Two Continents Between Us

Ntalagewang
Chapter #2

Bab 2

Granada - Albaicín

Bukan Barcelona yang akhirnya Niki pilih, melainkan Granada. Ada sesuatu yang historis, magis, dan tenang tentang kota itu, seolah setiap sudutnya dibuat untuk orang-orang yang ingin mulai lagi dari awal. Di kejauhan, Alhambra berdiri megah seperti penjaga waktu, cukup dekat untuk dinikmati, cukup jauh untuk meresap perlahan. Sama seperti Malvin yang selalu ada di hatinya, namun sangat sulit ia jangkau. Niki berharap tempat ini bisa benar-benar melepaskannya dari bayang-bayang Malvin.

Ia menempati sebuah flat kecil di kawasan Albaicín, yang berada di area pinggiran, dipenuhi jalan batu sempit dan rumah-rumah putih bergaya Moor. Suasananya begitu sarat dengan nostalgia. Dari balkon kayu tuanya, Niki bisa melihat atap-atap merah kota tua, garis langit Granada yang lembut, dan siluet Alhambra yang memudar di kabut senja.

“Bukan di Barcelona? Kenapa kau plin-plan banget, Niki? Kenapa sekarang tiba-tiba ada di Granada?” suara Becky langsung meluncur begitu Niki memberi kabar.

“Di sini juga indah, tahu. Aku punya flat dua kamar yang menghadap timur, ada meja dan bangku kayu yang super aesthetic.Pemandangannya cantik banget… Kalau kau datang ke sini, kau pasti terpukau. Dan ada banyak café lucu juga.” Jelas Niki, berusaha meyakinkan.

Tapi seperti biasa, Becky tidak terlalu mendengarkan. Tanpa peduli alasan Niki, ia menutup telepon begitu saja. Becky hanya ingin Niki tinggal di Barcelona supaya mudah dikunjungi.

Niki tersenyum kecil. Sudah biasa menghadapi musuh bebuyutannya itu.

Hari itu ia tak punya rencana pergi ke mana pun, jadi ia memutuskan menata barang-barangnya. Ia membuka koper satu per satu, melipat pakaian, menyusun buku, menyimpan pernak-pernik kecilnya. Sampai tangannya berhenti pada dua bingkai foto-foto dua remaja yang tersenyum bahagia ke arah kamera. Satu-satunya foto masa lalu yang ia simpan.

Beberapa jam berlalu tanpa terasa. Perutnya mulai perih. Niki baru sadar ia belum makan sejak malam sebelumnya. Ia mencari-cari di tasnya, berharap ada sepotong roti sisa perjalanan, namun tidak ada.

Ia menghela napas panjang sambil menatap keluar balkon. Langit sudah temaram, lampu-lampu jalan mulai menyala, dan angin malam membawa aroma kota tua yang lembut.

Ia akhirnya memutuskan keluar. Ia ingat ada sebuah café tak jauh dari apartemennya, dan sebuah toserba kecil di ujung jalan. Mungkin lebih baik ia membeli keperluannya dulu.

Jalanan batu Albaicín terasa dingin di bawah langkahnya. Dari kejauhan, aroma makanan menguar dari arah café. Tempat itu tampak ramai oleh para pengunjung lokal dan turis. Niki berhenti sebentar, bingung apakah akan makan dulu atau belanja dulu. Membayangkan harus berjalan kembali ke ujung jalan setelah makan membuatnya malas. Jadi ia memilih menuju toserba terlebih dahulu.

Lihat selengkapnya