Aku sedang belajar melepaskan.
Bukan karena aku ingin menghapusmu, tapi karena aku ingin kembali menemukan diriku yang pernah hilang.
Hari-hari belakangan kuisi dengan menulis, dengan mencintai diriku sendiri, dengan mencoba memberi ruang pada hati yang lelah. Aku mencoba membiarkan bayangmu larut pelan-pelan, seperti hujan yang meresap ke tanah lalu hilang ditelan bumi.
Aku pikir aku berhasil… sampai pagi itu.
“Mau ikut mama ke car free day? Udah lama kita nggak jalan bareng,” suara mama terdengar ringan.
Aku sempat ingin menolak. Entah kenapa ada rasa enggan di dadaku, seperti tubuhku tahu sesuatu yang pikiranku tidak tahu. Tapi aku hanya mengangguk. “Iya, Ma.”
Pagi itu udara masih basah. Jalanan menuju mall dipenuhi langkah-langkah manusia yang beradu, seperti arus sungai yang mengalir ke satu titik. Ada suara musik jauh di ujung, tawa anak-anak, aroma kopi dan roti yang baru dipanggang. Semua terasa hidup.
Tapi di dalam dadaku… kosong.
Aku berjalan di sisi mama, mataku menatap ke depan tapi hatiku seperti melayang entah ke mana. Ada perasaan aneh yang tidak bisa kujelaskan — seperti kehilangan sesuatu yang bahkan tidak pernah kumiliki.
“Muka kamu kok murung? Ada apa?” tanya mama sambil melirikku.
Aku menggeleng. “Nggak apa-apa, Ma. Lagi nggak banyak ngomong aja.”
Mama hanya tersenyum kecil dan melanjutkan langkah.
Kami melewati mall itu. Pusat dari semua keramaian. Mama sempat ingin masuk sebentar, tapi aku menolak pelan.
“Nggak usah, Ma… kita langsung pulang aja, ya.”
Siang itu berlalu begitu saja. Tapi hampa itu tetap menempel di dadaku, seperti bayangan yang menolak pergi.
---
Malam datang. Aku rebah di kasur, mencoba menenangkan pikiranku yang tak tahu lelah. Saat jemariku membuka ponsel, itu hanyalah kebiasaan kecil sebelum tidur. Aku tidak mengharap apa pun.
Sampai semesta kembali mengetuk.
Sebuah unggahan muncul di berandaku. Aku bahkan tidak mengenal akun itu. Tapi aku mengenal wajah di foto itu lebih dari wajah siapa pun.
Putra.