Kuah ramen yang hangat memang menenangkan di awal. Uap tipis mengabur di depan wajah Niki, aromanya menggoda setelah berhari-hari perutnya nyaris kosong. Ia makan cukup cepat, seolah tubuhnya mengejar tenaga yang tertinggal.
Beberapa suap pertama terasa nyaman.
Namun tak lama kemudian, sensasi panas merayap pelan dari lambungnya. Awalnya hanya perih kecil, seperti bara yang menyala malas. Niki mengabaikannya, terus menyuap, berpikir itu hanya reaksi biasa.
Sampai nyeri itu naik.
Dadanya terasa ditekan dari dalam. Tenggorokannya panas, napasnya sedikit tercekat. Sendok di tangannya berhenti di udara.
Seseorang dari sampingnya menanyakan apakah dia baik-baik saja. Niki mencoba tersenyum, tapi gagal. Wajahnya memucat, keningnya berkerut menahan rasa perih yang makin menusuk.
“Perutku…” gumamnya lirih. Niki meraih segelas air, namun tak cukup untuk meredakan panas di perutnya. Niki ingin pergi ke apotek, namun perih di perutnya seolah menahan, sehingga dia memutuskan untuk berdiam diri disana.
Beberapa menit berlalu dalam diam. Niki bersandar sedikit di kursinya, mencoba mengatur napas. Rasa panas perlahan surut, menyisakan lelah yang berat di tubuhnya.
Udara malam menyentuh wajah Niki begitu mereka keluar dari restoran. Dingin tipis bercampur sisa aroma kaldu yang masih menempel di tenggorokannya. Lampu jalan memantulkan cahaya pucat di aspal, membuat dunia terasa sedikit berputar di matanya.
Perutnya kembali berdenyut.
Bukan nyeri tajam, melainkan panas yang bergulung pelan dari dalam, seperti bara yang belum sepenuhnya padam. Setiap langkah terasa sedikit lebih berat dari seharusnya. Niki menekan perutnya dengan telapak tangan, mencoba menahan rasa tidak nyaman itu agar tidak naik ke dada.
Ia menarik napas panjang,pelan, teratur.
Satu langkah.
Lalu satu lagi.
Namun tubuhnya tidak sepenuhnya patuh. Ia seharusnya pergi ke apaotek atau Rumah Sakit, namun langkahnya justru membawanya menuju ke kafe Malvin. Dia tidak perlu masuk, karena setelah Malvin melihatnya melalui jendela kaca, dia langsung keluar menemui Niki. Bukan kalimat menanyakan keadaan Niki, namun yang terdengar hanyalah suara ketakutan.
"Untuk apalagi kamu kesini?" Tanya Malvin dengan wajah menahan marah dan ketakutan.
"Aku sakit Vin.. perutku nyeri. Aku sendirian disini jadi ... "
Niki tidak menuntaskan ucapannya ketika Malvin tiba-tiba menyeret Niki pergi darisana, tanpa tahu kalau sebelumnya Niki susah payah datang kesana. Saat berada sedikit jauh darisana, Malvin sedikit melunak namun tetap dingin.
Malvin baru melepaskan genggamannya ketika mereka berhenti di sisi bangunan yang lebih sepi, jauh dari lalu-lalang orang. Lampu jalan hanya menerangi setengah wajahnya, meninggalkan bayangan tajam di garis rahangnya.
"Kamu ini kenapa selalu ceroboh dengan tubuhmu sendiri?” katanya dingin, tapi nadanya mengandung tekanan yang sulit disembunyikan. “Kalau sakit, ke rumah sakit. Bukan malah menemuiku di kafe.”
"Aku sendirian disini dan tidak tau ... "
"Kau bisa tanya orang lain. Jangan pernah datang ke kafe."
Niki menahan napas. Perutnya masih berdenyut pelan, tapi yang lebih menusuk sekarang adalah cara Malvin menatapnya seolah marah, seolah takut, seolah tidak tahu harus bersikap bagaimana.
“Aku nggak punya siapa-siapa buat dimintain tolong,” jawabnya lirih. “Aku cuma….”
Malvin terdiam sejenak.
“Kamu bukan anak kecil,” katanya akhirnya. “Berhenti cari masalah.”