TUTWURIMAN

Akhmad Rifaldi
Chapter #6

Idolaku Tetanggaku #6

Awal Tahun 1990 - Kotabaru

Di depan rumahku, di bawah pohon belimbing yang berbuah lebat. Kududuk di atas bangku bambu yang panjang menghadap bangunan rumahku dan membelakangi jalan raya. Kaki bangku bambu ini menancap di dalam tanah, menancap permanen tidak bisa dipindah-pindah, Kakak dan pamanku yang membuat bangku bambu ini.

Sekali-sekali daun belimbing berjatuhan diterpa angin, bunyi gesekan ranting dengan atap ambin rumah menambah suasana penuh arti, hawa pegunungan yang sejuk membuatku hanyut terbius oleh panorama alam pepohonan yang rindang. Alam telah menyanyikan lagu sentimental yang dapat merasuki pikiran dan membangkitkan rasa kantuk. Berkali-kali mulutku menguap, merayu mata untuk dapat segera terpejam, tidak ada lagu manusia yang dapat mengalahkan lagunya alam yang dapat membelai kelopak mataku.

"Adi...". Rayuan alam masih menghanyutkanku.

"Adiiiii.." Ibuku memanggil dari dalam rumah. Mataku dengan berat dan sekuat tenaga kubuka dengan bersusah payah, pekerjaan yang paling berat adalah membuka mata saat mengantuk berat.

"Ya Ma.." Teriakku membalas panggilannya. Segera kumasuk ke dalam, mencari di mana Ibu berada, kutemukan Ibu di dapur sedang menyiapkan dagangan gado-gado untuk malam ini.

"Tolong belikan gula setengah kilo, Ajinomoto 2 bungkus dan bawang putih dua biji." Kata Ibu, sambil menyerahkan beberapa ribu rupiah.

"Ini masih pagi Ma".

"Jam segini warung mama Nia sudah buka".

Jantungku berdetak girang ketika Ibu menyebut nama itu, kelopak mataku yang tadinya berat untuk dibuka ternyata dapat terbuka sendiri dengan kunci nama spesial, nama itu telah turut serta menata dan menyusun kalbu. Warungnya tepat berada di depan rumahnya, berjarak hanya beberapa puluh meter dari rumahku yang hanya dibatasi oleh satu buah rumah saja.

Nia seumur dengan diriku sama-sama kelas 3, sekolahnya di SMP Negeri 1 Kotabaru, yang jarak sekolahnya sekitar 2 Km mengarah ke perkotaan. Nia gadis hitam manis berambut panjang, sepanjang pantat. Rambutnya selalu dikepang tinggi dengan kucir satu berwarna hitam pekat. Ibunya berjualan rempah-rempah, sayuran dan barang-barang dagangan kelontong, sedangkan ayahnya adalah sopir angkot berwarna hijau dengan nomor 10, warna angkot semuanya standar di Kotabaru.

Walaupun kami bertetangga, tetapi aku baru berteman dengannya tidak lama semenjak dia ditugaskan Ibunya menjaga warung. Awalnya dia hanya mampu menjual permen-permen, tetapi sekarang sudah bisa melayani semua barang dagangan yang ada di warungnya. Keahliannya sudah sepadan dengan senyumannya. Senyum yang manis dengan lesung pipi, membuatku terpesona, dia adalah tetanggaku idolaku.

"Ayo sana pergi." Perintah Ibuku.

"Iya Ma." Kataku bergerak dengan semangat. Pikiran senangku telah membangkitkan semangatku untuk bergerak cepat, membius rasa kantuk telah hilang dengan sempurna. Tugas dari Ibu memang telah kunanti-nantikan di pagi hari ini.

Tepat di depan pintu rumahku, aku telah melupakan sesuatu, sesuatu bagian dari tugas dari Ibu, aku lupa apa saja tadi yang diminta oleh Ibu tadi. Segera kukembali lagi ke dapur menemui Ibu.

"Kenapa balik lagi?" Tanya Ibu.

