Desas-desus di lorong-lorong kumuh Kota Babel menyebar bagaikan wabah yang liar. Di balik pengapnya asap pabrik dan derak kereta kuda pasar bawah, bisik-bisik mengenai sosok "adik tiri Arkan yang aneh" mulai menyeruak. Beberapa warga kelas bawah yang tak sengaja melihat fenomena sihir aneh di pelataran tua mulai berspekulasi bahwa Azel memiliki darah kenajisan—bahwa ia adalah seorang setengah iblis.
Di sebuah kota di mana benteng Katedral berdiri megah, rumor semacam itu adalah vonis mati. Jika rumor ini sampai ke telinga para Dewa Utama atau Eksekutor Surgawi, pemukiman kumuh itu akan dibakar tanpa sisa.
Namun, di atas langit Babel yang diselimuti awan tipis, sebuah perlindungan gaib bekerja secara tak terpandang.
Dari puncak menara pengamatan yang dipenuhi jalinan tanaman rambat sakral, sesosok malaikat bersayap hijau keemasan berdiri menatap ke arah lorong kumuh. Dialah **Caelum-El**—sang Malaikat Penyubur Tanaman. Dulu, jauh sebelum era ini, Caelum-El mencintai Sariel-Vael dengan tulus. Namun, kaku dan kejamnya doktrin Katedral memaksa Caelum-El meredam perasaannya, menerima kodrat kaku sebagai Malaikat yang harus tunduk pada hirarki Surgawi.
Ketika Caelum-El merasakan denyut aura anak dari wanita yang pernah dicintainya, dadanya bergetar. Ia tahu Azel adalah putra Sariel-Vael dan Azaziel.
"Aku tidak bisa menyelamatkan kebebasan ibumu dulu, Sariel..." bisik Caelum-El liris, mengulurkan tangannya ke udara. "Tapi aku tidak akan membiarkan anakmu dihancurkan oleh keserakahan Katedral."
Dengan melambaikan jemarinya, Caelum-El melepaskan *Mantra Penyubur Keheningan*. Sihir penyubur miliknya tidak hanya menumbuhkan kelopak bunga, tetapi juga membiaskan frekuensi aura spiritual. Setiap kali rumor tentang "anak setengah iblis" berhembus di Babel, sihir Caelum-El mengaburkannya menjadi sekadar cerita hantu fana biasa, mencegah gelombang rumor itu terdeteksi oleh radar Mata Dewa Utama. Di balik keputusasaan masa lalunya, Caelum-El memilih menjadi pelindung bayangan bagi putra Sariel-Vael.
Sementara itu, di lingkungan fisik Kota Babel, kehidupan Arkan dan Azel mengalami titik balik yang tak terduga.
Suatu sore di pelataran luar istana Kota Babel—tempat Arkan bekerja sebagai kuli angkut barang kerajaan—sebuah insiden berbahaya terjadi. Kepala Pelayan Istana, seorang pria tua yang sangat dihormati oleh Raja Babel, mendadak terserang kejang hebat akibat racun tanaman pemakan jiwa yang tak sengaja merambat di dinding pilar istana. Para pengawal kerajaan panik, sihir medis Istana terlalu lambat untuk dihadirkan.
Azel, yang saat itu ikut menemani Arkan mengangkut bahan makanan, melihat kejadian tersebut. Jiwa reinkarnatornya dan pengetahuan instingtif dari Mana Cahaya suci di dalam intinya bereaksi refleks.
Tanpa memedulikan rasa sakit di dadanya, Azel melompat ke hadapan sang Kepala Pelayan. Ia menempelkan telapak tangannya ke dada pria tua itu, memaksakan sedikit pendaran Mana Cahaya murni milik darah Malaikatnya untuk menetralkan racun berdarah dingin tersebut.
*SHUUUU!*
Racun hitam terbilas seketika. Sang Kepala Pelayan terbatuk pekat lalu kembali bernapas lega.
Tindakan nekat Azel menyelamatkan nyawa tangan kanan kerajaan. Sebagai bentuk rasa terima kasih yang mendalam, Raja Kota Babel menganugerahi Azel dan Arkan imbalan berharga: mereka diizinkan bekerja di area pelayanan dalam istana dan diberikan tempat tinggal yang jauh lebih layak di lingkungan pekerja istana.