Dinding-dinding pualam Katedral Agung membentang megah di batas atmosfer atas Aethelgard, membiaskan radiasi suci yang melingkupi seluruh garis pertahanan Ordo. Di tempat ini, tidak ada malam, tidak ada bayang-bayang, dan tidak ada kehangatan—hanya ada pendaran foton konstan yang memelihara keabadian entitas surgawi.
Sariel-Vael berdiri di koridor utama Divisi Pemulih Struktur, zirahnya yang berlapis emas masih memancarkan sisa-sisa embun suci dari sihir Caelum-El. Di dalam dadanya, Inti Mana Cahaya tidak lagi berputar dalam irama mekanis yang dingin. Rotasi itu bergelombang, dipenuhi oleh riak frekuensi baru yang tak lagi bisa ditiadakan oleh pembersihan otomatis kesadarannya.
Di hadapannya, Lyra-El sedang mengalibrasi kembali susunan sihir penyembuh. Jubah pualamnya yang biru pucat tampak jatuh melayang secara sempurna, dan jemari transparannya menari di atas lingkaran segel tanpa cela.
Sariel-Vael melangkah mendekat. Setiap pijakan zirah emasnya memicu pemindaian otomatis di udara, tetapi ia sengaja meredam daya pancar sinyal hukumnya.
"Lyra-El," panggil Sariel-Vael pelan. Ada jeda mikro-detik yang tak lazim dalam intonasinya—sebuah keraguan yang mendalam.
Lyra-El tidak segera menghentikan proses kalibrasinya. Setelah segel sihir di jemarinya terunci sempurna, ia memutar tubuhnya. Pupil perak kaku milik Malaikat Pemulih itu menatap lurus ke arah Sariel-Vael, memindai tingkat kerapatan mana pada Zirah Emas sang Eksekutor.
"Statusmu tercatat stabil, Sariel-Vael," sahut Lyra-El dengan nada jernih yang memantulkan kekosongan emosional mutlak. "Tidak ada retakan struktural yang memerlukan pemulihan sekunder di sektor zirahanmu."
Sariel-Vael memiringkan kepalanya, membiarkan helai rambut putih kekuningannya jatuh menutupi sebagian ukiran celestial di bahunya. "Ini bukan mengenai retakan fisik pada zirahkanu, Lyra-El. Ini mengenai fluktuasi yang terjadi di dalam Inti Mana kita."
Lyra-El menyipitkan matanya secara presisi, memindai dada Sariel-Vael. "Fluktuasi yang kamu maksud adalah error komputasi emosional. Prosedur standar mengharuskanmu melaporkan anomali tersebut ke Aula Purifikasi agar intimu dikalibrasi ulang."
"Bagaimana jika itu bukan error?" Sariel-Vael mengambil satu langkah lebih dekat, merapatkan jarak di antara mereka hingga aura foton sucinya bersentuhan dengan aura biru pucat Lyra-El. *Zzzzt.* Resonansi asing itu kembali meledak halus di dadanya, membakar dinding logikanya. "Bagaimana jika getaran ini adalah pertanda bahwa keberadaan kita memiliki kedalaman yang melampaui zirah ini? Sebuah dorongan... untuk merasakan apa yang dirasakan oleh makhluk yang memiliki jiwa murni?"
Mata perak Lyra-El mendadak memancarkan pendaran peringatan merah tipis di balik pupilnya.
"Analisis yang kamu ucapkan mengandung kecacatan mendasar, Sariel-Vael," jawab Lyra-El dingin, suaranya naik satu tingkat menjadi penegakan dogma. "Kita adalah entitas Cahaya Terikat. Malaikat bukan makhluk biologis yang digerakkan oleh dorongan hormon, gairah fana, atau kerapuhan daging. Tubuh mortal manusia dibentuk dari tanah liat yang membusuk, terikat pada hasrat biologis yang memicu dosa dan kehancuran."
Lyra-El merentangkan jemari pualamnya, memperlihatkan pola sihir murni yang mengalir tanpa darah. "Jika kita mengadopsi atau mendambakan kesadaran biologis, itu adalah bentuk penistaan terhadap hakikat kita sebagai entitas suci. Memiliki tubuh atau emosi biologis adalah pelanggaran absolut terhadap jati diri Malaikat."