"Adi lupa yang mau dibeli tadi apa saja Ma?" Pertanyaan yang memalukan sebenarnya.

"Astaga Di, baru saja diberi tahu, kok lupa, untung baru sampai depan rumah."

"Betul-betul lupa, Ma." Kataku sambil cengengesan senyum malu-malu.

"Gula setengah kilo, ajinomoto 2 bungkus dan bawang putih 2 siung".

"Setengah kilo Gula, 2 siung Bawang Putih dan 2 bungkus Ajinomoto". Kuulang pesanan Ibu.

"Uangnya sudah ya, siapa tahu kau lupa juga."

"Iya Ma, ingat. Adi ke belakang dulu Ma, mau pipis."

Mama melanjutkan pekerjaannya menggoreng kacang di atas tungku arang. Wajahnya berkeringat diterpa hawa panas wajan gorengan dan mata berkedip-kedip diterpa asap arang.

Kumelangkah ke kamar mandi yang jadi satu dengan toilet, kututup pintu dengan sekuat tenaga, pintu terbuat dari kayu ulin yang berat, pintu berderit keras saat kudorong menutupnya, gesekan benda keras antara kayu ulin dengan kayu ulin. Kreeeekkkkk... mungkin seperti itulah bunyinya.

Setelah kencing dan menyiram dengan air beberapa gayung, sambil bercermin rambut kubasahi dengan air yang ada di dalam drum, kubasahi telapak tanganku lalu kuusap rambutku berkali-kali. Kusisir dengan jemariku, terutama rambut di atas telinga kiri dan kanan, lalu kutarik beberapa helai rambut di atas keningku.

"Buatlah dirimu memesonanya." Kataku berbisik kepada cermin di depanku, senyum-senyum bibirku memandang cermin, sambil kutunjuk-tunjuk bayanganku dicermin.

"Adi, kau buang air kecil atau besar sekalian, kok lama?" sindir Ibu, walaupun pelan tetapi masih kedengaran.

Segera kubuka pintu kamar mandi dengan sekuat tenaga, kembali pintu berderit kencang. Kulari meninggalkan dapur, berpapasan dengan Ibu tanpa bertegur sapa sebagai basa basi. Bergegas keluar rumah dengan celana pendek dan baju kaos berkerah kerong-kerong, istilah kerong-kerong adalah baju berwarna-warni motif garis-garis mendatar.

"Cil... u cil.." Teriakku dari depan warung. Dengan perasaan was-was berharap Nia yang keluar rumah untuk melayani di warungnya. Belum ada juga tanda-tanda orang yang keluar, hanya ada seekor kucing putih hitam berekor panjang sedang menjilat-jilat tubuhnya di atas bangku kayu, itu cara kucing untuk mandi pagi.

Kudatangi ke arah pintu rumahnya, di belakang warung, agar suaraku terdengar masuk ke dalam rumahnya. Kuangkat telapak tanganku ke depan mulut dengan maksud sebagai corong pengeras suara.

"Assalamu'alaikum." Teriakku lagi. Kudengar ada langkah kaki dari dalam rumah, suara itu semakin mendekat dibalik pintu yang sedikit terbuka. Perasaanku sudah tidak karuan, seperti sambal gado-gado yang diulek-ulek.

"Wa'alaikumsalam." Ibunya membalas salamku.

Kusembunyikan rasa kecewaku dari pandangan ibunya, harapanku untuk bertemu dengan Nia pupus ditelan Ibunya. Harapanku untuk mengobrol banyak dengan dia menjadi pudar ketika wajah Ibunya terlihat dibalik pintu. Berharap anak gadisnya yang bertransaksi jalur khusus, berubah menjadi transaksi biasa antara penjual dan pembeli.

"Mau beli apa Di?" tanya Ibunya, dengan senyum manis, terhampar lesung pipi Ibu itu mirip dengan senyuman anaknya, tetapi tidak mengobati kekecewaanku.

"Beli gula dan Bawang putih." Kataku datar.

