Two Continents Between Us

Ntalagewang
Chapter #3

Bab 3

Niki merasakan dunia seolah berhenti berputar. Saat melihat sosok itu, sosok yang selama ini dia cari, yang namanya ia bisikkan dalam rindu-rindu panjang. Cowok yang sudah tujuh tahun menghilang begitu saja, kini dia berdiri disana dan Niki bisa melihat wajahnya dengan jelas. Niki lega, karena Malvin tampak sehat.

Rasanya ingin langsung berlari memeluknya, marah yang selama ini ia pendam karena kecewa mendadak runtuh, tidak ada lagi kemarahan itu yang ada hanyalah rasa rindu yang sudah tak terbendung lagi.

Niki mengusap air matanya, dan menggerakan langkahnya ke arah Malvin. Namun, langkahnya terhenti. Dia membeku di tempat dan air matanya turun lebih deras. Dadanya terasa sesak. Kali ini bukan air mata rindu dan bahagia, namun rasa sakit ketika seorang wanita asing, merangkul Malvin. Malvin membalasnya dengan lembut dan mengusap pelan kepala perempuan itu. Yang Niki tau, Malvin tidak akan perlakukan wanita manapun seperti itu, selain Niki dan Mamanya Malvin. Melihat pemandangan yang ada di depannya membuatnya benar-benar terluka.

"Pantas saja dia menghilang begitu saja."Gumamnya pelan.

Pemandangan itu menghantam Niki seperti badai. Sesuatu di dadanya hancur dengan suara yang nyaris terdengar.

Niki berusaha kerasa untuk pergi dari tempat, memeluk erat kantong belanjaannya dan melangkah keluar sambil menahan tangis.

"Hola, chica… estás bien? Te encuentras bien? Are you okay?" Seseorang menegurnya pelan, tetapi Niki hanya mengangguk. Ia tak sanggup bersuara. Tenggorokannya rasanya terkunci.

“Aku menemukannya,” pikirnya getir, “tapi sekarang dia bukan lagi Malvinku… dia milik seseorang.” Langkahnya terseret-seret, tak peduli beberapa kali dia bertabrakan dengan beberapa pejalan kaki disana.

Di apartemennya, Niki menggeletakan begitu saja barang belanjaannya. Rasa lapar yang tadi menghampirinya kini menghilang dan di isi dengan kesedihan serta patah hati yang menyakitkan. Dia menelpon Lauren, untuk memastikan tentang Malvin pada pria itu, namun Lauren tidak menjawab teleponnya.

"Becky ... " dia memutuskan untuk menelpon Becky, karena tak sanggup menahan sakitnya sendirian. "Aku sudah menemukan Malvin."

"Hah? Menemukan Malvin?" Becky terkejut mendengarnya. "Terus dimana Malvin sekarang?"

Alih-alih menjawab, Niki malah menangis. Tangis yang patah tanpa bersuara.

Lihat selengkapnya