Two Continents Between Us

Ntalagewang
Chapter #6

Bab 6

Niki menelusuri jalan setapak berbatu yang masih basah oleh sisa hujan sore. Udara dingin menyusup lewat celah jaketnya, dia menikmati perjalanannya ditemani aroma kopi yang menyeruak dari kafe-kafe kecil di sepanjang lorong. Wisatawan berlalu-lalang, tawa dan percakapan asing terdengar samar, namun pikirannya melayang jauh ke masa lalu ke saat ia dan Malvin masih berjalan berdampingan tanpa jarak yang menyakitkan. Seandainya dulu mereka tidak berpisah, bisa saja saat ini mereka sedang liburan bersama atau melakukan banyak hal indah seperti dulu.

Langkahnya melambat ketika sebuah kafe di sudut jalan mulai tampak jelas. Tempat itu tidak asing. Hatinya berdegup tak beraturan. Di depan pintu, Niki berhenti.

Jangan menangis kalau dia mengabaikanmu, katanya pada diri sendiri, nyaris seperti doa.

Matanya menyapu setiap sudut kafe, mencari satu sosok yang sejak tadi memenuhi kepalanya. Apakah Malvin ada di sana, atau ia datang terlambat seperti biasa?

“Jangan menghalangi jalan.”

Suara dingin itu membuat tubuh Niki menegang. Ia menoleh dan mendapati Malvin berdiri tepat di belakangnya. Wajahnya datar, tatapannya tak menyimpan kehangatan sedikit pun. Tanpa menunggu reaksi, Malvin melangkah melewatinya begitu saja.

Niki menggertakkan gigi, menahan kesal yang merambat naik ke dadanya. Ia ingin memanggil nama itu, namun lidahnya kelu. Ia mengingat alasan kedatangannya ia tidak datang untuk menyerah ia datang untuk mengambil kembali apa yang menjadi miliknya.

Niki bergegas mengikuti Malvin, namun langkahnya kembali terhenti ketika sosok lain muncul di sisi pria itu. Kenny selalu ada disana dan terus menempel di samping Malvin.

“Kenapa perempuan ini selalu ada di sini?” gumam Niki pelan, nyaris tak terdengar. Ada sesuatu di dada Niki yang terasa terjepit setiap kali melihat perempuan asing itu berdiri terlalu dekat dengan Malvin. Dulu Malvin hanya kepunyaannya, tidak ada satu orang gadispun bisa mendekati Malvin tanpa persetujuan Niki. Dulu Niki adalah segalanya.

Kenny pun tak kalah waspada. Ia mengenali Niki. Ia ingat betul bagaimana Malvin berubah setelah perempuan itu datang ke kafe. Dia melihat ada kerinduan yang begitu mendalam di mata Malvin.

Tak ingin berdiri di antara ketegangan yang tak terlihat, Niki memilih menjauh. Ia duduk di salah satu meja luar kafe. Kursi rotan itu terasa dingin saat diduduki. Di sekelilingnya, meja dan bangku tertata rapi di sepanjang trotoar. Beberapa pasangan tampak tertawa kecil, berbagi cerita, tanpa beban pemandangan yang menusuk perasaan Niki.

Seorang pelayan menghampirinya dengan buku kecil di tangan dan senyum sopan di wajah.

“Hola, buenas tardes…”

Niki mengangkat wajah dan membalas senyum itu. Ia memesan kopi susu hangat dan roti panggang, meski beberapa menit sebelumnya ia baru saja menikmati menu serupa di kafe lain.

“Yang sabar, ya,” gumamnya sambil menyentuh perut. “Ini nggak berlaku setiap hari.” Ia tak ingin asam lambungnya kembali kambuh.

Lihat selengkapnya