"Berapa yang mau dibeli?" Kulihat Ibu Nia memandangku, sepertinya dia mulai mencurigaiku. Gerak-gerikku sudah mulai terbaca, aku mulai kikuk dibuatnya.

"Setengah Kilo Gula dan 2 siung bawang putih." Jawabku pelan.

Kuserahkan uang dari saku celana pendekku. Ibu Nia mengambil bawang putih sesuai pesanan lalu menimbang gula sesuai dengan timbangan dacing. Kakiku bersandal jepit mengais-ngais batu-batu kecil di depanku, dengan sendalku mengeluarkan batu kecil dari timbunan tanah, lalu menggesernya beberapa senti untuk dimasukkan ke lubang yang lain. Memang kegiatan ini tidak ada manfaatnya, membongkar batu kecil lalu memasukkannya lagi ke lubang yang lain.

"Nia lagi Shalat." Ibunya mengagetkanku.

"Belum waktu dzuhur." Suaraku lirih, ada unsur sedikit protes.

"Duha." Ibunya melotot dan aku cengengesan senang.

Dia sudah tahu maksud dan tujuanku terhadap anaknya. Wajar saja, dari usianya sudah berpengalaman membaca pikiran bocah ingusan sepertiku. Kali ini aku tidak bisa menyembunyikan rasa senangku, senyumku merekah tanpa bisa aku bendung, ini adalah sebuah isyarat dan bantuan khusus dari seorang Ibu.

Beberapa malam terakhir, setelah Shalat Isya, aku sering datang ke rumah ini untuk belajar bersama-sama dengan Nia, aku selalu membawa buku yang dibutuhkan, atau sebaliknya. Jadi Ibunya paham maksud dan tujuanku yaitu membuat janji jadwal belajar bersama.

"Ba.. baik, iya Bu Nia". Aku tergagap.

"Nih gula, bawang dan kembaliannya". Ibunya menyerahkan bungkusan plastik, kusambut dari tangan seorang Ibu yang baik hati.

Beliau telah memberiku sebuah peluang dan kesempatan untuk pendidikan anak-anaknya, otakku sudah seperti anggota dewan. Ibunya pasti tidak menyangka bahwa diriku telah mengidolakan dan menyanjung anak gadisnya, sepertinya ini teriakan hati anak muda, bukan seorang bocah sepertiku. Nah apa maksudnya, aku kan sudah dewasa, sudah menjadi pemuda.

"Terima kasih Bu." Kataku dan segera beranjak dari warung itu. Sedikit bersiul, berjalan pulang dengan santai, bagiku masih ada kesempatan terbuka untuk hari ini.

Jadwal belajar bersama selalu kami tentukan pada malam Sabtu atau malam Minggu, bahkan di kedua malam itu secara berturut-turut, malam-malam sakral bagi anak muda dan mudi.

Kami sama-sama kelas 3 SMP dari sekolah yang berbeda, jadi materi pelajaran kami berdua adalah sama, dalam hal ini aku unggul dimata pelajaran Matematika sedangkan dia adalah Biologi dan Ilmu Pengetahuan Alam. Dia juga bintang kelas dikelasnya, apalagi sekolah dia adalah sekolah unggulan di Kotabaru ini. Semangat belajarnya tinggi, ambisi untuk mendapatkan ranking adalah tujuannya bersekolah di SMP Negeri 1 tersebut. Walaupun kami berbeda sekolah, tetapi persaingan sudah termotivasi di antara kami berdua.

"Ini Ma, Gula dan Bawangnya". Kataku sambil menyerahkan bungkusan belanjaan dari warung tetangga.

"Mana Ajinomotonya?" Tanya Ibu sambil membongkar-bongkar plastik belanjaan, yang dia temukan hanya Gula, Bawang Putih dan uang kembalian.

"Alhamdulillah." Tanpa sadar, ucapan bersyukur keluar dari mulutku.

"Loh kok Alhamdulillah sih?"

"Oh, maksud Adi Astagfirullah, Ma." Kataku, seraya menutup bibirku yang tersenyum dengan telapak tanganku.

Lihat selengkapnya