Aku pikir aku sudah cukup kuat.
Aku pikir aku telah menyulam kembali diriku yang koyak, menjahitnya dengan benang cinta pada diri sendiri, dan menutup luka dengan lembaran baru kehidupan.
Tapi ternyata… bayangan itu masih tinggal.
Diam-diam. Halus. Lembut.
Seperti aroma hujan yang tersisa di tanah bahkan setelah langit kembali cerah.
Ada ruang di dalam dadaku yang tak bisa kututup.
Kosong, sepi, seperti lorong gelap yang tidak pernah berujung. Aku mencoba menambalnya dengan banyak hal — menulis, tertawa bersama orang lain, bahkan berdoa agar rasa ini hilang. Tapi lubang itu tetap ada, menolak diisi oleh apa pun kecuali sesuatu yang bahkan tidak bisa kugenggam.
Sejak malam di car free day itu, aku sadar, ada sesuatu yang masih mengikatku padamu. Aku sudah berusaha melepaskan. Aku sudah mencoba memutar arah hidupku. Tapi ada tarikan halus yang tidak bisa kuabaikan.
Beberapa malam kemudian, aku duduk sendirian di kamar, lampu kupadamkan agar pikiranku lebih tenang.
Aku membuka ponsel tanpa tujuan, hanya sekadar mengalihkan hampa. Jemariku meluncur ke sosial media, halaman itu terbuka, dan sebelum aku sadar, aku sudah mengetikkan namamu.
Aku menatap layar ponsel itu cukup lama. Ada rasa takut yang aneh. Seperti seseorang yang mengetuk pintu lama yang pernah ia kunci rapat-rapat.
Apa yang sebenarnya kucari? Aku tidak tahu.
Mungkin aku hanya ingin memastikan kau masih ada. Masih berjalan di dunia yang sama denganku. Masih menghirup udara yang sama.
Ada kerinduan aneh yang tidak bisa kujelaskan. Rindu yang tidak keras, tidak meledak. Rindu yang sunyi.
Rindu yang tidak butuh balasan. Rindu yang cukup terjawab hanya dengan melihat senyummu, walau hanya melalui layar kaca.
---
Malam itu, sebuah lagu tiba-tiba mengalun dari playlist acak di ponselku. Andmesh – Anugerah Terindah.
Nada pertamanya saja sudah membuat nafasku tercekat. Ada sesuatu dalam suara itu, sesuatu yang menyingkap bagian hatiku yang selama ini kusembunyikan di balik kata “melepaskan”.
Aku memejamkan mata. Biarkan lagu itu meresap perlahan ke dalam ruang kosong di dadaku.
> "Biarkan semua manusia jadi saksi nyata,
bahwa memilikimu adalah anugerah terindah untuk diriku…"
Baris itu datang seperti pisau yang lembut namun dalam. Kata “memiliki” itu…
Aku tertawa pelan, getir. Aku bahkan tidak pernah memilikinya. Tidak sekali pun. Bahkan dalam doa pun aku tak berani memintanya.
Aku menatap langit-langit kamar yang gelap. Bibirku bergerak pelan, seperti sebuah doa, seperti rahasia yang hanya malam yang tahu:
> “Putra… lagu ini adalah ungkapan hatiku padamu.