Beberapa hari berlalu tanpa jejak Niki di sekitar kafe. Biasanya, perempuan itu selalu muncul entah hanya duduk di sudut dekat jendela, memesan kopi yang sama, atau sekadar menatapnya diam-diam seolah keberadaan Malvin adalah jangkar hidupnya. Namun kini, kursi itu kosong.
Malvin baru menyadarinya saat tangannya berhenti di udara, di tengah aktivitas menyusun laporan stok. Ada keganjilan yang menekan dadanya, samar namun mengganggu. Ingatannya melompat pada percakapan telepon beberapa hari lalu, suara seorang anak yang terdengar terlalu dekat, terlalu akrab. Dan wajah Niki saat itu… kacau, seolah dunianya runtuh dalam satu tarikan napas.
Kecemasan merambat pelan, ia menutup map di tangannya, lalu menoleh pada salah satu staf.
“Kalau Kenny datang, bilang aku keluar sebentar. Beli bahan.”
Nada suaranya datar, seperti biasa. Tapi langkahnya sedikit lebih cepat dari biasanya ketika meninggalkan kafe.
Malvin berdiri di depan pintu utama flat Niki, menunggu seseorang keluar atau masuk agar ia bisa ikut menyelinap. Ia tidak punya akses kartu.
Ia menyandarkan punggung pada dinding dingin dan menyalakan sebatang rokok. Asap tipis melayang, menari di udara sore yang kelabu.
Lalu, dari kejauhan, ia melihat sosok itu. Sosok yang ia rindukan namun tak bisa ia akui.
Seorang perempuan berjalan tertatih, langkahnya berat, bahunya sedikit merunduk seolah menahan beban yang tak terlihat. Rambut Niki berantakan, wajahnya pucat, matanya kosong seperti kehilangan cahaya. Ia tampak rapuh, terlalu rapuh untuk seseorang yang biasanya menyimpan senyum keras kepala. Keadaan Niki membawa ingatan Malvin kembali ke masa SMA saat Niki terkena kasus.. tapi kali ini lebih rapuh.
Niki melihat Malvin. Tatapan mereka bertemu sepersekian detik. Namun Niki tidak berhenti, tidak menyapa, bahkan tidak mengubah ekspresinya. Ia melewati Malvin begitu saja, mendorong pintu masuk, lalu menyeret tubuhnya menaiki tangga.
Malvin menahan pintu agar tidak menutup, matanya mengikuti setiap langkah berat Niki. Ada sesuatu yang menekan dadanya perasaan bersalah yang enggan ia akui. Dia membuat Niki seperti itu, padahal dulu dia adalah orang yang selalu ada untuk Niki.
Ia membuang puntung rokok, menginjaknya pelan.
Seharusnya ia pergi.
Seharusnya ia tidak datang.
Namun tubuhnya membeku.
Ada gerakan di belakangnya. Ia menoleh dan mendapati Niki berdiri beberapa langkah darinya, napasnya sedikit terengah, matanya menatap tajam, menuntut.