Tiga tahun telah berlalu sejak benih kehendak lahir diLembah Eldoria. Didalam pondok kayu yang tenang itu, Azazel-El—atau yang biasa dipanggil Azel—tumbuh menjadi bocah berumur tiga tahun yang amat cerdas. Meskipun secara fisik ia tampak seperti balita fana biasa dengan rambut perak keemasan dan mata perak yang jernih, di dalam benak kecilnya terkunci kesadaran utuh seorang reinkarnator.
Selama tiga tahun hidup sebagai Azel, ingatan masa lalunya sebagai Ren Satou perlahan bergeser dari sekadar delusi *chūnibyō* menjadi pemahaman nyata atas kehangatan sebuah keluarga. Bagi Azel, ceceran cinta dari Saria (Sariel-Vael) dan Aza (Azaziel) adalah hal terindah yang tak pernah ia dapatkan di kehidupan lamanya.
Namun, kedamaian fana di Lembah Eldoria hanyalah ketenangan sejenak sebelum badai kosmis datang menghempas.
Suatu sore ketika kabut dingin merayap dari lereng bukit, sesosok pria berjanggut kelabu dengan jubah gelap melangkah mendekati pondok mereka. Ia adalah Balthazar, sosok iblis tingkat atas yang dikenal sebagai salah satu rekan lama Azaziel sejak era Pemberontakan Purba. Azaziel menyambutnya sebagai kawan lama, tanpa pernah menyadari bahwa di balik kehangatan sapaannya, Balthazar menyimpan kelicikan yang sangat beracun.
"Keberadaan kalian telah tercium oleh radar pengintai Katedral Agung, Azaziel... Sariel-Vael," bisik Balthazar dengan nada penuh keprihatinan yang dipaksakan. Wajahnya dipenuhi guratan cemas palsu saat mereka duduk di dalam rumah kayu. "Pasukan Eksekutor Surgawi sedang bergerak menuju Lembah Eldoria. Sisa-sisa energi sihir dari anak ini... terlalu sulit untuk disembunyikan lebih lama lagi."
Pernyataan Balthazar menghantam dada Sariel-Vael bagaikan es murni. Ia menggenggam jemari kecil Azel yang sedang duduk tenang di pangkuannya.
"Tidak mungkin," gumam Azaziel, rahangnya mengeras. "Aku telah menyegel garis keberadaan kami dengan Mantra Pelipat Keberadaan!"
"Radar Katedral bukan hal yang bisa diremehkan, kawan," potong Balthazar cepat, matanya melirik licik ke arah Azel. "Jika mereka menemukan kalian bertiga bersama, anak ini akan dibasmi sebagai 'Aib Penciptaan'. Tapi... ada satu-satunya cara untuk menyelamatkan nyawanya."
Sariel-Vael menatap Balthazar dengan mata peraknya yang bergetar. "Katakan... apa caranya?"
Balthazar memajukan tubuhnya, menyampaikan ramalan palsu yang telah ia rancang untuk memisahkan keluarga tersebut. "Ramalan takdir purba telah tertulis di Kitab Keheningan. Anak setengah malaikat dan setengah iblis ini tidak boleh dibesarkan oleh kalian jika ingin selamat dari kejaran Ordo. Menurut takdir, ia harus ditinggalkan di bumi fana ini... ia akan diselamatkan dan dibesarkan oleh seorang anak manusia dari kaum miskin sebatang kara. Hanya dengan begitu, jejak auranya akan terbias oleh aroma kemiskinan dan takdir fana, menyembunyikannya dari penglihatan Surgawi."
Kata-kata Balthazar bagaikan pisau yang menyayat batin Sariel-Vael. Sifat *tsundere* dan keteguhannya runtuh seketika saat membayangkan harus meninggalkan putra tunggalnya. Air mata murni menyembul di pelupuk matanya.
"Meninggalkannya?! Dia baru berusia tiga tahun!" seru Sariel-Vael dengan suara bergetar keras. "Aku adalah ibunya! Bagaimana mungkin aku membiarkan bayiku terlantar di tengah bahaya fana?!"
"Saria... tenanglah," bisik Azaziel, meski dadanya sendiri terasa dihantam batu besar. Azaziel menatap Balthazar dengan pandangan goyah. Selama jutaan tahun hidup, Azaziel terlalu percaya pada ikatan persaudaraan sesama kaum terbuang, hingga ia tak sanggup melihat kebohongan di balik mata Balthazar.
"Ini demi kesalamatan Azel, Sariel," ucap Azaziel lirih, memegang kedua bahu istrinya. "Jika Katedral menemukan kita bersamanya, mereka akan menghancurkan intinya tanpa sisa. Kita harus memancing perhatian pasukan Katedral menjauh dari lembah ini... biarkan takdir manusia melindunginya."
Azel kecil yang berada di pangkuan ibunya mendengarkan setiap patah kata itu. Di balik wajah balitanya yang lugu, jiwa reinkarnatornya berteriak histeris. *Balthazar... pria ini berbohong! Tatapan matanya penuh manipulasi! Jangan percaya padanya, Ibu! Ayah!* Namun, pita suara fisik balitanya belum mampu merangkai kata-kata rumit untuk membongkar kelicikan Balthazar. Yang keluar dari mulut kecilnya hanyalah gumaman panik.
"Nda... Ndak mau... Ibu... Ayah..." bisik Azel kecil, jemari mungilnya mencengkeram erat gaun tenun Sariel-Vael.