「双翼」-Twin Wings: Reincarnation into a demon king (series 1) edison novel

Pikri YAnor
Chapter #2

Kodrat tertutup Bayang-bayang

Gema gesekan udara terdengar tajam ketika puluhan sayap berbulu foton membakar kabut belerang di atas langit Aethelgard.

Atmosfer perbatasan yang pekat akan debu vulkanik seketika terbelah oleh bentangan pendaran cahaya perak murni yang menyilaukan.

Ordo Eksekutor Surgawi melayang dalam formasi simetris yang sempurna, presisi tanpa cela, tidak menyisakan jarak satu milimeter pun antar barisan.

Setiap kepakan sayap mereka bergerak dalam frekuensi gelombang yang terkoordinasi, menciptakan harmoni akustik yang menekan kesadaran mortal.

Di barisan paling depan, Sariel-Vael menggenggam belati hukumnya yang kini memancarkan kalkulasi gelombang pemusnahan berwarna perak murni.

Sebelah tangannya mencengkeram gagang belati dengan ketat, merekam fluktuasi mana lingkungan yang terus mendidih akibat hawa panas lembah.

Di samping kirinya, melayang sesosok Malaikat Senior bernama Uriel-Thron, entitas penegak hukum yang telah berdiri selama puluhan era kosmis.

Uriel-Thron memimpin dengan gestur kaku, membawa aura otoritas absolut dari ruang-ruang katedral atas.

Di bawah mereka, benteng batu Ras Ibis bergetar saat gelombang Api Purba ditembakkan oleh para penyintas yang bertahan di balik dinding obsidian.

Proyektil-proyektil api berwarna merah darah membelah udara malam, meninggalkan jejak asap hitam yang berbau belerang menyengat.

Sariel-Vael mengamati panah-panah api yang meluncur ke arah formasi mereka dengan analisis data yang dingin.

Mata peraknya melakukan pemindaian instan: menghitung Sudut trajektori, tingkat kepadatan mana, dan potensi kerusakan pada struktur pertahanan ordo.

"Eksekusi target segmen pertama," perintah Uriel-Thron melalui gelombang kesadaran kolektif yang menghubungkan benak para Malaikat.

Perintah itu bergetar di dalam inti mana setiap Malaikat tanpa memerlukan gelombang suara atmosferik.

Tanpa keraguan, tanpa rasa gentar, Sariel-Vael menukik tajam membelah awan abu dengan kecepatan yang melampaui suara.

Sayap fotonnya melipat ke belakang, menciptakan garis lurus berkilau yang memotong turbulensi udara Lembah Aethelgard.

Belati hukumnya terayun kaku, memotong pasokan mana dari menara pertahanan Ibis dalam satu sabetan cahaya yang membelah ruang.

Garis cahaya perak tercipta secara instan, mengiris fondasi obsidian hingga menara batu purba itu retak dan kehilangan keseimbangan.

Ledakan dahsyat meruntuhkan kubah batu purba tersebut, menghempaskan puluhan prajurit Ibis ke dasar jurang beracun.

Serpihan batu dan pendaran api yang terputus terlontar ke segala arah, membakar tanah hitam yang gersang.

Mata perak Sariel-Vael menangkap bayangan tubuh-tubuh yang jatuh terbakar, merekam destruksi itu sebagai penyelesaian tugas yang valid.

Algoritma internalnya mengkatalogkan setiap eliminasi target, menandai area pertempuran sebagai wilayah yang telah disterilkan dari anomali.

Tidak ada rasa bangga di dalam intinya atas kemenangan itu, sebagaimana tidak ada rasa dendam terhadap darah Ibis yang tumpah di tanah gersang.

Jantung mananya berdetak dalam irama yang tetap stabil, tanpa fluktuasi hormon atau pacuan adrenalin layaknya makhluk biologis.

Bagi Sariel-Vael, memusnahkan benteng Ibis tidak berbeda dengan membersihkan debu yang menempel di atas pualam suci Surga.

Lihat selengkapnya