Melarikan diri dari Katedral Agung membuka sebuah dimensi realitas yang belum pernah disentuh oleh logika Sariel-Vael maupun Caelum-El. Di garis pantai selatan ranah fana, tempat gelombang samudera bertemu dengan tebing-tebing karang yang hijau, kedua Malaikat buronan itu meretas kehidupan yang berada di luar seluruh baris hukum Surgawi.
Di sana, pendaran radiasi hukum Ordo Eksekutor digantikan oleh deru angin laut yang membawa aroma garam dan kehangatan mentari pagi. Sariel-Vael melepas belati hukumnya, meletakkannya di atas pasir basah sembari membiarkan air laut yang jernih menyapu jemari zirah emasnya. Untuk pertama kalinya, ia menyentuh dunia biologis bukan sebagai objek pemindaian kaku, melainkan sebagai bagian dari keberadaan itu sendiri.
Di sampingnya, Caelum-El berenang di antara riak gelombang pesisir. Jubah peraknya dibiaskan oleh buih-buih air laut, memancarkan pendaran hijau keemasan yang menari di bawah permukaan air. Caelum-El tertawa pelan—sebuah nada suara yang teramat asing di katedral langit, tetapi begitu murni dan menghangatkan dada Sariel-Vael.
Mereka belajar mengonsumsi hidangan fana, duduk melingkar di balik bukit pasir saat malam tiba. Di tepi api unggun kecil yang mereka nyalakan dari kayu terdampar, mereka memanggang ikan laut dan memetik buah-buahan liar. Sariel-Vael memproses rasa manis dan gurih buah-buahan tersebut di dalam sistem inderanya, sebuah sensasi nikmat yang selama jutaan tahun dikatalogkan sebagai kelemahan biologis manusia fana.
Di bawah naungan kemah sederhana yang terbuat dari jalinan dahan dedaunan dan kain perak Caelum-El, kedua Malaikat itu saling mendekapkan keberadaan mereka. Setiap kali jemari Sariel-Vael menyentuh lengan Caelum-El di tengah kesunyian malam pantai, Inti Mana Cahaya di dada mereka bergetar dalam frekuensi yang saling mengunci. Rasa cinta spiritual dan keterikatan jiwa yang mereka bina terasa kian menguat, memberi mereka ilusi bahwa mereka telah berhasil merebut kehendak bebas dari cengkeraman ketetapan ilahi.
Namun, kedamaian fana di tepi samudera itu hanyalah jeda singkat sebelum badai ketertiban jatuh menimpa.
Pada hari ketujuh pelarian mereka, ketika langit sore berubah menjadi warna merah keemasan, garis horizon di atas laut mendadak terbelah. Pendaran foton suci berskala masif melingkupi seluruh wilayah pesisir, menetralkan suara gelombang dan menghentikan hembusan angin laut secara mutlak.
Dari balik retakan awan kristal, barisan Malaikat Surgawi melayang turun dalam formasi tempur absolut.
Di barisan depan, Uriel-Thron berdiri tegak dengan Zirah Eksekutor Senior yang membara oleh radiasi emas pekat. Di samping kirinya, Lyra-El melayang dengan sepasang sayap biru pucatnya, memegang segel pemutihan memori yang memancarkan daya sihir purifikasi. Di belakang mereka, puluhan Malaikat penegak hukum mengepakkan sayap-sayap foton kaku, mengunci seluruh sudut pelarian di pantai tersebut.
"Pelarian kalian dari tatanan hukum telah mencapai batas kalkulasi, Sariel-Vael, Caelum-El," suara Uriel-Thron bergema menembus langit, menggetarkan pasir dan karang di bawahnya. "Kalian adalah entitas terdistorsi yang membawa racun kehendak bebas ke dalam tatanan suci."
Sariel-Vael dengan cepat melangkah ke depan Caelum-El, menarik belati hukumnya dan melebarkan sepasang sayap putih bersihnya yang megah. Zirah emasnya membara, memompa seluruh kapasitas Inti Mana Cahayanya untuk memasang barikade pertahanan.
"Aku tidak akan membiarkan kalian menyentuh Caelum-El atau menghapus jiwa yang baru mekar ini!" raung Sariel-Vael, suaranya pecah oleh emosi murni yang tak lagi bisa ia sembunyikan.
Pertarungan dahsyat pun meletus di tepi pantai.
Sariel-Vael melepaskan tebasan foton berkecepatan tinggi, memotong garis udari para Malaikat Eksekutor. Namun, kekuatan Ordo Surgawi yang dikirim untuk memburu mereka bertindak dalam satu kesatuan kolektif yang tak terlawan. Uriel-Thron mengayunkan Tombak Ketertiban, menciptakan gelombang kejut sihir suci yang meretakkan zirah emas Sariel-Vael dalam sekali tembakan.
Caelum-El berusaha menyebarkan sihir vegetasi dan mani airnya untuk meredam serangan, tetapi Lyra-El meluncurkan segel purifikasi yang menetralisir seluruh sihir elemen alam milik Caelum-El hingga tak tersisa.