunggak, secara administrasi dibutuhkan rekonsiliasi keakurasian yang dihitung secara berulang-ulang. Kami harus ekstra keras untuk menjelaskan kepada perusahaan-perusahaan penyedia suku cadang dan bahan bakar operasional, kenapa kami tidak mampu melakukan pembayaran penuh, tidak sedikit perusahaan yang tidak peduli alasan penundaan tersebut.

"Pak, ada preman cari Bapak di bawah, katanya mereka pada mengamuk". Salah satu stafku menginformasikan kembali tamuku, saat aku melintas di depan meja office stations, entah dapat info dari mana juga dia.

"Okey, saya sudah mengetahuinya". Jawabku sambil terus berjalan menuju ruanganku yang ada di ujung lantai untuk mempersiapkan dokumen-dokumen rekonsiliasi hutang yang dibutuhkan saat ini.

Ruanganku berdinding kaca tebal tepat menghadap Tanah Abang Jakarta Pusat, Tanah Abang yang terkenal dengan pedagang-pedagang grosir terbesar se-Asia Tenggara, dari sudut sana, aku juga bisa melihat gedung Bank Indonesia yang megah, pusat keuangan Pemerintah Republik Indonesia.

Kalau sudah menjelang senja, sudut pandanganku akan disuguhkan pemandangan senja, tenggelamnya matahari secara perlahan dibalik gedung-gedung perkantoran, memang sungguh indah panorama dari sudut kantorku ini.

Tiba-tiba telepon di meja berbunyi, bernyanyi sebagai tanda waktunya telah tiba. Sesegera mungkin kuangkat, tidak menunggu berbunyi dua kali, aku sudah mengetahui dari siapa dan untuk apa panggilan itu.

"Pak Rif, mereka sudah ada di ruangan, maaf Pak. Sepertinya mereka naik semua, entah seperti apa cara mereka menggunakan kunci akses masuk, mungkin menggunakan satu kunci akses untuk memasukkan teman-temannya secara bergantian, security tidak bisa menahannya, tadi sudah terjadi keributan di bawah Pak". Ditta menjelaskan dengan terbata-bata, sebenarnya ini yang sangat kukhawatirkan atas kecerobohan penerimaan tamu.

"Bagaimana sih security kita, kok bisa sampai kecolongan begitu? Ya sudah.... biar saya temui mereka". Kataku dengan nada emosi, namun tidak menutupi rasa getirku menghadapi preman-preman Jakarta yang terkenal kenekatannya demi sedikit uang.

Pikirku ini adalah kesalahan fatal tenaga keamanan di Gedung ini, aku akan proses sesuai protokol peraturan perusahaan setelah pelaksanaan meeting ini. Tetapi itu tidak terlalu penting, yang penting adalah kuberdoa semoga hari ini tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.

Lihat selengkapnya