Malvin kembali ke kafe, dia berjalan dengan langkah berat, membiarkan angin malam menampar wajahnya. Dia sudah bertemu dengan Niki namun tidak ada hal yang bisa dia lakukan selain hanya menatapnya dari jauh. Ketika pintu kafe terbuka, ia melihat Kenny masih duduk di sudut ruangan. Perempuan itu tiba lebih awal di kafe.
"Kamu darimana? siapa perempuan itu?" tanya Kenny dengan suaranya yang pelan. Kenny bangkit dari kursinya dan melangkah kearah Malvin. Setelah sebelumnya dia membuntuti Malvin, dia akhirnya menebak, perubahan Malvin saat itu terjadi saat perempuan itu datang. Kenny pun yakin jika Malvin pergi untuk mengikuti perempuan.
Pertanyaan Kenny simple, namun Malvin kesulitan untuk menjawabnya. Siapa Niki? sahabatnya? pacarnya? atau hanya seseorang di masalalunya?
Malvin mengabaikan Kenny, dia masuk ke gudang dan mengurung diri disana. Ia mengeluarkan ponsel dari dalam saku celananya.
"Niki ada disini Pa...dia ada di Granada." ia mengirim pesan ke Yoseph. Tak lama kemudian, Yoseph langsung menelponnya. Dia tidak menduga orang yang ingin di hindari Malvin sekarang ada disana.
"Dia melihatmu?" tanya Yoseph dari sebrang sana. Suara terdengar cemas, namun ada kelegaan juga disana. Karena akhirnya Malvin bisa melihat orang yang dia rindukan selama ini.
"Iya, dia melihatku." Malvin menceritakan semuanya, bagaimana Niki bereaksi, bagaimana wajah perempuan itu penuh luka dan rindu yang terpaksa ia tahan. Kata-katanya tersendat-sendat, seperti sulit melewati tenggorokannya.. Malvin mengakhiri pembicaraan dengan Yoseph, ketika seseorang memanggilnya dari luar.
Malvin keluar dan mendapati salah seorang staffnya berdiri disana. Staffnya memberitahu Malvin jika ada seseorang yang mencarinya.
"Siapa?" tanya Malvin. Dia tidak menunggu jawaban dari Staffnya dan langsung pergi ke depan. Dan di sana… ia melihat Niki.
Niki berdiri dengan mata sembab, wajahnya merah, tubuhnya seperti kehilangan pegangan. Pandangan mereka bertaut dan seketika dada Malvin kembali diremas rasa sakit yang sama seperti yang ia lihat di mata Niki. “Jangan mendekat, Niki,” ucap Malvin pelan, suara seraknya pecah di ujung.
"Apa kabar Malvin?" Tanya Niki dengan suara bergetar. Dia mencoba tegar namun tampaknya begitu sulit. "Bisa bicara sebentar?"
"Ya." Sahut Malvin dingin, sangat dingin.
Malvin mengajak Niki untuk bicara di depan kafe. Disana ada beberapa bangku kayu yang kosong. Niki duduk disana, ia menundukan kepalanya saat Malvin duduk di depannya.
"Tadinya, aku ingin semuanya biasa-biasa saja, aku ingin berpura-pura bahwa aku baik-baik saja. Tetapi aku tidak bisa seperti itu. Jadi aku putuskan untuk menemuimu lagi, walaupun dadaku begitu sesak..." Niki mengumpulkan keberaniannya untuk bicara. Dia terus menunduk membiarkan air matanya jatuh lebih deras dari sebelumnya. Ia menggigit bibirnya, menahan suara. "Aku datang kesini, bukan untuk mencarimu tetapi untuk melupakanmu, sayangnya takdir tidak memenuhinya. Aku di kejutkan dengan keberadaanmu bersama perempuan lain..." tangannya bergetar hebat. "Selama aku di Jerman, kau tidak pernah menghubungiku, kamu bener-bener hilang dari hidupku. Bertahun-tahun aku menunggu dan mencaritahu tentang keberadaanmu, namun tak ada satu orang pun yang tau keberadaanmu."