Sejak tahu kalau orang yang dijodohkan dengannya adalah Aurora, Dava langsung pusing. Bagaimana tidak? Sehari sebelumnya ia mengetahui kalau Aurora menyukainya selama 3 tahun. Gila! Mereka tidak saling kenal tapi gadis itu menyukainya selama itu? Jangan-jangan gadis itu juga menguntitnya selama ini? Wah, menakutkan! Tapi sepertinya Aurora gadis yang lemah, ia dengan mudahnya jatuh dari tangga saat di senggol Jeni. Tubuhnya juga sangat ringan. Untuk sementara ini, Dava yakin kalau Aurora tidak akan berbuat aneh-aneh kepadanya. Masalahnya, Aurora pasti akan menyetujui perjodohan ini.
Oleh karena itu Dava mengatakan ini, “Bukannya itu bagus untukmu ya? Kamu suka aku. Jadi ini kartu AS mu. Aku tidak bisa menolak perintah Kakek. Bisa dibilang aku akan bersamamu sampai mati. Enakkan? Ya walaupun aku sendiri tidak sudi bersamamu. Tapi aku bisa apa? Jalani sajalah.” Sebenarnya ia ingin mengatakannya saat ada di rumah sakit, tapi waktunya tidak pas. Dava membuat agar terdengar seperti merendahkan Aurora.
Dava mengamati ekpresi Aurora dari air di kolam, ia terlihat sangat marah. Bagus juga, dengan ini ia pasti tidak akan setuju dengan perjodohan konyol ini. Dava tersenyum puas, tapi kejadian itu berlangsung cepat. Aurora menendangnya dan ia jatuh ke dalam kolam renang. Sialan! Airnya dingin dan Aurora langsung pergi begitu saja. Beberapa pelayan yang melihat peristiwa itu langsung berlari menolong Dava. Dava harus menanggung malu, ia buru-buru keluar sebelum ada yang membantunya. “Aku tidak apa-apa.” Ucap Dava begitu keluar dari kolam dan ia segera pergi.
Gara-gara Aurora Dava harus mandi lagi, badannya bau amis karena terjebur ke kolam. Menyebalkan sekali! Dava bahkan telat untuk datang ke rumah utama. Pasti Suryo akan memarahinya. Aurora itu! Baru sehari ia tinggal di rumahnya justru sudah membuat masalah.
“Kenapa kamu telat?” Lihatkan, sekarang Suryo bertanya dengan ketus ke Dava. Membuat suasana hati Dava yang sudah buruk tambah buruk saja.
“Aku harus mengeringkan tubuh dulu Kek.” Dava berhenti makan dan menatap lurus Aurora. Ingin sekali ia memarahi Aurora, sayangnya Kakeknya ada di sini. Aurora menundukkan wajahnya, yah setidaknya ia merasa bersalah telah membuat Dava terjatuh ke dalam kolam. Dava terus mengamati Aurora. Orang ini hobi menundukkan kepala ya? Apa kepalanya berat sampai-sampai menunduk terus?
“Jadi Aurora, dia Dava cucu Kakek.” Suryo bertanya, Dava mengamati Aurora dan ia hanya mengangguk tanpa melihat mereka, “Apa sebelumnya kalian sudah saling mengenal? Kaliankan satu sekolah.”
“Dia menyukaiku selama 3 tahun, lalu membuat surat cinta.” Ucap Dava santai, ia kembali makan. “Ya anggap saja kami sudah saling mengenal.” Dava berhenti makan dan kembali mengamati Aurora. Kepalanya tertunduk lebih dalam. Dia malu ya? Tanya Dava dalam benaknya. Sebelumnya, Aurora pernah melemparinya kotak pensil, lalu menendangnya sampai ia terjatuh ke dalam kolam. Tapi kenapa sekarang ia hanya menundukkan kepala?
“Bagus kalau seperti itu. Kalian saling menyukai bukan? Bagus bagus bag..” Dava buru-buru memotong ucapan Suryo, “Cuma dia yang suka, aku tidak. Tapi walau aku suka atau tidak. Aku tidak mungkin menolak perintah Kakek bukan? Kamu” Dava tetap menatap Aurora, “Selamat, tidak sia-sia kamu buat surat cinta.” Dava berdiri dan langsung pergi. Ia tidak peduli kalau setelah ini Kakeknya akan mendatanginya dan memarahinya habis-habisan.
***
“Jadi sekarang kamu tinggal di rumah Dava?” Mata Nilam membelalak besar, “Pasti akan terjadi momen romantis diantara kalian. Aku jadi iri.” Sepertinya Nilam harus berhenti nonton drama. Fantasinya sudah terlalu jauh.
“Kalau yang kamu maksud romantis itu aku menendang Dava ke kolam ikan. Ya itu romantis.” Aurora lemas seketika ketika membahas itu.
“Apa?” Tanya Naya kaget. Sinta menggeleng-gelengkan kepalanya, “Kamu ini kenapa si Ra? Kok jadi bar-bar begitu?” Sinta menggeleng-gelengkan kepalanya lagi. “Aku mau kesana. Ya ya ya!” Paksa Sinta.
“Jangan, itu bukan rumahku. Bagaimana mungkin aku bisa mengajak kalian kesana.” Aurora menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia tidak enak hati kalau sampai membawa orang ke rumah Suryo Wijayanto.
“Ayolah Aura, aku penasaran ingin lihat rumah konglomerat.” Sinta berkata dengan sangat antusias. Aurora tetap menggelengkan kepalanya.Wajah Sinta tampak kecewa.
“Aura, itu bisnya lewat.” Teriak Nilam begitu melihat bis yang biasa ditumpangi Aurora saat pulang lewat, ”Eh Aura, rumahmu maksudku rumah Dava di mana?”
Aurora menghembuskan nafasnya, “Tidak ada bis yang lewat sana.” Ucap Aurora lemas, biasanya ia naik bis kalau ke sekolah. Tapi karena tidak ada satupun bis yang melewati rumah Suryo Wijaya maka ia diantar jemput oleh supir. Aurora tidak nyaman, ia akan susah untuk bermain bersama dengan teman-temannya. “Kenapa kalian tidak pulang, dari tadi bisnya sudah lewatkan?”