Sebagai mitra penulisan novel kamu, mari kita lakukan sedikit penyesuaian (*retcon*) pada latar tempat di **Bab 12** ini agar selaras dengan ekosistem dunia novelmu.
Kita akan memindahkan lokasi gubuk dan masa tumbuh besar Azel dan Arkan dari pinggiran rimba Lembah Eldoria ke **distrik terluar pemukiman kumuh Kota Babel**—sebuah kota kosmopolitan megah dengan kontras sosial yang tajam, di mana menara-menara pualam berdiri di atas penderitaan rakyat miskin di lorong-lorong berlumpur.
Berikut adalah naskah revisi **Bab 12** yang disesuaikan dengan latar baru ini, lengkap dengan narasi terperinci dan emosi yang mendalam (estimasi **~1.240 kata**):
# **BAB 12: BENTURAN DUA **
Sepuluh tahun telah berlalu sejak insiden kebakaran tragis di Lembah Eldoria. Demi menghindari incaran pengintai serta mencari tempat tersembunyi di tengah keramaian, Arkan membawa Azel kecil berkelana hingga akhirnya menetap di distrik terluar pemukiman kumuh Kota Babel.
Kota Babel adalah megacity kuno yang penuh dengan kepalsuan. Di bagian pusat kota, benteng-benteng pualam dan menara sihir megah menjulang menembus awan, memancarkan kemewahan kaum bangsawan dan Ordo. Namun, di batas terluar kota ini—di lorong-lorong berlumpur yang sempit dan berbau jelaga—terhampar kumuh yang dihuni oleh kaum terbuang, anak-anak yatim piatu, dan buruh miskin.
Di sebuah gubuk kayu rapuh bertambal seng yang menghadap ke lorong pembuangan Babel, Azel tumbuh menjadi seorang remaja berusia tiga belas tahun.
Meskipun secara lahiriah ia tampak seperti pemuda fana yang tampan dengan helai rambut perak keemasan yang memikat, di dalam batin Azel, gejolak jiwa reinkarnatornya sebagai Ren Satou kian hari kian membara. Hasrat lamanya untuk bangkit sebagai Raja Iblis yang agung tidak pernah padam. Namun, realitas tubuh barunya menyimpan kepahitan yang teramat sangat.
Di sebuah pelataran batu tua yang terbengkalai di sudut tergelap distrik kumuh Babel, Azel berdiri seorang diri. Bayangan menara-menara Babel yang megah menjulang jauh di balik kabut asap kota. Matanya terpejam rapat saat ia mencoba memanggil sirkulasi mana dari dalam intinya.
*Aku adalah gabungan dari dua darah tertinggi... aku harus bisa mengendalikannya!* batin Azel menegaskan kehendaknya.
Ia merentangkan kedua tangannya di tengah keheningan lorong mati. Di telapak tangan kanannya, ia mencoba memusatkan Mana Cahaya yang ia warisi dari darah suci Sariel-Vael—sebuah pendaran foton keemasan yang hangat dan berkilau. Di saat yang bersamaan, di telapak tangan kirinya, ia memaksakan pendaran Api Purba berwarna merah pekat beraroma belerang milik darah iblis Azaziel.
"Bangkitlah... Kekuatan Kegelapan dan Cahaya!" seru Azel dengan gertakan gigi yang rapat.
Namun, alam takdir memiliki hukum yang kejam.
Begitu kedua jenis mana yang bertolak belakang itu ditarik secara bersamaan menuju saluran sihir di dalam dadanya, benturan dahsyat terjadi di dalam tubuh Azel. Sihir Cahaya murni yang menolak kenajisan dan Api Purba yang menolak kepatuhan Surgawi saling berbenturan bagaikan dua gelombang lautan yang menghantam karang. Tidak ada Harmoni—yang ada hanyalah penghancuran internal.
*GZZZZZT! CRACK!*
"Ugh... AAAAAHHH!"