「双翼」-Twin Wings: Reincarnation into a demon king (series 1) edison novel

Pikri YAnor
Chapter #14

Lentera di kota Babel dan Gerbang Takdir Baru

Di balik megahnya dinding batu dan menara pualam Kota Babel, kehidupan Azel di area pelayanan dalam istana mengalir dalam ritme keseharian yang tenang namun penuh kesibukan. Meskipun statusnya di antara para pelayan lain sudah perlahan membaik—terutama berkat perlindungan tegas dari Tasya—Azel tetap menjalankan tugas-tugas domestiknya dengan ketelitian yang aneh bagi seorang mantan remaja *chūnibyō*.

Pagi hari di sudut dapur istana selalu dimulai dengan gemercik air dan busa sabun. Azel berdiri di depan bak cuci, menyingsingkan lengan bajunya hingga ke siku, membilas piring-piring pualam milik keluarga kerajaan satu per satu. Jiwa reinkarnatornya sebagai Ren Satou terkadang membuat momen mencuci piring ini terasa seperti latihan meditasi sihir. Ia menggosok sisa minyak di atas piring dengan gerakan memutar yang presisi, seolah-olah sedang menggambar lingkaran segel sihir di atas porselen.

Setelah urusan piring selesai, Azel beralih ke area binatu istana. Kain-kain sutra dan jubah katun tebal milik Arkan serta Tasya dicuci menggunakan tangan di atas papan kayu. Azel memeras air dari kain dengan sirkulasi tenaga fisik yang teratur, menggantungnya di bawah terik matahari Babel yang hangat. Bagi Arkan yang sering memperhatikan adiknya dari jauh saat mengangkut kayu, pemandangan Azel yang sibuk mengurus pakaian adalah bukti betapa adiknya itu telah bertumbuh menjadi sosok yang mandiri dan membumi.

Tugas favorit Azel—meski selalu ia bantah dengan gengsi yang kaku—adalah menyiapkan santapan siang untuk Tasya. Di dapur kecil pekerja istana, Azel memotong sayuran, meracik sup daging berkuah kaldu hangat, dan memanggang roti dengan tingkat pematangan yang pas. Tasya, putri raja yang dulunya selalu dimanjakan dengan hidangan istana yang kaku, kini jauh lebih menyukai masakan rumahan buatan Azel yang hangat dan penuh rasa kebersamaan.

Namun, ada satu tugas harian paling unik yang hanya bisa dilakukan oleh Azel: merawat hewan peliharaan kesayangan Tasya.

Warga istana dan orang-orang di pasar Babel mengenal hewan itu sebagai "kucing peliharaan jumbo" berbulu lebat keemasan yang diberi nama Miki. Namun, Azel paham betul dari getaran mananya bahwa Miki bukanlah sekadar kucing fana—hewan itu adalah seekor singa dewasa dari pegunungan utara yang dipasang mantra penyamaran oleh Tasya agar terlihat seperti kucing domestik yang menggemaskan.

Setiap sore, Azel ditugaskan membawa Miki berjalan-jalan mengelilingi sudut-sudut Kota Babel.

"Ayo jalan, Miki. Jangan malas," gumam Azel sambil menarik tali kelam yang mengikat leher singa berwujud kucing raksasa itu. Miki hanya menguap lebar, menampakkan deretan gigi taringnya yang tajam, lalu berjalan malas mendampingi Azel melintasi lorong-lorong batu di pasar luar istana.

Pemandangan seorang anak laki-laki berambut perak keemasan yang menuntun seekor "kucing raksasa" menjadi atraksi unik yang menarik perhatian para pedagang Babel. Azel menikmati ketenangan sore itu, membiarkan angin menyejukkan wajahnya.

Namun, di sebuah sudut lorong sepi yang diapit oleh dinding batu tua yang tertutup bayangan menara, langkah Miki mendadak terhenti. Singa itu menegakkan telinganya dan mengeluarkan geraman rendah yang gelisah.

Ruang di hadapan Azel bergetar pelan. Suhu udara di lorong sepi itu merosot drastis.

Dari balik bayangan pilar batu yang retak, sosok pria berjanggut kelabu dengan jubah gelap melangkah keluar secara perlahan. Atmosfer belerang yang tipis namun pekat merebak di udara.

Lihat selengkapnya