「双翼」-Twin Wings: Reincarnation into a demon king (series 1) edison novel

Pikri YAnor
Chapter #9

Darah Api Dan Puing-puing Sinagog

Di kedalaman Sinagog Keabadian, waktu membeku menjadi pilar-pilar kristal pualam yang dingin. Tempat ini berdiri di batas tertinggi atmosfer Katedral Agung, sebuah pilar pengasingan suci yang dirancang untuk mengurung jiwa-jiwa pembangkang. Di tengah ruangan beratap kubah bening yang menatap Singgasana Utama, Sariel-Vael melayang terbelenggu.

Rantai Cahaya Terikat melilit pergelangan tangan dan Zirah Emasnya yang retak. Inti Mana Cahaya di dadanya dipaksa berputar lambat, membatasi akses sihir dan inderanya. Selama rotasi waktu yang tak terhitung di kesunyian Sinagog, pikiran Sariel-Vael hanya dipenuhi oleh dua hal: wajah Caelum-El yang meratap di pantai, dan kepahitan atas hukum ketertiban yang memenjarakan kehendaknya.

*Apakah kehendak bebas adalah dosa jika ia melahirkan cinta?* Pertanyaan filosofis itu terus bergetar di intinya, membakar dinding logikanya dari dalam.

Tiba-tiba, keheningan Sinagog Keabadian pecah.

*CRACK!*

Retakan hitam pekat menembus kubah kristal pualam. Api Purba merah gelap menyambar masuk, melelehkan rantai Cahaya Terikat hingga terputus. Sariel-Vael jatuh berlutut di atas lantai pualam dingin, terbatuk-batuk saat sirkulasi mananya menyembur kembali.

Di tengah kepulan asap dan aroma belerang purba, sesosok figur melangkah turun dari retakan dimensi. Sayap-sayap legam berguguran bulu hitam mengembang di punggungnya, membiaskan aura pemberontakan yang sangat dikenal seluruh hirarki Katedral.

Azaziel—iblis terlaknat yang paling dibenci Singgasana Utama—berdiri di hadapan sang mantan Eksekutor Agung.

Sariel-Vael secara refleks meraih belati hukumnya yang tersisa setengah, menyipitkan mata dengan tatapan tajam. "Azaziel...?" bisik Sariel-Vael penuh kecurigaan. "Bagaimana bisa seorang iblis sepertimu menembus segel Sinagog Keabadian? Apa rencana licikmu membawa pasukan Ibis ke tempat suci ini?"

Azaziel memiringkan kepala. Wajahnya yang tegas memancarkan kelelahan luar biasa. Ia tidak mengacungkan pedang apinya, melainkan menyilangkan tangan di balik jubah hitamnya yang terkoyak.

"Khas sekali ucapan Malaikat berzirah emas," dengus Azaziel tipis, ada nada ejekan yang dibalut kehangatan aneh. "Bahkan saat zirahmu pecah dan kamu dibuang penciptamu sendiri, mulutmu masih menyemburkan dogma Katedral."

"Jawab pertanyaanku, Iblis!" seru Sariel-Vael, memasang kuda-kuda meski intinya belum stabil. "Kenapa kamu menyelamatkanku? Bukan Caelum-El, bukan pula saudara-saudaraku di Ordo yang datang... melainkan makhluk terbuang sepertimu!"

Azaziel mendesah pelan. Ia menyandarkan tubuh pada pilar pualam yang retak, menatap lurus ke pupil perak Sariel-Vael.

"Karena aku melihat diriku pada dirimu, Sariel-Vael," jawab Azaziel pelan. Kali ini, tidak ada nada kesombongan—hanya ada kejujuran telanjang. "Dahulu, aku dicampakkan dari tempat ini karena menolak berlutut kepada manusia. Aku menganggap tanah liat mereka begitu hina dibanding cahaya murni. Kesombonganku membutakan mataku selama jutaan tahun."

Lihat selengkapnya