Two Continents Between Us

Ntalagewang
Chapter #9

Bab 9

Primus Amor

Pertanyaan Niki dibiarkan menggantung di udara. Malvin memalingkan wajah, menutup tatapan itu seolah sedang menghindari sesuatu yang jauh lebih dalam dari sekadar rasa ingin tahu. Ia menguncinya sangat dalam dan tak ingin membiarkan Niki tau tentang hal itu.

“Vin… apa begitu sulit menjawabnya?” suara Niki melemah, bukan menuntut, lebih seperti meminta. “Ada banyak hal tentangmu yang berubah. Banyak yang sekarang tidak aku kenal. Kau seperti orang asing bagiku.”

Malvin mengatupkan rahang. Ada ketegangan tipis di bahunya, nyaris tak terlihat, tapi cukup untuk menandakan sesuatu sedang bergolak di dalam dirinya.

“Aku ambilkan air hangat.” Katanya singkat, seolah ingin menghindari Niki dan pertanyaannya.

Tanpa menunggu respons, ia melangkah ke dapur. Langkahnya terdengar lebih berat dari biasanya, seolah setiap ubin lantai mengingatkannya pada kenangan yang tidak ingin ia sentuh malam ini.

Niki tetap duduk di sofa. Satu tangannya menekan perutnya yang masih terasa melilit, jemarinya dingin. Ia tidak mengejar Malvin. Tidak mengulang pertanyaan. Tidak menyebut angka Romawi yang tadi sempat tertangkap matanya.

Namun pikirannya menolak diam.

Ia yakin, Malvin membuat tato itu dengan kesadaran penuh. Bukan sekadar hiasan tubuh. Ada makna. Ada seseorang di balik tinta itu.

Cinta pertama.

Kata itu terasa terlalu lembut untuk lelaki sedingin Malvin. Laki-laki yang penuh pertahanan.

Siapa dia?

Apakah seseorang dari masa lalu Malvin… seseorang yang hadir saat Niki pergi ke Jerman? Atau seseorang yang selama ini ia sembunyikan rapat-rapat? Sehingga Malvin enggan untuk bertemu lagi dengan Niki?

Pertanyaan itu mengendap, mengusik, sekaligus menumbuhkan kecemburuan kecil yang tak ingin Niki akui.

Malvin kembali dengan segelas air hangat. Ia meletakkannya di meja rendah di depan sofa.

“Minum.” Perintahnya pendek.

Nada itu dingin, hampir seperti perintah militer. Tapi jarak tubuhnya terlalu dekat untuk disebut acuh.

Lihat selengkapnya