“Kamu tahu aku menunggumu bertahun-tahun …” suara Niki pecah. “Kamu tahu aku aku nggak pernah berhenti berharap …”
Niki tidak benar-benar tidur malam itu. Ia hanya tergeletak dengan mata bengkak, napas tersengal, dan tubuh gemetar. Tangisnya berhenti bukan karena hatinya membaik, tetapi karena tubuhnya kelelahan seakan seluruh energi diperas habis. Matahari belum sepenuhnya naik ketika ia terbangun dengan kepala berat, dan tubuh yang serasa ditempeli batu. Pakaian yang ia kenakan semalam masih menempel di tubuhnya.
Ia menatap pantulan dirinya di kaca.
“Lihatlah dirimu … hancur begini cuma karena satu orang,” gumamnya getir. "Mungkin memang saatnya untuk melupakannya," pikirnya. Mungkin sulit, tetapi Malvin saja bisa melakukannya dengan mudah, dia bersikap seakan Niki adalah orang asing yang tidak pernah hadir dalam hidupnya. Tidak ada pertanyaan mengenai kabar Niki, tidak ada pelukan menenangkan saat Niki menangis. Dia orang yang berbeda.
Niki menyeret langkahnya keluar kamar, dia bisa mati kelaparan kalau tidak segera memberi asupan untuk badannya. Kantong belanjanya yang semalam masih tergeletak di atas meja. Dia tidak punya tenaga untuk membuat sarapan, sepotong roti dan segelas susu cukup untuk mengatasi kelaparannya di pagi itu.
Setelah sarapan, Niki bangun dan menyeret tubuhnya ke kamar mandi. Air hangat membasahi wajahnya, membuat sensasi perih di mata yang semalam terlalu banyak menangis. Niki kembali ke dapur, dia mengambil es batu, membungkusnya dengan handuk kecil lalu mengompres matanya selama beberapa menit.
"Sial .. jangan menangis lagi Niki!!!" keluhnya, karena tanpa sadar air matanya berbaur dengan air es yang menempel di matanya. Merasa cukup, ia kembali ke kamarnya dan memilih untuk tidur lagi. "Aku baik-baik saja, aku sudah cukup lelah menunggu dan menangis, sudah waktunya untuk kembali seperti sebelumnya, saat aku belum menemukan Malvin."
Niki menyalakan musik dari ponselnya, dan berusaha untuk kembali tidur, walau sebenarnya seluruh isi kepalanya penuh dengan segala hal tentang Malvin. Foto Malvin dan dirinya, tetap dia pajang disana, karena baginya Malvin yang dulu adalah miliknya.
Sore itu Niki terbangun, kondisinya sudah lebih baik di bandingkan pagi tadi. Matanya sudah tidak terlalu bengkak, wajahnya sedikit lebih segar, ayunan langkahnyapun sudah mulai ringan.
"Aku yakin pasti ada sesuatu yang ia sembunyikan. Kau pikir aku siapa Malvin? Aku bahkan lebih mengenalmu daripada siapapun. Kau pikir aku akan menjauh saat kau mengabaikanku? TIDAK! Dulu kau milikku, sekarangpun sama. Aku sudah menemukanmu dan aku akan mengambil kembali apa yang menjadi milikku."
Niki bersiap-siap, entah mimpi apa yang muncul dalam tidurnya dia seperti memiliki kekuatan yang baru. Sore ini dia berencana untuk berjalan-jalan di Kota tua. Sore hari di Granada memang sangatlah menggoda.
Niki sedang berdiri di trotoar, sambil melipat kedua tangan di depan dadanya. Seperti biasa, dia sedang mempertimbangkan arah mana dulu yang akan dia ambil.