Tahun-tahun pertama Niki di Jerman terasa seperti berjalan sendirian di tengah huru-harnya dunia. Tidak ada yang mengenalnya dan tidak ada yang tau, kisah mengerikan apa yang telah di lalui Niki di masa lalunya.
Setelah pindah ke Jerman, bukan cuma bahasa yang berbeda, ada banyak hal yang berbeda. Bahkan hal-hal sederhana yang dulu tidak pernah ia pikirkan di Indonesia bisa berubah menjadi masalah besar di sini. Namun, setelah bertahun-tahun melewati semuanya seorang diri, Jerman justru menjadi tempat yang sulit ia tinggalkan. Dia menjadi gadis yang mandiri setelah ia melewati banyak hal selama di Jerman.
Niki tinggal di Leipzig, kota mahasiswa yang tidak terlalu besar, tetapi selalu terasa hidup. Jalanan dipenuhi mahasiswa yang bersepeda dengan ransel di punggung, sementara kafe-kafe kecil hampir selalu ramai oleh suara percakapan dan denting cangkir.
Dulu, Niki tidak pernah membayangkan dirinya akan menyukai kehidupan seperti ini. Dia sangat suka musim gugur yang tenang dan sedikit dingin. Saat musim gugur, dia suka jalan kaki sore hari atau naik sepeda melewati taman dengan daun-daun kuning dan merah. Setelah itu mampir ke kafe kecil untuk minum kopi sambil membaca atau mengerjakan tugas kuliahnya. Terkadang, dia juga akan pergi hiking ke Harz atau Sächsische Schweiz.
Memiliki banyak kegiatan di luar kampus adalah cara Niki agar dia tidak terlalu merindukan rumah. Niki tinggal di sebuah apartemen kecil sendirian. Selama bertahun-tahun, Niki belajar menjadi mandiri, padahal dulu segala sesuatu yang dia butuhkan, selalu di siapkan.
Gadis yang dulu dikenal angkuh itu perlahan berubah. Hidup memaksanya belajar banyak hal, tentang kehilangan, tentang kesepian, tentang bertahan ketika tidak ada seorang pun yang bisa diandalkan.
Namun, ada satu hal yang tidak pernah berhasil ia pelajari, yaitu cara melupakan seseorang.
Di bagian atas gedung tempatnya tinggal, terdapat balkon kecil yang menghadap pepohonan. Setiap malam, setelah menyelesaikan kuliahnya, Niki sering duduk di sana dengan laptop di pangkuan.
Dari atas, ia bisa melihat para mahasiswa berjalan di trotoar sambil tertawa. Ada yang bersepeda berdua, ada juga yang membawa kopi. Di bawah sana, kehidupan tetap berjalan seperti biasa.
Ada malam-malam ketika Niki menangis diam-diam karena merindukan rumah dan merindukan seseorang yang dulu selalu ada untuknya, namun sekarang ia tidak mengetahui keberadaannya dimana. Malvin, sahabatnya sejak kecil, yang tiba-tiba hilang kabar setelah Niki pindah Sekolah ke Jerman.
Niki tidak pernah pulang ke Indonesia, Orang tuanya yang sesekali datang berkunjung. Setiap kali mereka datang, rasa rindunya sedikit terobati. Tetapi tetap ada satu orang yang ia tunggu. Seseorang yang dulu pernah berjanji akan datang menemuinya. Seseorang yang, selama ini, selalu ia percaya tidak akan pernah mengingkari janji.
Besok, Niki akan meninggalkan Jerman. Semua urusannya telah selesai. Gelar Master sudah ia dapatkan. Tidak ada lagi alasan untuk terus tinggal.
Ponselnya berdering. Niki mengangkat panggilan itu tanpa melihat layar.
“Nikiiiii!” Suara Becky langsung memenuhi ruangan. “Kenapa nggak balik ke Indonesia, sih? Segitu traumanya, ya, lo dibohongin sama Malvin?”
Niki memejamkan mata. Becky memang tidak pernah berubah.
“Sudah tujuh tahun, Niki. Tujuh tahun lo nggak balik. Lo mau ngejar apalagi? Gelar Master juga sudah dapat.”
Niki diam sebentar. Kemudian pertanyaan yang sama kembali keluar dari bibirnya.
“Lo belum tahu kabar Malvin?”
Hening.
Becky mengembuskan napas panjang. Bukan karena lelah menjawab pertanyaan Niki. Ia hanya muak dengan satu nama itu. Tidak ada seorang pun yang tahu kabarnya sejak ia lulus SMA.
Orang tuanya pun menghilang. Rumah yang dulu mereka tempati telah dijual. Bahkan orang tua Niki tidak pernah berhasil menemukan keberadaan mereka. Mereka pergi tanpa pamit.
“Ini terakhir kalinya gue jawab pertanyaan lo tentang Malvin,” kata Becky akhirnya. “Update terakhir kemarin pukul dua siang. Gue ketemuan sama Clairine dan Mathew. Mereka juga nggak punya kabar apa pun tentang Malvin.”
Niki menunduk. Ia marah kepada Malvin karena laki-laki itu tidak menepati janjinya. Namun, kemarahannya selalu kalah oleh satu hal yang lebih besar, kekhawatiran.
Kalau Malvin memang sudah tidak peduli, setidaknya ia masih bisa menerima kenyataan itu. Tapi Malvin menghilang begitu saja. Bukan hanya Malvin. Om Yoseph, Tante Paula, dan Steven juga ikut menghilang. Tidak ada kabar dan jejak. Tidak ada satu pun orang yang tahu ke mana mereka pergi.
Ke mana kamu pergi, Malvin?
“Sudahlah,” suara Becky kembali terdengar. “Sebaiknya lo pulang. Tengokin kita-kita yang di sini. Masih ada sahabat-sahabat lo yang setia nungguin lo disini. Emang nya lo cuma rindu sama Mavin doang? nggak anggap kita ada?”
Niki menarik napas.
“Iya. Gue pulang.”
Becky langsung berseru.
“Serius? kapan?” tanya Becky
“Besok.”