Alkisah, pada mula waktu ketika takdir belum mengenal ratap, Sang Pencipta mengukir napas pertamanya di atas tanah perawan. Ruang dan waktu masih berupa kehampaan bening yang belum terjangkau oleh hitungan tahun atau perubahan jam. Dari tanah merah yang basah di ranah Eden purba, Ia membentuk Adam sebagai mahakarya tatanan yang diberi embusan ruh keabadian.
Namun, Sang Pencipta tidak membiarkan manusia pertama itu berjalan sendirian di bawah naungan pohon-pohon surgawi. Dari salah satu tulang rusuk Adam yang diambil sewaktu ia tertidur lelap, Sang Pencipta membentuk sosok wanita bernama Lily. Diciptakan dari substansi rusuk yang membentengi jantung Adam, Lily dirancang sebagai pengimbang jiwa, pendamping sejati yang terikat oleh kesatuan hakikat dan napas kehidupan yang sama.
Namun, jauh sebelum tanah pertama Eden dipijak oleh Adam dan Lily, jauh sebelum katedral langit mengenal garis waktu fana, di samping Singgasana Utama yang tak terjangkau telah berdiri entitas purba paling agung. Dialah Azazel—sosok panglima tinggi berlumur pendar api tanpa asap, pemimpin dari seluruh ordo Ras Ibis.
Dahulu, Azazel adalah manifestasi keindahan dan kemuliaan tertinggi di alam atas. Jutaan tahun Azazel bersujud tanpa cela di atas lantai-lantai kristal yang memancarkan pendar abadi. Ia menjadi makhluk paling tekun yang mengumandangkan kidung pujian di ruang-ruang kudus Surga tanpa pernah mengenal kelelahan atau cacat niat.
Namun, takdir kosmis berguncang tatkala perintah ilahi bergema menembus sembilan lapisan katedral langit. Seluruh penghuni alam atas diperintahkan untuk melipat lutut, membungkuk menghormati ciptaan baru yang dibentuk dari tanah basah. Pada detik itulah, kebanggaan yang mengendap dalam inti api Azazel retak untuk pertama kalinya.
"Aku diciptakan dari lidah murni api purba yang menyala tanpa cela," raung Azazel, matanya membara oleh pendar kesombongan yang menghanguskan. "Mengapa aku harus melipat lututku dan merendahkan martabatku di hadapan ciptaan dari debu fana yang mudah membusuk oleh waktu?"
Penolakan itu bukanlah sekadar pembangkangan biasa, melainkan benih dari dosa pertama yang membelah tatanan alam semesta. Seketika itu pula, murka ilahi menjatuhkan hukuman mutlak. Azazel dicabut dari seluruh pangkat kemuliaan surgawinya, nama agungnya dilempar ke dalam kerendahan, dan wujud eloknya terdistorsi secara mengerikan sebagai bentuk kutukan abadi.
Tubuh Azazel yang dahulu memancarkan keagungan sihir api terbelah oleh transformasi kegelapan. Di atas kepalanya mencuat sepasang tanduk kambing melengkung yang legam bagaikan obsidian purba, membakar sisa-sisa mahkota cahayanya. Rambutnya yang dahulu berkilau bagaikan emas kini memucat menjadi warna putih keabuan yang kusam, terurai liar menutupi bahunya yang berjelaga. Dan di punggungnya, sayap-sayap kemuliaan yang dahulu lembut mekar mendadak meluruhkan seluruh bulunya, menggantinya dengan membran kulit tebal berwarna gelap bagaikan sayap kelelawar raksasa yang merentang luas membawa aroma sulfur dan keputusasaan.
Seluruh Ras api yang mengikutinya pun dikutuk, dilempar keluar dari katedral suci, dan berubah menjadi entitas yang terbuang: Ras Ibis. Pemberontakan purba itu menyisakan dendam yang membeku di antara terhempasnya bayangan-bayangan bersayap kelelawar ke dasar jurang kosmis.
Sementara itu, di dalam Eden, keberadaan Lily yang tercipta dari tulang rusuk Adam rupanya tidak berjalan tanpa riak. Meski dibentuk untuk melengkapi, Lily membawa benih kehendak mandiri yang enggan tunduk pada batas-batas patriarkal Eden purba. Ketika Adam memintanya untuk patuh pada tatanan yang kaku, Lily menolak untuk didikte. Ia memilih melangkah keluar dari jangkauan tatanan mulia, melepaskan ikatan takdirnya dengan Adam, dan melompati benteng cahaya Eden menuju kegelapan liar yang belum terjamah di luar sana.
Pelarian Lily dan jatuhnya Azazel menjadi dua garis takdir yang saling bersinggungan di luar tatanan Surgawi. Ribuan tahun berlalu menyapu jejak tanah merah Eden, menciptakan retakan tak kasatmata pada fondasi kosmos.
Untuk menggantikan kekosongan dan menjaga ketertiban hukum pasca-pemberontakan Ras Ibis, Dewa Utama kembali merentangkan jemari cahaya-Nya. Demi memastikan tidak ada lagi pembangkangan yang timbul dari kesombongan atau rasa memiliki kehendak, sebuah ordo Malaikat baru dirancang secara ketat. Dari pendaran partikel Cahaya Terikat yang tak pernah terjamah oleh noda emosi atau cacat pikiran, lahirlah sesosok Malaikat murni penegak hukum yang sempurna.
Nama yang dianugerahkan kepadanya adalah **Sariel-Vael**.