Aurora tidak tahu harus bagaimana. Kemarin Suryo menyambut semua temannya dengan bahagia. Ia sama sekali tidak menyinggung perbuatan mereka yang main masuk ke dalam kamar itu. Bahkan Dava yang tadinya melemparkan tatapan tajam juga tidak mengatakan apapun. Tapi rasa bersalah muncul di benak Aurora, apalagi setelah ia menemukan foto itu. Dava terlihat sangat bahagia di dalam foto itu, ia belum pernah melihat Dava tersenyum seperti itu. Aurora justru menyukai Dava ketika ia melihatnya sedang menangis. Foto itu menganggu Aurora, setelah makan malam kemarin Aurora ingin melihat foto itu lagi. Tapi kamarnya sudah dikunci. Nampaknya kamar itu memang tidak boleh dimasuki lagi.
Kepala Aurora rasanya berat memikirkan semuanya, belum soal perjodohan, sebentar lagi UN, siapa perempuan yang ada difoto. Sudahlah semua membuat kepala Aurora rasanya mau pecah. Hari ini Aurora bagun pagi walaupun hari libur, ia ingin menjernihkan kepala dengan lari pagi. Angin menerpa kulit Aurora, memang sedikit dingin. Tapi hal itu bagus untuk membantu menjernihkan kepala Aurora. Aurora berlari mengikuti jalan, sebelumnya ia belum sempat melihat-lihat keseluruhan rumah milik Suryo. Ia benar-benar kagum karena lebih luas dari dugaannya, Aurora tidak tahu ada berapa rumah di sini. Seperti kompleks perumahan saja. Dari jauh Aurora samar-samar mendengar ada lantunan piano. Aurora berlari mendekati sumber suara yang ternyata berasal dari sebuah rumah.
Rumah berwarna coklat dan lebih besar dari pada yang ia tempati. Aurora berhenti untuk mendengar, ia sudah lama tidak mendengar alunan musik. Biasanya ketika Herman sedang menciptakan lagu, Aurora ikut menemani. Ia jadi sering mendengarkan alunan musik. Mendengarkan suara piano itu membuat Aurora merindukan rumahnya, Herman dan Niana melarangnya ke rumahnya sendiri. Aurora heran dengan sikap kedua orangtuanya itu. Suara piano berhenti. Aurora yang sedang memikirkan kedua orangtuanya langsung menatap rumah itu. Dava tiba-tiba muncul dari dalam, “Kenapa kamu di sini?”
Aurora menundukkan kepalanya, “Aku sedang jogging.” Aurora gugup, jantungnya jumpalitan lebih daripada saat jogging tadi. Ia takut kalau seperti ini ia bisa terkena serangan jantung.
Dava tiba-tiba menarik tangan Aurora, “Kemarilah, dari pada mencari recehan. Tidak akan ketemu.” Aurora menatap Dava. Ia heran, sejak kapan Dava berjalan dan tiba-tiba sudah menarik tangannya. Dava membawa Aurora ke ruang tamu. Aurora melihat ada piano, “Kamu yang tadi main piano?”
Dava mengangguk, “Kamu anaknya Herman Alamsyahkan? Kenapa kamu rahasiakan?”
Aurora duduk di sofa dan menundukkan kepalanya, “Aku tidak suka semua orang tahu kalau aku anak artis.” Aurora melihat ada bola salju di di meja dan mengambilnya, ia sangat gugup dan membutuhkan sesuatu untuk dipegang. “Semua orang akan mendekatiku kalau tahu aku anak artis. Kamu juga merahasiakan siapa Kakekmu, aku rasa alasannya sama denganku. Iyakan?” Aurora menatap Dava.
Dava mengerjapkan matanya, ia mengangguk-angguk “Jadi kamu bisa main piano?”Dava mulai bermain piano, “Toh ayahmu seorang pemusik.”
Aurora tersenyum dan masih menundukkan kepalanya, “Salah satu alasan kenapa aku tidak mengatakan siapa ayahku karena pertanyaan seperti itu akan selalu muncul.” Aurora menggeleng-gelengkan kepalanya pelan, “Aku tidak bisa bermain alat musik. Saat masih kecil aku cenderung merusak alat musik Ayah.”
“Berarti kamu pandai melukis seperti Ibumu?” Dava menebak.
Aurora kembali tersenyum, ”Aku juga sering merusak peralatan melukis, peralatan memahat, dan pernah merusak lukisan Bunda yang besoknya harus di kirim ke pameran.” Aurora tersenyum tipis, “Aku cenderung merusak apapun yang aku pegang, walau aku tidak berniat seperti itu.”
Dava mengangguk, “Aku tahu, aku melihatnya sendiri.”