Terkadang Aurora bertanya-tanya, apa manfaatnya punya teman seperti Sinta? Daripada menguntungkan, berteman dengan Sinta lebih banyak tidak untungnya. Aurora pernah dikejar anjing saat SD karena Sinta iseng melempari anjing dengan batu, karena hal itu ia menjadi trauma dengan anjing. Nilam pernah dimarahi penjual gorengan karena ketahuan makan bakwan dua tapi bayarnya satu, itu karena ajarannya Sinta. Aurora juga malu karena didesak Sinta untuk membuat surat cinta untuk Dava. Kalau saja pikirannya lebih tenang saat itu, ia tidak akan semalu ini. Tiga minggu yang lalu, Aurora hampir kehilangan tasnya di toilet karena Sinta yang ia titipi tas pergi tanpa membawa tas Aurora. Kalau mereka tidak berteman sejak SD, mungkin Aurora akan menjambak rambut Sinta sekarang juga.
Hobi baru Sinta yang bermain medsos memang menakutkan. Setiap hari ia akan memposting kegiatannya. Termasuk ketika berkunjung ke rumah Suryo Wijayanto. Sinta memposting saat ia makan, berfoto dengan Suryo, berfoto di rumah utama. Sebenarnya aku sudah mengatakan jangan sampai Dava terlihat di dalam postingannya. Selihai-lihainya Sinta, ya tetap Sinta. Ia bukan orang yang teliti, saat ia membuat postingan story ternyata Dava masuk di dalamnya. Apalagi Sinta menuliskan: Keluarga baru Aurora. Hal itu membuat banyak orang yang penasaran. Sinta sampai harus menghapus semua postingannya, sayangnya sudah ada yang menyimpan. Sinta akhirnya mematikan ponselnya agar tidak ditanya-tanya lagi.
Keadaan tambah parah ketika Suryo meminta agar Aurora dan Dava berangkat ke sekolah bersama. Toh mereka satu sekolahan, dari pada harus berangkat sendiri-sendiri lebih baik berangkat bersama. Tujuan Suryo melakukan itu juga agar mereka berdua semakin dekat dan saling mengenal. Tapi keputusan Suryo saat itu justru membuat heboh.
Selama perjalanan, Dava diam saja. Entah ia tahu atau tidak, tapi ekspresi Dava sangat datar. Ia hanya duduk menyetir dan menatap jalan. Naya dan Nilam tidak henti-hentinya mengirimi pesan kepada Aurora. Aurora melirik Dava. Tapi ia tidak bisa lama-lama melirik Dava, Aurora ingin mengatakan kehebohan yang sedang terjadi tapi mulutnya tidak bisa terbuka. Aurora terus menundukkan kepalanya.
***