Kemunculan Khakhfy tidak dapat kuhindari, dia muncul lagi dibalik dinding di mana dia keluar tadi, kemunculannya berada dalam sebuah garis melingkar berwarna merah. Tubuhnya yang tinggi besar, wajah yang sangat tampan dibandingkan dengan paras manusia, perawakan yang perkasa dan tangguh. Raut wajah bersih seperti kulit bayi dan hidung mancung. Kalau saja orang seperti dia muncul diduniaku, pastilah akan menjadi idola dan suami idaman di seluruh dunia. Semua wanita hidup akan terkagum-kagum dan berteriak histeri melihat Khakhfy ini.
"Kalian ikut saya, Dewan Imigrasi telah menyetujui, namun ada syaratnya". Kata Khakhfy. Aku pun mengikuti ke mana arah kakinya melangkah. Tidak berani menyela ataupun bertanya. Undang-undang di sini sangat berbeda dengan undang-undang dan peraturan didunia manusia, lebih baik diam sebelum menambah kesalahanku.
Saat dia menembus dinding yang ada di depanku. Langkahku berhenti, aku ragu dapat menembus dinding itu, kalau menabrak dinding sih tidak apa-apa pikirku, tetapi kalau terjepit di antara dinding itu akan mempercepat kematianku. Kucoba meraba dinding dengan berhati-hati, sekeras apakah dinding ini, atau ini hanya dinding virtual yang hanya terlihat oleh kasat mata namun tidak dapat tersentuh oleh kulit manusia.
"Jangan takut, dinding ini masih aman buat tubuh manusia". Kata Dhyzah, seraya memegang lenganku, dia meyakinkanku bahwa itu tidak melukaiku.
Aku pun bergerak dengan pelan dan berhati-hati. Tetapi genggaman Dhyzah menarikku menembus dinding itu. Tubuhku terdorong ke depan, aku berhasil menembus dinding itu, kulihat tubuhku, tidak ada perubahan sedikit pun atau bahkan ada cairan yang menempel di pakaianku. Kutoleh ke belakang memandang dinding yang baru saja kulewati, juga kembali seperti dinding bercahaya. Aku memuji kecanggihan dinding bangunan ini. Kulirik Dhyzah, walaupun hidung dan mulutnya tertutup tetapi matanya menandakan dia sedang tersenyum kepadaku.
Kami memasuki sebuah ruangan yang sangat besar dan terang, di sana tidak terlihat lampu sebuah pun, ruangan hanya diterangi oleh dinding yang bercahaya kuning. Bola-bola berjajar tersusun rapi dengan jarak sekitar 100 meter setiap bolanya, berbentuk seperti bola planet yang melayang, tanpa tali maupun tiang penyanggah, tidak dipengaruhi oleh gaya tarik gravitasi. Bola itu bergerak berputar melayang pelan. Ada bola berwarna hijau, kuning, coklat bahkan ada yang sangat mirip sekali dengan bentuk bumi.
Di setiap ruangan hawanya agak dingin, padahal tidak ada lubang mesin pendingin atau ventilasi udara yang masuk. Ruang tertutup ini tidak menimbulkan suara, hening dan sunyi, bahkan tapak kaki kami tidak terdengar sedikit pun. Aku sendiri dapat mendengarkan detak jantungku sendiri dan bunyi aliran darah didaun telingaku.
Setelah ruangan besar itu, kami menembus dinding di dalam garis melingkar berwarna merah. Kini kami memasuki sebuah lorong besar seperti tak berujung, seperti ruang yang kami lewati sebelumnya dinding berwarna putih kekuning-kuningan menerangi seisi ruangan, langit-langit bangunan dihiasi lingkaran-lingkaran merah yang saling memotong, tersusun rapi dan sangat artistik.
Ruangan ini lebih luas dari ruangan sebelumnya, ruangan tanpa ujung dan tanpa sudut yang dipadati oleh orang-orang muda wanita dan pria, berbeda kulit, berpakaian putih yang dibalutkan ditubuhnya dan ujungnya diselempangkan, seperti pakaian ihram saat manusia naik haji, tidak ada orang tua di sini, semua raut wajah segar.
"Mereka adalah para arwah manusia yang siap diberangkat ke Waiting Nature, sebuah dunia yang mengarah ke langit, namun keberangkatan akan dikategorikan berdasarkan kebaikan dan keburukan perbuatan mereka selama didunia manusia." Dhyzah berbisik kepadaku, mereka menyebutnya Waiting Nature adalah Alam Tempat Menunggu. Entahlah, apa yang mereka tunggu nantinya, aku takut bertanya terlalu banyak, siapa tahu ada peraturan yang tidak kutahu.
"Mereka kok tidak ada yang tua, semua terlihat muda-muda?" Tanyaku.
"Arwah manusia-manusia itu pada dasarnya muda-muda, yang keriput itu adalah jasad tubuh yang dia gunakan selama didunia, raga manusia masih mengikuti perubahan usia penuaan." Jawabnya berbisik.
"Seharusnya aku pinjam jasad dari Saranjana, orangnya cakep-cakep." Bisikku bercanda. Dhyzah menyenggol lenganku, aku senang sekali disenggolnya.
"Sebenarnya kita bisa langsung ke tempat tujuan dengan melewati satu dinding, namun Ayah sedang memperkenalkan sekelumit kehidupan kami. Satu pintu dinding dapat terkoneksi ke semua ruang dan menara di seluruh dimensi kami, sehingga sangat sedikit bangsa kami berjalan atau berkendaraan di luar bangunan". Suaranya berbisik kepadaku.
"Perjalanan yang sangat mengesankan, bagaimana cara menentukan lantai atau ruang yang akan dituju?". Tanyaku berbisik.
"Dengan pikiran, cincin yang kami gunakan adalah pusat sentral system yang terhubung dengan otak kami. Sebentar lagi didunia kamu akan dikenalkan secara luas tentang system internet yang networknya dapat dihubungkan melalui computer. Tetapi system networking itu masih belum bisa berhubungan dengan otak manusia."