Langit Lembah Aethelgard yang semula kelabu terbelah total ketika dua gelombang energi kosmis berkekuatan destruktif saling berbenturan di udara.
Atmosfer tebal yang dipenuhi asap belerang dan debu vulkanik mendadak bergetar hebat, terdistorsi oleh fluktuasi mana tingkat tinggi yang saling menghancurkan.
Dari atas, belati hukum Sariel-Vael memancarkan pendaran cahaya perak murni yang memotong atmosfer bagaikan bilah pisau membakar lembaran sutra.
Gelombang foton bertekanan tinggi meluncur lurus, meninggalkan jejak keperakan yang membekukan partikel debu di sepanjang lintasannya.
Dari bawah, Azaziel menyambut serangan itu dengan mengayunkan Pedang Obsidian—bilah raksasa berukirkan Runa Api Purba yang menyemburkan nyala merah kehitaman.
Nyala api itu meraung dahsyat, membakar oksigen di sekitarnya dan memuntahkan hawa panas yang sanggup melunakkan batuan tebing.
*BOM!*
Gema dentuman dahsyat menggetarkan seluruh tebing obsidian di sepanjang Lembah Aethelgard, menciptakan gelombang kejut yang menghancurkan batuan di sekitarnya.
Serpihan batu purba terlempar ke segala arah, hancur menjadi debu halus sebelum sempat menyentuh dasar lembah.
Sariel-Vael mendarat kaku di atas tanah yang retak, sayap peraknya memercikkan kilatan foton untuk menetralkan dorongan energi panas yang merambat cepat.
Sistem pendingin internalnya berputar maksimum, menyerap radiasi termal agar tidak mengganggu kestabilan Inti Mana Cahaya di dalam dadanya.
Beberapa meter di depannya, Azaziel berdiri kokoh dengan zirah obsidian yang tertutup abu perang, matanya yang bernyala emas menatap sang Malaikat dengan dingin.
Setiap napas yang dihembuskan Azaziel mengeluarkan pendaran magma cair dari sudut bibirnya, memancarkan aura intimidasi yang begitu pekat.
Di udara, Uriel-Thron dan barisan Ordo Eksekutor Surgawi langsung menghujani area pertempuran dengan tombak-tombak cahaya bergelombang tinggi.
Puluhan garis perak meluncur dari balik awan abu, membentuk jaring-jaring energi yang mengurung posisi bertahan Ras Ibis.
"Formasi Pembatas Suci!" seru Uriel-Thron, suaranya mengalun bagaikan gelombang akustik yang mengunci pergerakan udara di sekeliling Azaziel.
Tombak-tombak perak menancap melingkar di atas tanah hitam, menciptakan kurungan cahaya berkekuatan ribuan volt mana yang menahan pergerakan sang Pemimpin Ibis.
Setiap batang tombak memancarkan pola geometris rumit yang menyerap mana elemental dari lingkungan sekitar, melumpuhkan pertahanan musuh.
Namun, Azaziel tidak memperlihatkan gurat ketakutan sedikit pun pada parasnya yang berhias tanduk api.
Sorot matanya tetap menyala tegar, mencerminkan ketahanan suatu ras yang menolak untuk berlutut kembali di hadapan hukum Surga.
Ia melepaskan raungan keras, menancapkan Pedang Obsidiannya ke dalam tanah, dan mengalirkan seluruh sisa Api Purba dari intinya.
Retakan bercahaya merah menyebar cepat dari titik tancapan pedangnya, membelah struktur tanah hingga ke kedalaman terdalam.
"Hancur!" teriak Azaziel, memicu ledakan magma cair dari dasar bumi yang mematahkan seluruh tombak pembatas milik Malaikat Senior.
Gelombang api liar berhempas keras, melemparkan beberapa prajurit Ordo Eksekutor hingga membentur dinding tebing dan hancur menjadi partikel cahaya.
Pendaran foton milik para Malaikat yang gugur terurai di udara, tersapu oleh badai panas yang dihembuskan dari perut bumi.
Sariel-Vael bergerak melintasi kobaran api dengan presisi tinggi, mengepakkan sayapnya untuk menembus dinding panas tanpa sedetik pun ragu.
Gerakannya lurus, diperhitungkan dengan matematika gerak yang sempurna tanpa dipengaruhi oleh rasa guncangan atau kaget.
Ia meluncur lurus, menargetkan Inti Api di balik zirah dada Azaziel dengan kecepatan yang melampaui refleks makhluk biasa.